Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Telur, Filantropi, dan Masa Depan Anak Negeri

Iklan Landscape Smamda
Telur, Filantropi, dan Masa Depan Anak Negeri
Oleh : drh. H. Zainul Muslimim Bendahara PWM Jawa Timur, Ketua Lazismu Jatim 2015–2022

Ada makanan yang sederhana, murah, bahkan sering dianggap remeh. Tetapi justru dari yang sederhana itulah perubahan besar kadang bermula. Telur salah satunya.

Satu butir telur ayam ukuran sedang sekitar 50 gram mengandung 75–77 kalori, 6–7 gram protein, sekitar 5 gram lemak, serta kurang dari 1 gram karbohidrat.

Di dalam telur juga terdapat berbagai vitamin dan mineral penting, seperti kolin, selenium, fosfor, vitamin A, B2, dan B12. Ada pula lutein dan zeaxanthin yang berperan menjaga kesehatan mata.

Jika telur yang kita beli rata-rata berbobot sekitar 60 gram, kandungan gizinya tentu lebih besar.

Dengan asumsi tersebut, satu kilogram telur yang berisi sekitar 16 butir bukan sekadar tumpukan bahan pangan. Ia adalah paket gizi yang relatif lengkap dengan harga yang sangat terjangkau.

Di sinilah telur menjadi menarik. Ia bukan sekadar lauk. Ia bisa menjadi bagian dari strategi membangun kualitas generasi.

Pada 5 Juli 2026, pegiat BankZiska Pusat Ponorogo menyajikan 1.000 porsi bakso dan 2.500 butir telur rebus dalam acara Hari Bermuhammadiyah Gembira yang digelar PDM Ponorogo di Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

Mengapa telur? Jawabannya sederhana: murah, bergizi, mudah disajikan, dan bisa dinikmati banyak orang.

Ketika sebuah kegiatan menghadirkan ribuan orang, pilihan menu bukan perkara sepele. Ada anggaran yang harus dihitung. Ada aspek kebersihan yang harus dijaga. Ada kemudahan distribusi yang harus dipikirkan.

Telur rebus memenuhi hampir semua pertimbangan itu Lebih jauh, pilihan tersebut memperlihatkan bahwa berbagi tidak harus selalu mahal. Justru kecerdasan dalam berbagi terletak pada kemampuan memilih sesuatu yang sederhana, tetapi manfaatnya panjang.

Harga telur ketika itu bahkan berada di kisaran Rp1.250 per butir. Harga tersebut telah berada di bawah harga pokok produksi (HPP) peternak. Angka itu menyedihkan bagi peternak. Tetapi bisa menjadi peluang bagi gerakan filantropi. Di sinilah logika berbagi menemukan dimensi baru.

Ketika kita membeli telur dari peternak rakyat untuk dibagikan kepada masyarakat, uang tidak berhenti sebagai biaya konsumsi. Ia bergerak. Dari donatur kepada penerima manfaat, tetapi sebelumnya melewati peternak. Ada ekonomi rakyat yang ikut bernapas.

Satu butir telur, dengan demikian, membawa lebih dari satu manfaat.

Memberi Makan Sekaligus Menolong Peternak

Inilah yang menarik dari telur. Dalam satu kegiatan sosial, kita bisa menghadirkan kegembiraan bagi penerima manfaat sekaligus membantu menjaga keberlangsungan usaha peternakan rakyat.

Ketika harga telur jatuh hingga sekitar Rp1.250 per butir, lalu kemudian berada di kisaran Rp1.400–Rp1.500 pada momentum Muktamar ke-35 Nahdlaltul Ulama (NU) di Jombang, pembelian dalam jumlah besar dapat menjadi bagian kecil dari upaya menyerap produksi peternak.

Muhammadiyah pernah menunjukkan bahwa dapur pelayanan sosial bukan sekadar tempat memasak makanan. Ia bisa menjadi ruang bertemunya kepedulian sosial, ekonomi kerakyatan, kesehatan, dan dakwah.

Pilihan menu telur dalam pelayanan Muhammadiyah di Muktamar ke-35NU di Jombang bahkan mendapat perhatian luas. Bukan semata karena jumlah telur yang disajikan, tetapi karena pesan yang muncul dari baliknya: Muhammadiyah hadir dengan sesuatu yang konkret.

Tidak banyak retorika. Ada makanan. Ada pelayanan. Ada kegembiraan. Dan ada manfaat yang bisa langsung dirasakan.

Telur dan Masa Depan Kecerdasan Anak

Ada alasan lain mengapa gagasan ini layak diperluas. Telur mengandung protein berkualitas dan kolin, salah satu zat gizi yang berperan penting dalam fungsi dan perkembangan otak.

Tentu, kita tidak boleh menyederhanakan persoalan kecerdasan anak hanya menjadi perkara makan telur.

Kecerdasan dibangun oleh banyak faktor: pendidikan, pola asuh, lingkungan, kesehatan, stimulasi, kualitas tidur, dan tentu saja kecukupan gizi. Namun, gizi adalah fondasinya.

Anak yang tumbuh dengan kecukupan gizi memiliki modal yang lebih baik untuk berkembang. Karena itu, jika dalam sebuah kegiatan massal kita bisa memilih makanan yang murah tetapi bergizi, mengapa tidak telur?

SMPM 5 Pucang SBY

Bukankah di situlah sesungguhnya letak kecerdasan sebuah gerakan sosial?

Bukan sekadar memberi makanan, tetapi memilih makanan yang memberikan manfaat lebih panjang.

Bukan sekadar menghabiskan anggaran, tetapi mengubah setiap rupiah menjadi manfaat berlapis. Bukan sekadar membuat acara meriah, tetapi meninggalkan sesuatu yang baik bagi mereka yang hadir.

Telur mungkin hanya sebutir. Tetapi jika diberikan kepada ribuan anak, ribuan keluarga, dan dilakukan terus-menerus, dampaknya tentu bukan lagi kecil.

Saatnya Menjadikan Telur sebagai Gerakan

Karena itu, gagasan berbagi telur layak diduplikasi dalam berbagai kegiatan Muhammadiyah yang bersifat massal maupun kolosal.

Tidak harus selalu telur rebus. Bisa telur ceplok. Bisa telur dadar. Bisa omelet. Bentuknya bisa berbeda. Pesannya sama: berbagi manfaat dengan makanan yang sederhana, bergizi, terjangkau, dan mudah disajikan.

Bayangkan jika setiap kegiatan besar Muhammadiyah menyediakan ribuan telur. Bayangkan jika setiap Pimpinan Daerah Muhammadiyah memiliki program berbagi telur.

Bayangkan jika sekolah-sekolah Muhammadiyah ikut mengembangkan gerakan pangan bergizi bagi anak-anak.

Bayangkan pula jika telur yang dibeli berasal dari peternak rakyat di daerah masing-masing.

Maka sebuah telur tidak lagi sekadar telur. Ia menjadi bagian dari ekosistem kebaikan. Peternak memperoleh pasar. Penerima manfaat memperoleh makanan bergizi. Anak-anak memperoleh asupan yang mendukung tumbuh kembangnya.

Kegiatan Muhammadiyah menjadi lebih membahagiakan. Dan dakwah terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Inilah bentuk dakwah yang tidak berhenti pada kata-kata. Dakwah yang bisa dimakan. Dakwah yang bisa dirasakan. Dakwah yang sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat.

Dari Ponorogo, Jombang, ke Seluruh Jawa Timur

Ponorogo sudah memulainya. Jombang kemudian menunjukkan bahwa gagasan sederhana bisa mendapatkan resonansi yang luas.

Lalu berikutnya ke mana? Mengapa tidak ke seluruh Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Jawa Timur?

Setiap ada kegiatan besar, mari berpikir bukan hanya tentang apa yang bisa ditampilkan, tetapi juga apa yang bisa diberikan.

Bukan hanya bagaimana acara menjadi meriah, tetapi bagaimana orang pulang membawa manfaat.

Jika dengan uang yang relatif kecil kita bisa menghadirkan kegembiraan bagi ribuan orang, membantu peternak rakyat, sekaligus menghadirkan pilihan pangan bergizi, mengapa tidak menjadikannya sebuah gerakan?

Sebab pada akhirnya, peradaban tidak selalu dibangun dari proyek-proyek besar. Kadang ia dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana. Dari sebutir telur. Lalu menjadi ribuan. Jutaan. Dan akhirnya menjadi gerakan. Telur untuk kegembiraan.

Telur untuk peternak rakyat. Telur untuk gizi anak. Dan, dalam makna yang lebih luas, telur untuk mencerdaskan anak negeri.

Bismillah. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 01/09/2026 08:48
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu