Dalam sebuah forum di New York, High Level International Conference for the Peaceful Settlement of the Question of Palestine and the Implementation of the Two State Solution, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan pengakuan terhadap Palestina dan Solusi Dua Negara pada Senin (22/9/2025).
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan yang menegaskan komitmen Indonesia pada Solusi Dua Negara untuk Palestina. Dalam konferensi tingkat tinggi yang dipimpin Prancis dan Arab Saudi, ia menegaskan pentingnya menjamin berdirinya negara Palestina. Prabowo juga menawarkan langkah diplomatik signifikan: “Indonesia akan segera mengakui Negara Israel” begitu Israel mengakui kemerdekaan Palestina, bahkan siap mengirim pasukan penjaga perdamaian.
Ini bukan pertama kalinya Prabowo menyatakan bersedia mengakui Israel. Seusai pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada akhir Mei lalu, Prabowo mengatakan Indonesia akan mengakui Israel kalau mereka mengakui kemerdekaan Palestina. “Begitu negara Palestina diakui oleh Israel, Indonesia siap untuk mengakui Israel dan kami siap untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel,” kata Prabowo pada 28 Mei 2025.
Komitmen Menjaga Kemerdekaan dan Perdamian
Selain mendukung Solusi Dua Negara bagi penyelesaian konflik Palestina-Israel, Prabowo juga menyatakan kesiapan Indonesia mengirim pasukan perdamaian ke perbatasan Gaza-Israel. Menurut Prabowo, Deklarasi New York telah membuka jalan damai dan adil menuju perdamaian. Ia menyatakan pengakuan kedaulatan berarti peluang menuju perdamaian abadi. “Perdamaian itu harus nyata bagi semua pihak,” katanya.
Hubungan baik antara Indonesia dan Palestina bukanlah hal baru. Kedekatan ini telah terjalin sejak lama, berakar dari kesamaan nasib dalam menghadapi penjajahan. Ikatan tersebut semakin kuat berkat peran tokoh-tokoh penting yang mendedikasikan diri mereka bagi perjuangan bersama. Salah satu tokoh tersebut adalah Muhammad Ali Taher, seorang jurnalis Palestina yang memberikan dukungan tak ternilai untuk kemerdekaan Indonesia. Kisahnya menjadi bukti bahwa solidaritas sejati melampaui batas geografis.
Peran Jurnalis Palestina dalam Mendukung Kemerdekaan Indonesia
Kisah persahabatan antara dua bangsa ini berpusat pada sosok Mohamed Ali Eltaher, atau Muhammad Ali Taher. Lahir di Nablus, Palestina, pada 1896, ia pindah ke Kairo, Mesir, pada 1912. Di sana, ia memulai karier jurnalistik dan mendirikan tiga surat kabar, termasuk Ashoura. Kantornya, Dar Ashoura, menjadi pusat pertemuan para politisi dan pencari suaka dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Tokoh-tokoh penting Indonesia, seperti Mohamed Rashidi dan Zein Hassan Lc Lt, mengunjungi Dar Ashoura pada 1944 untuk mencari dukungan bagi kemerdekaan. Bahkan setelah proklamasi, delegasi Indonesia seperti Haji Agus Salim dan Mohammad Hatta dijamu oleh Muhammad Ali Taher. Kisah lain yang menyentuh adalah ketika ia membantu seorang mahasiswa Indonesia, Abdul Kahar Muzzakir, yang mengalami kesulitan saat studi di Mesir akibat Indonesia kala itu berada dalam fase Perang Dunia Kedu. Bantuan pribadinya ini menunjukkan kepedulian yang mendalam.
Sebuah Pengorbanan untuk Persahabatan
Kontribusi terbesar Muhammad Ali Taher terjadi setelah Agresi Militer Kedua Belanda pada 1948. Melihat kegigihan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, ia tergerak untuk memberikan bantuan yang luar biasa. Seperti yang diceritakan oleh M Zein Hassan Lc Lt, Muhammad Ali Taher menarik seluruh uangnya dari Bank Arabia dan menyerahkannya. “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia!” serunya, tanpa meminta tanda bukti.
Dukungan itu tidak berhenti di sana. Pada 1945, ia bergabung dengan Panitia Komite Pembela Indonesia, menyerukan negara-negara Arab dan Islam untuk mengakui Republik Indonesia. Kehadirannya juga terasa pada resepsi yang diadakan delegasi Indonesia pada 1947, di mana ia dengan bangga menyaksikan film Proklamasi.
Meskipun rencana Presiden Soekarno untuk memberinya penghargaan pada 1965 tidak terwujud, warisan Muhammad Ali Taher tetap hidup. Kisahnya menunjukkan bahwa hubungan antara Indonesia dan Palestina dibangun di atas dasar solidaritas, perjuangan, dan pengorbanan yang tulus. Hingga kini, semangatnya terus menginspirasi, mengingatkan kita bahwa perjuangan untuk kemerdekaan adalah nilai universal yang harus didukung. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments