Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sedikit tapi Istikamah, Inilah Amalan yang Paling Dicintai Allah

Iklan Landscape Smamda
Sedikit tapi Istikamah, Inilah Amalan yang Paling Dicintai Allah
Ilustrasi foto: OpenAI
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM

Dari Aisyah, Rasulullah saw bersabda:

احَبُّ الاعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى ادْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah SWT adalah amalan yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun hanya sedikit.” (HR. Muslim).

Alasan dicintai Allah karena amalan sedikit tapi rutin membuat ibadah terus hidup dan tidak terputus.

Membentuk Kebiasaan: Melatih hati, mendisiplinkan diri, dan meninggalkan bekas kebaikan yang stabil.

Menghindari Beban Berlebih: Mencegah rasa cepat lelah atau jenuh yang sering muncul akibat target ibadah terlalu berat di awal.

Perumpamaan Alami: Seperti tetesan air yang terus-menerus menimpa batu, lama-kelamaan akan berbekas (istiqamah mengalahkan beban sesaat).

Misalnya, membiasakan untuk melakukan salat dhuha setiap hari, walaupun hanya dua raka’at. Salat dhuha dapat dilakukan sampai delapan rakaat, namun akan menjadi lebih dicintai oleh Allah SWT jika dilakukan setiap hari walaupun hanya dengan dua raka’at, daripada delapan raka’at salat duha yang dikerjakan dengan tidak dawwam (tidak setiap hari).

Amalan yang sedikit dan dikerjakan secara terus-menerus (istiqomah) akan menjadi amalan rutinitas yang dibiasakan. Bahkan, jika seorang hamba tidak mengerjakan amalan rutinitas tersebut hatinya menolak, gundah dan terasa ada yang kurang.

Ilat atau sebab dicintainya amalan sedikit yang dilakukan secara terus-menerus ini adalah dari segi istiqomahnya. Karena jumlah yang sedikit kemudian dikumpulkan setiap hari maka akan menjadi menumpuk. Berbeda halnya dengan jumlah yang banyak namun jarang dikumpulkan.

SMPM 5 Pucang SBY

Jika dilihat berdasarkan macam atau jenis amalan (nau’), maka amalan yang paling dicintai Allah SWT adalah amalan yang wajib daripada yang sunnah.

Sedangkan, dalam hal ini dilihat dari aspek sifatnya, karakteristiknya. Dalam suatu riwayat menarasikan kisah Zainab, salah satu istri Nabi Muhammad saw, yang memanjangkan tali di antara dua tiang untuk menjadi sandaran saat bangun malam, jika lelah maka tali itu menjadi tempat untuk istirahat bersandar sebentar.

Hal tersebut dilakukan supaya selalu terbangun untuk melaksanakan salat malam setiap hari. Kemudian Rasulullah saw menanggapinya dengan bersabda bahwa amalan yang dilakukan secara terus-menerus dan dibiasakan maka akan lebih dicintai oleh Allah SWT daripada amalan baik yang dilakukan menunggu waktu-waktu tertentu kemudian ditinggalkan dan tidak dilakukan lagi di waktu berikutnya.

Rasulullah saw menekankan hal ini dengan bersabda “Wahai manusia, kerjakanlah amalan yang kamu mampu lakukan, karena sesungguhnya Allah SWT tidak akan bosan sampai kamu merasa bosan, dan ketahuilah bahwa amalan yang paling dicintai Allah SWT adalah amalan yang dikerjakan secara dawwam (terus-menerus) walaupun hanya sedikit”.

Sayyidah Aisyah juga pernah ditanya oleh sahabat “Apakah Rasulullah SAW memiliki hari-hari tertentu untuk mengerjakan amal salih?” Sayyidah Aisyah menjawab, “Tidak, amalan yang dikerjakan oleh Rasulullah saw semuanya dikerjakan terus menerus.

Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa keluarga Rasulullah SAW selalu melakukan amalan dan menjadikan amalan tersebut sebagai amalan rutinitas (mendawwamkan amalan).

Oleh sebab itu, mari bersama-sama dekatkan hati, diri dan jiwa ini kepada Pemilik alam semesta dengan menta’ati Allah SWT dan meneladani apa yang dikerjakan dan dicontohkan oleh Rasul-Nya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 13/09/2026 10:36
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu