Isu lemahnya pemahaman ideologi di kalangan generasi muda menjadi sorotan dalam Pengajian Ahad Pagi Muhammadiyah (Pagimu) yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngagel Surabaya di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya, Ahad (19/7/2026).
Pengajian bertema “Kaderisasi antara Idealitas dan Realitas Kekinian” itu menghadirkan Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah, Ust. Najih Prastiyo, S.H.I., M.H., dan diikuti ratusan warga Muhammadiyah Ngagel, mulai dari jajaran Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) hingga pengurus ranting.
Dalam ceramahnya, Ust. Najih mengingatkan agar Muhammadiyah tidak terjebak melahirkan generasi yang hanya mengikuti tradisi tanpa memiliki dasar keilmuan yang kuat.
“Kiai Dahlan dulu mendirikan Muhammadiyah itu untuk memerangi orang-orang yang tidak memahami Islam dengan dasarnya, atau umat yang taklid. Jangan-jangan hari ini kita justru melahirkan anak-anak didik yang taklid pada apa yang diwariskan orang tua tanpa tahu dalilnya,” ujar Ust. Najih.
Ia mencontohkan masih banyak kader muda yang belum memahami alasan di balik praktik ibadah yang dijalankan.
Ketika ditanya mengapa bacaan basmalah dalam salat dibaca pelan (sir) dan bukan keras (jahar), sebagian hanya menjawab karena mengikuti guru atau orang tua.
“Artinya dalam konteks ini, kita tidak sedang menyiapkan kader yang punya ilmu shalih atau ilmu yang benar,” kritiknya.
Mengutip sebuah mahfudzot (kata bijak) Arab, Ust. Najih menegaskan bahwa masa depan hanya dapat dibangun melalui sinergi antara ilmu yang benar (‘alman shalihan), ilmu yang bermanfaat (‘alman nafi’an), dan amal saleh (‘amalan shalihan).
Ia kemudian menjelaskan tiga kompetensi utama yang harus dimiliki setiap kader Muhammadiyah.
1. Etika Moralitas dan Liabilitas
Belajar dari kisah Nabi Musa AS, kader Muhammadiyah harus mengedepankan adab dalam berdakwah, mendidik, dan menyampaikan nasihat secara santun serta tepat sasaran.
2. Etika Intelektual yang Membumi
Menurutnya, kader Muhammadiyah harus memiliki pemahaman fikih yang baik, mulai dari persoalan dasar seperti thaharah hingga ibadah sehari-hari.
Selain itu, ilmu yang dimiliki juga harus peka terhadap persoalan sosial.
“Jangan sampai ada tetangga kesusahan dan tidak bisa makan, kita hanya menceramahi bahwa pendidikan itu nomor satu tanpa memikirkan bagaimana cara membantu mereka mencari solusi ekonomi,” tegasnya.
3. Elektabilitas dan Memakmurkan Masjid
Ust. Najih juga mendorong kader muda, khususnya Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan organisasi otonom Muhammadiyah lainnya, untuk kembali memakmurkan masjid.
Ia menyayangkan masih ada kader yang telah mengikuti berbagai jenjang perkaderan, tetapi belum siap menjadi imam salat ataupun penceramah di lingkungan masyarakat.
Pada akhir ceramahnya, Ust. Najih juga menyampaikan kritik konstruktif kepada institusi pendidikan Muhammadiyah.
Menurutnya, masih ditemukan kenyataan bahwa sebagian siswa yang telah menempuh pendidikan di sekolah Muhammadiyah belum memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an secara baik.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen PCM Ngagel melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kaderisasi yang dijalankan.
“Kalau kita ingin membangun kader yang kuat dan punya cara pandang yang hebat, maka kita harus menanamkan moral, menanamkan ilmu, dan menjadikan mereka orang-orang yang mampu mengaplikasikan ilmu dan moral tersebut dalam praktik kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments