Semangat berbagi dan kepedulian sosial kembali ditunjukkan keluarga besar SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman (SD Mumtaz) dalam momentum Hari Raya Iduladha 1447 H.
Tahun ini, sekolah berhasil menghimpun dan melaksanakan penyembelihan 8 ekor sapi dan 12 ekor kambing yang diamanahkan oleh dewan guru, keluarga guru, siswa, hingga para alumni.
Kegiatan penyembelihan hewan Kurban dilaksanakan pada hari kedua tasyrik, Kamis (27/5/2026) bertepatan dengan 11 Dzulhijjah 1447 H, di lapangan SD Mumtaz.
Program tahunan tersebut menjadi sarana pembelajaran nyata bagi siswa tentang makna keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian sosial terhadap sesama.
Di antara para pekurban tahun ini, sosok Shaqueena Adifa Almahyra menjadi perhatian. Murid kelas 4A SD Muhammadiyah 1 Taman itu kembali berkurban menggunakan uang tabungan pribadinya.
Dengan penuh semangat, Shaqueena menceritakan bahwa uang saku Lebaran yang diterimanya setiap tahun sengaja ditabung untuk membeli hewan Kurban.
“Aku memakai uang saku Lebaran untuk kurban sebagai rasa syukur atas rezeki yang Allah berikan kepada kami. Dengan hati senang, uang itu aku tabung supaya bisa berbagi dengan orang lain. Semoga banyak orang bisa menikmati berbagai masakan daging di Hari Raya Idul Adha,” tuturnya penuh semangat.
Menariknya, tahun ini menjadi tahun kelima Shaqueena ikut berkurban dari hasil tabungan uang sakunya sendiri.
Ia mengaku termotivasi oleh kedua orang tuanya yang selalu menanamkan nilai kepedulian dan kedermawanan sejak dini.
“Aku termotivasi dari Papa dan Mama yang sering bercerita tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Bapak dan Ibu guru di sekolah juga selalu menyemangati kami bahwa berbagi itu membuat hati bahagia,” tambahnya.
Ibunda Shaqueena, Ninit Lasinana, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan bahwa keluarga mereka telah rutin berkurban selama kurang lebih 10 tahun.
Ia bersyukur putrinya tumbuh dengan kesadaran sendiri untuk ikut melaksanakan ibadah Kurban.
“Kami ingin membiasakan anak menjadi pribadi yang peduli, tidak boros, suka menolong, dan tumbuh menjadi anak shalihah yang tidak pelit. Sekolah juga sangat berperan sebagai guru kedua setelah orang tua. Di SD Mumtaz, anak-anak belajar tentang kurban melalui pelajaran Al-Islam sekaligus praktik nyata melalui program kurban bersama. Itu membuat Shaqueena semakin semangat,” ungkapnya.
Guru Al-Islam SD Mumtaz juga menegaskan bahwa pembelajaran agama tidak berhenti pada teori semata, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pelajaran Al-Islam tidak hanya untuk dihafal dan dipahami, tetapi yang paling penting adalah dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Kurban adalah salah satu bentuk pembelajaran tentang keikhlasan dan ketaatan kepada Allah. Anak-anak belajar bahwa ibadah bukan sekadar teori, tetapi harus menjadi kebiasaan dan karakter,” jelasnya.
Nilai keikhlasan dalam berkurban sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surat Al-Hajj ayat 37:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging-daging hewan kurban itu dan darahnya sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat tersebut menegaskan bahwa inti ibadah Kurban bukan terletak pada besar kecilnya hewan yang disembelih, melainkan pada ketakwaan dan keikhlasan hati orang yang melaksanakannya.
Apresiasi juga datang dari Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 2 Taman, Fatchul Mubarok. Ia memberikan penghargaan atas keteladanan yang ditunjukkan Shaqueena.
“Apa yang dilakukan Shaqueena adalah contoh luar biasa. Ini bukan hanya tentang berkurban, tetapi tentang pendidikan karakter, rasa syukur, dan kepedulian sosial. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi teman-temannya untuk gemar berbagi sejak dini,” ujarnya.
Senada dengan itu, wali kelas Shaqueena, Vela Ayu Suci Maharani, S.Pd., juga mengaku bangga terhadap siswanya tersebut.
Menurutnya, nilai-nilai akhlak dan pendidikan Islam dapat tumbuh kuat ketika keluarga dan sekolah berjalan bersama dalam mendidik anak.
Momentum Iduladha di SD Mumtaz tahun ini bukan hanya menjadi kegiatan ibadah, tetapi juga ruang pembelajaran nyata tentang arti keikhlasan, pengorbanan, dan kebahagiaan dalam berbagi.
Sosok Shaqueena menjadi bukti bahwa semangat berkurban dapat tumbuh sejak usia dini, dimulai dari langkah sederhana: menabung dengan niat mulia untuk membahagiakan sesama.





0 Tanggapan
Empty Comments