Kearifan lokal sering kali mencerminkan kedalaman budi pekerti suatu masyarakat. Di tanah Jawa, terdapat sebuah adagium sarat makna yang berbunyi, “Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman.” Warisan leluhur ini bukan sekadar ungkapan lisan pengisi waktu luang, melainkan kompas moral yang menuntun manusia untuk hidup dengan batin yang stabil, pikiran yang jernih, serta mental yang tangguh.
Berbagai khotbah, kajian, hingga literatur dakwah di lingkungan Muhammadiyah juga kerap mengadopsi falsafah tersebut. Bagi warga persyarikatan, petuah klasik ini selaras dengan napas Islam berkemajuan yang menghendaki umatnya cerdas, rasional, mandiri, dan tidak mudah goyah oleh gelombang zaman.
Menjaga Nalar dan Ketenangan Jiwa
Poin pertama dalam adagium ini adalah Ojo Gumunan, yang berarti jangan mudah merasa heran atau terpesona secara berlebihan terhadap apa pun yang tampak di permukaan. Dalam pandangan Islam berkemajuan, kekaguman buta terhadap kemilau dunia, ketenaran sesaat, atau kemewahan materi sering kali menumpulkan nalar kritis seseorang.
Ketika seseorang terlalu mudah takjub, ia menjadi lebih rentan terhadap hal-hal batil atau sekadar tipu daya visual. Muhammadiyah mendorong umat untuk memandang setiap fenomena dengan akal sehat dan tabayyun, yaitu meneliti kebenarannya. Umat juga perlu berlandaskan nilai-nilai tauhid agar tidak terseret arus tren yang dangkal.
Hidup tentu tidak selalu berjalan mulus sesuai rencana. Di sinilah relevansi Ojo Getunan, yaitu jangan mudah menyesali diri secara berlebihan ketika menghadapi kegagalan atau musibah. Sikap ini berakar kuat pada konsep ikhtiar maksimal yang kemudian disempurnakan dengan tawakal tulus kepada Allah SWT. Segala sesuatu yang telah terjadi merupakan bagian dari ketetapan-Nya dan harus menjadi bahan pembelajaran bagi manusia.
Ratapan dan penyesalan berkepanjangan justru melahirkan keputusasaan, menggerus energi positif, serta melumpuhkan semangat untuk bangkit dan memperbaiki amal saleh. Karena itu, seseorang perlu memandang kegagalan bukan sebagai ujung jalan, melainkan sebagai bahan evaluasi yang berharga.
Dunia bergerak begitu cepat dengan segala ketidakpastiannya. Karena itu, petunjuk Ojo Kagetan, atau jangan mudah terkejut dan panik menghadapi perubahan situasi, menjadi semakin krusial. Orang yang memiliki kematangan spiritual dan intelektual tidak akan mudah reaktif, tersulut emosi, atau termakan kepanikan massal ketika menghadapi ujian hidup maupun derasnya arus informasi hoaks.
Ketenangan batin lahir dari keyakinan bahwa roda kehidupan pasti berputar dan setiap keadaan dapat berubah. Seorang Muslim yang melatih mentalnya akan mampu merespons persoalan pelik dengan kepala dingin, kesabaran, serta perhitungan strategis.
Menumbuhkan Kemandirian dan Semangat Progresif
Elemen terakhir dari falsafah ini adalah Ojo Aleman, yang berarti jangan bermental manja atau suka bergantung pada belas kasih orang lain. Muhammadiyah secara konsisten menanamkan etos kerja keras, kemandirian, dan semangat progresif kepada seluruh warganya. Mentalitas kolokan atau kebiasaan meminta pertolongan untuk hal-hal yang sebenarnya dapat diusahakan sendiri bertentangan dengan semangat fastabiqul khairat, yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan.
Jiwa mandiri tidak hanya menyelamatkan seseorang dari sifat membebani sesama, tetapi juga mendorongnya untuk berkembang. Dengan kemandirian, seseorang dapat menjadi tangan di atas yang siap menolong orang lain melalui semangat ta’awun.
Menyatukan Budaya Lokal dan Nilai Islam
Pengintegrasian falsafah Jawa ke dalam ruang dakwah Muhammadiyah membuktikan bahwa Islam tidak datang untuk memusuhi budaya. Islam justru menyaring, merawat, dan mengangkat nilai-nilai luhur budaya lokal selama nilai tersebut sejalan dengan prinsip tauhid dan akhlak mulia. Melalui empat pilar adagium tersebut, umat Islam diajak menjadi pribadi moderat, berkarakter kokoh, dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh ketidakpastian zaman.
Kearifan lokal dan ajaran Islam berkemajuan dapat saling menguatkan dalam membentuk watak manusia yang matang. Pada akhirnya, perpaduan keduanya melahirkan insan mandiri yang siap menghadapi masa depan dengan penuh keyakinan dan ketenangan jiwa.





0 Tanggapan
Empty Comments