Di dunia ini, hubungan antara manusia yang gemar bermaksiat dan setan terlihat sangat kompak: setan membisikkan ide buruk, dan manusia menjalankannya dengan sukarela.
Namun, al-Quran dalam Surat Qaf ayat 23–30 menyajikan kenyataan pahit: sebab keakraban itu runtuh seketika di akhirat, berubah menjadi pengkhianatan emosional yang menyakitkan tepat di ambang pintu neraka. Hubungan yang tampak saling menguntungkan ternyata hanyalah jebakan yang menjerumuskan manusia.
Semua berawal ketika pengadilan Allah digelar dan malaikat menyerahkan catatan amal manusia yang penuh dosa dan pembangkangan.
Melihat keras kepalanya mereka, Allah memerintahkan malaikat penjaga neraka untuk melemparkan orang-orang kafir, keras kepala, enggan berbuat baik, dan melampaui batas ke dalam azab yang pedih.
Saat gerbang Neraka Jahannam terbuka, kepanikan massal melanda. Dalam ketakutan, manusia mencari kambing hitam dan menuduh setan sebagai penyebab kesesatan mereka.
Manusia pun mengadu di hadapan Allah, mengatakan bahwa mereka tersesat karena hasutan dan tipu daya setan. Di sinilah puncak kepedihan itu: setan yang dulu tampak ramah dan mendukung kini bersikap dingin.
Setan lepas dari tanggung jawab, menjelaskan bahwa ia tidak pernah memaksa; manusia-lah yang memilih tersesat.
Dengan nada sindiran, setan menyatakan bahwa ia hanya menaruh ide, sementara manusia-lah yang dengan sadar dan penuh kegirangan mengikutinya.
Melihat perdebatan yang sia-sia, Allah menghentikan pertengkaran itu. Allah berfirman agar mereka tak lagi saling menyalahkan, karena peringatan dan ancaman sudah disampaikan lewat para nabi dan kitab suci di dunia.
Keputusan Allah telah bulat dan tak dapat diubah; Allah tidak menzalimi hamba-Nya. Menyalahkan satu sama lain tak akan mengurangi hukuman sedikit pun.
Kisah ini ditutup dengan gambaran menakutkan: ketika Allah bertanya kepada neraka apakah ia sudah penuh, Jahannam menjawab dengan angkuh, “Apakah masih ada tambahan?”—menunjukkan betapa lapang dan tak kenyangnya neraka menampung orang-orang tersesat.
Jika ditelaah lebih jauh, penolakan setan untuk dianggap bersalah menjadi sindiran yang tajam terhadap manusia.
Setan mengingatkan melalui tindakannya yang melepas tanggung jawab karena merasa bahwa manusia telah diberi akal, hati nurani, dan petunjuk agama untuk membedakan mana perkara yang benar dan mana yang salah.
Ketika manusia mengabaikan semua itu demi ego dan hawa nafsu, maka secara kausal manusialah penyebab kehancuran dirinya sendiri.
Di sinilah letak keputusasaan para penghuni neraka, mereka harus mengakui kebenaran lawan bebuyutan mereka ketika semuanya sudah terlambat.
Pertengkaran di tepi neraka juga mencerminkan bagaimana hubungan toxic atau pertemanan buruk di dunia akan runtuh saat masalah besar datang.
Di dunia, seseorang mungkin bangga memiliki teman yang kompak melakukan keburukan, menutupi dosa bersama, atau mencemooh kebaikan. Namun pola itu meniru cara kerja setan, ketika pertanggungjawaban tiba, tak ada lagi kesetiaan. Hanya naluri untuk menyelamatkan diri dengan saling mengorbankan dan mencuci tangan.
Kisah dalam Surat Qaf memberi tamparan keras bagi kesadaran kita. Seringkali saat berbuat salah, kita mudah menyalahkan godaan setan, lingkungan, atau takdir untuk melepaskan diri dari rasa bersalah.
Padahal ayat-ayat ini mengingatkan bahwa pada akhirnya tiap orang memegang kendali atas pilihannya. Setan hanya menawarkan “brosur keburukan” Dan sejatinya kita yang menandatangani kontraknya.
Oleh karena itu, selagi hidup masih ada dan napas belum terhenti, inilah saat yang tepat untuk memutus bisikan buruk agar kita tak berakhir menyesal, meratapi nasib, dan menjadi objek cemoohan setan di akhirat.
Wallahu a’lamu bisshowaab.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments