Mengawali Tahun Ajaran 2026/2027, SMP Muhammadiyah 16 Surabaya (Spemnas) meluncurkan program Jam Nol Mengaji bagi seluruh guru dan karyawan. Program ini mulai diterapkan bersamaan dengan pelaksanaan tes pemetaan peserta didik baru, Kamis (16/7/2026).
Program tersebut menjadi salah satu upaya sekolah dalam memperkuat pendidikan karakter sekaligus mengimplementasikan visi Spemnas sebagai Sekolah Ahli Surga. Melalui pembiasaan membaca Al-Qur’an, sekolah berharap budaya religius semakin mengakar di kalangan guru dan tenaga kependidikan.
Koordinator Bidang ISMUBA SMP Muhammadiyah 16 Surabaya, Moh. Ilham, S.Pd., menjelaskan bahwa istilah Jam Nol Mengaji tidak mengacu pada waktu tertentu sebelum pembelajaran dimulai. Pelaksanaannya disesuaikan dengan jadwal dan kondisi masing-masing guru maupun karyawan.
“Jam Nol bukan berarti harus dilaksanakan pada pukul 08.00 WIB. Program ini bisa dilakukan setelah kegiatan belajar mengajar selesai. Yang terpenting adalah membiasakan setiap guru meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an,” ujarnya.
Untuk memastikan program berjalan secara konsisten, sekolah mengadakan kegiatan murojaah bersama setiap Jumat sebagai bentuk monitoring sekaligus pembiasaan.
“Kami berharap melalui pembiasaan ini keberkahan senantiasa hadir di sekolah. Dengan keberkahan itu, setiap kesulitan yang dihadapi dalam bekerja diberikan kemudahan oleh Allah SWT,” tambah Ilham.
Selain Jam Nol Mengaji, Spemnas juga menyiapkan sejumlah program baru untuk meningkatkan kualitas pendidikan keagamaan. Program tersebut meliputi pemetaan kemampuan mengaji peserta didik, pembiasaan berbahasa Arab, Tahfidz Estafet, hingga penerapan Kurikulum Diniyah.
Kepala SMP Muhammadiyah 16 Surabaya, Adib Adam, S.Pd., menegaskan bahwa program-program keagamaan merupakan ruh pendidikan di Spemnas.
“Program keagamaan adalah ruh sekolah kami. Sebagai Sekolah Ahli Surga, kami ingin membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki adab, akhlak, dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Islam,” tegasnya.
Menurut Adib, keberhasilan pembentukan karakter peserta didik memerlukan komitmen, kesungguhan, dan keikhlasan seluruh pendidik dalam membimbing kebiasaan-kebiasaan baik.
“Dengan kesungguhan dan keikhlasan kita dalam membimbing, insyaallah akan lahir generasi yang berkarakter mulia. Ilmu yang kita ajarkan akan menjadi amal jariyah yang kelak memberikan manfaat, meskipun hasilnya membutuhkan proses, kesabaran, dan waktu,” tuturnya.
Melalui berbagai program tersebut, Spemnas berharap mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang religius, membangun budaya literasi Al-Qur’an, serta melahirkan peserta didik yang berakhlak mulia, berilmu, dan siap memberikan manfaat bagi masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments