Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

AI, Informatika, dan Dakwah Berkemajuan Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
AI, Informatika, dan Dakwah Berkemajuan Muhammadiyah
Oleh : Erie Kresna Andana, S.Kom., M.T. Dosen Prodi Informatika – Fakultas Teknik Umsura

Perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan bagi kehidupan umat Islam. Dalam konteks Muhammadiyah yang selalu terbuka, dinamis, dan adaptif terhadap perkembangan zaman, kemajuan teknologi bukan merupakan ancaman, melainkan sarana untuk memperkuat dakwah, pendidikan, dan pelayanan kepada masyarakat.

Semangat Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta nilai tajdid (pembaruan) yang menjadi ciri Muhammadiyah sangat selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Allah SWT berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.” (QS. An-Nahl: 125).

Ayat ini mengajarkan bahwa umat Islam harus menjalankan dakwah dengan hikmah dan mampu mengikuti perkembangan zaman.

Pada era digital, media sosial, aplikasi, big data, dan AI dapat menjadi instrumen dakwah yang efektif apabila umat Islam menggunakannya secara bertanggung jawab dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang dapat mewujudkan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan melalui etika dalam menggunakan maupun mengembangkan teknologi.

Seorang yang memiliki kepakaran di bidang informatika harus menjaga integritas sebagai pribadi dan akademisi dalam setiap penelitian. Ia perlu menghindari plagiarisme, melindungi data pribadi pengguna, serta mengembangkan sistem yang bebas dari berbagai bentuk penyalahgunaan.

Teknologi juga harus mampu membantu memberantas atau setidaknya menyaring unsur penipuan, diskriminasi, dan berbagai tindak kejahatan dalam penyalahgunaan informasi.

Integritas dan Etika dalam Pengembangan Teknologi

Demikian pula dalam menjaga penyebaran konten di media sosial dan berbagai ruang digital lainnya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (profesional, sungguh-sungguh, dan sebaik-baiknya).” (HR. Al-Baihaqi).

Hadits ini menjadi landasan bahwa profesionalisme, kualitas, dan integritas merupakan bagian dari ajaran Islam yang harus tercermin dalam setiap karya teknologi. Karena itu, seorang akademisi atau praktisi informatika di kampus Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral yang besar. Ia harus memastikan bahwa teknologi yang dikembangkan tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga membawa kemaslahatan.

Teknologi tersebut harus menjunjung kejujuran, keadilan, dan menghormati martabat manusia. Dengan demikian, keahlian di bidang informatika dapat menjadi salah satu bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah apabila digunakan untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.

Pada era AI seperti sekarang, siapa pun dapat membuat dan menyebarkan konten daring secara mudah dan otomatis melalui berbagai platform kecerdasan buatan.

Kondisi ini membuka peluang besar, tetapi juga meningkatkan risiko munculnya konten berisi hoaks, fitnah, pornografi dan pornoaksi, ujaran kebencian, cyberbullying, serta berbagai hal negatif lainnya. Jika masyarakat tidak mengimbanginya dengan sikap tabayyun (verifikasi), tanggung jawab, dan amanah, kondisi tersebut dapat memicu rekayasa sosial yang tidak sehat.

Pada titik inilah seorang pakar informatika yang mengemban amanah sebagai warga Muhammadiyah harus memberikan teladan integritas dalam bersikap. Ia harus mencerminkan ajaran Islam tentang kejujuran sekaligus menghidupkan nilai-nilai Muhammadiyah dalam kehidupan digital. Seorang ahli informatika tidak boleh mudah terseret arus informasi negatif yang berkembang di ruang publik.

SMPM 5 Pucang SBY

Sebaliknya, ia harus mampu menjadi mediator sekaligus inovator dalam menjaga konstruksi sosial agar tetap adil, berkemajuan, dan mencerahkan. Dengan cara itu, ilmu pengetahuan di bidang informatika dapat menjadi jalan untuk menghadirkan kemajuan peradaban yang berakhlakul karimah.

AI sebagai Sarana Dakwah dan Kemaslahatan

Di sisi lain, pemanfaatan kecerdasan buatan juga dapat menjadi instrumen strategis untuk memperluas dakwah dan pelayanan sosial Muhammadiyah. AI dapat membantu mengembangkan media pembelajaran Islam yang lebih interaktif dan mendukung digitalisasi perpustakaan keislaman. Teknologi ini juga dapat mendukung analisis data dalam pengelolaan zakat, infak, dan wakaf.

Selain itu, AI mampu meningkatkan efektivitas pelayanan di sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, maupun lembaga sosial Muhammadiyah. Pemanfaatan teknologi semacam ini merupakan bentuk dakwah bil-hal, yaitu dakwah melalui karya nyata yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Sejalan dengan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh sebagian ulama). Hadits tersebut menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang Muslim tidak hanya terletak pada kecanggihan ilmunya.

Keberhasilan juga terlihat dari sejauh mana ilmu tersebut menghadirkan manfaat bagi sesama. Pemanfaatan teknologi seperti inilah yang seharusnya dikembangkan oleh kader-kader Persyarikatan. Hal ini sejalan dengan karakter Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang tidak hanya menyampaikan ajaran Islam melalui lisan, tetapi juga melalui karya nyata yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Dengan kata lain, inovasi teknologi menjadi bagian dari dakwah yang mampu menjawab tantangan dan kebutuhan umat sesuai perkembangan zaman. Pada akhirnya, pengembangan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan di bidang informatika bukan hanya tentang menghasilkan perangkat lunak atau model AI yang unggul.

Lebih dari itu, pengembangan tersebut bertujuan membangun peradaban digital yang berorientasi pada kemaslahatan. Seorang warga Muhammadiyah yang berkecimpung di bidang teknologi hendaknya memandang setiap inovasi sebagai amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Oleh sebab itu, penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan akhlak, spiritualitas, dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam berkemajuan.

Dengan sinergi antara keimanan, ilmu pengetahuan, dan inovasi, bidang informatika dan kecerdasan buatan dapat menjadi sarana strategis untuk mewujudkan cita-cita Muhammadiyah. Melalui bidang ini, Muhammadiyah dapat terus berkontribusi dalam membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak mulia, dan maju.

Teknologi tidak hanya menjadi simbol kemajuan, tetapi juga menjadi instrumen untuk menghadirkan kemaslahatan. Dengan orientasi tersebut, perkembangan informatika dan kecerdasan buatan dapat memberikan manfaat yang semakin luas bagi kehidupan manusia.

Pada akhirnya, seluruh ikhtiar tersebut diharapkan mampu menghadirkan rahmat bagi semesta alam.

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 01/09/2026 20:27
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu