Pimpinan Daerah (Pimda) 072 Tapak Suci Putera Muhammadiyah Kota Probolinggo mengirimkan tiga pendekar sebagai utusan resmi untuk mengikuti Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang diselenggarakan di Semarang, 6–9 Agustus 2026.
Muktamar XVI mengusung tema “Berakar Tradisi Menuju Tapak Suci Modern, Mandiri dan Mendunia.” Tema tersebut menjadi semangat bersama untuk memperkuat jati diri Tapak Suci sebagai perguruan yang tetap berpijak pada nilai-nilai luhur, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman hingga tingkat internasional.
Tiga utusan resmi Pimda 072 Tapak Suci Putera Muhammadiyah Kota Probolinggo tersebut adalah Samsul Arifin, M.Pd., Pendekar Kepala sekaligus Sekretaris Pimda 072; Juni Feriyanto, M.Pd., Pendekar Madya sekaligus Wakil Ketua Pimda 072; serta Nur Kholis Abadi, M.Pd., Pendekar Muda sekaligus Wakil Ketua Pimda 072.
Samsul Arifin mengatakan, ketiga utusan berangkat bersama menuju Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), lokasi penyelenggaraan Muktamar XVI. Mereka memilih kereta api sebagai moda transportasi dengan mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan selama perjalanan.
“Kami bertiga berangkat menuju Unimus Semarang, tempat perhelatan Muktamar Tapak Suci yang ke-16. Kami memilih kereta api karena lebih aman, lebih nyaman, dan badan bisa lebih santai selama perjalanan jauh,” ujar Samsul saat dihubungi oleh kontributor PWMU.CO melalui telepon.
Rombongan tiba di Stasiun Tawang Semarang sekitar pukul 02.00 dini hari. Meski tiba pada waktu dini hari, panitia telah menyiapkan penjemputan bagi para peserta.
“Alhamdulillah, panitia bisa menjemput kami tepat waktu. Terima kasih kepada panitia dari Unimus atas segala pelayanan yang luar biasa terhadap para peserta Muktamar,” ungkapnya.
Menurut Samsul, keikutsertaan sebagai peserta sekaligus utusan Pimda 072 merupakan pengalaman yang sangat berharga, baik secara organisatoris, intelektual, maupun spiritual.
Ia menyebut Muktamar XVI memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyaksikan secara langsung proses permusyawaratan organisasi di tingkat nasional. Rangkaian kegiatan mulai dari Tanwir, sidang pleno, sidang komisi, pembukaan Muktamar, hingga proses pemilihan formatur dan pimpinan menunjukkan bahwa Tapak Suci memiliki tradisi organisasi yang menjunjung tinggi musyawarah, amanah, kebersamaan, dan tanggung jawab.
“Yang sangat berkesan adalah kesempatan untuk berpartisipasi langsung dalam forum yang membahas arah organisasi, khususnya AD/ART, program kerja, rekomendasi, serta kepemimpinan organisasi untuk periode 2026–2031,” jelasnya.
Bagi Samsul, Muktamar bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, Muktamar menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan kader, pendekar, pimpinan, dan utusan Tapak Suci dari berbagai daerah.
Perbedaan latar belakang daerah dan pengalaman, menurutnya, justru menjadi kekuatan untuk membangun persaudaraan sekaligus memperluas wawasan mengenai perkembangan Tapak Suci secara nasional.
Samsul berharap berbagai keputusan yang dihasilkan dalam Muktamar XVI tidak berhenti sebagai dokumen organisasi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program nyata hingga tingkat wilayah dan daerah.
“Keputusan Muktamar hendaknya tidak berhenti sebagai dokumen organisasi, tetapi diterjemahkan menjadi program nyata sampai tingkat wilayah dan daerah,” pesannya.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan kaderisasi. Menurutnya, Tapak Suci perlu terus membangun sistem kaderisasi agar mampu melahirkan generasi penerus yang tidak hanya memiliki kemampuan pencak silat, tetapi juga mempunyai integritas, akhlak, wawasan keislaman, serta komitmen terhadap Persyarikatan Muhammadiyah.
Selain kaderisasi, Samsul berharap sinergi antara Tapak Suci dan Muhammadiyah semakin diperkuat. Dengan demikian, Tapak Suci dapat semakin optimal dalam mendukung dakwah, pendidikan, pembinaan generasi muda, dan pengembangan prestasi.
Samsul juga memberikan apresiasi kepada panitia penyelenggara Muktamar XVI yang telah mempersiapkan dan mengawal rangkaian kegiatan secara terstruktur.
Menurutnya, penyelenggaraan forum nasional dengan agenda yang kompleks, mulai dari Tanwir, sidang pleno, sidang komisi, pembukaan, hingga forum formatur, membutuhkan koordinasi, ketelitian, kedisiplinan, dan kerja sama yang tidak ringan.
“Sebagai peserta, kami merasakan bahwa keberadaan panitia merupakan salah satu unsur penting yang memungkinkan seluruh rangkaian Muktamar dapat berjalan dengan tertib dan terarah,” katanya.
Ia berharap evaluasi terhadap aspek teknis, pelayanan peserta, informasi, komunikasi, ketepatan jadwal, serta koordinasi antarpanitia dapat menjadi bahan peningkatan untuk penyelenggaraan kegiatan nasional berikutnya.
Lebih lanjut, Samsul berpesan kepada seluruh pimpinan, pendekar, kader, atlet, dan anggota Tapak Suci agar senantiasa menjaga nama baik organisasi serta menjadikan nilai-nilai Tapak Suci sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia juga berharap Muktamar XVI tidak hanya menghasilkan keputusan organisatoris, tetapi semakin memperkuat ukhuwah, solidaritas, dan kebersamaan keluarga besar Tapak Suci Putera Muhammadiyah.
“Muktamar XVI meninggalkan kesan yang mendalam sebagai forum permusyawaratan, silaturahmi, pembelajaran, dan konsolidasi organisasi. Sebagai utusan dari Pimda 072 Tapak Suci Kota Probolinggo, kami memperoleh pengalaman yang bernilai untuk kemudian dibawa pulang dan dikembangkan dalam kehidupan organisasi di tingkat daerah,” tuturnya.
Samsul menyampaikan terima kasih kepada Pimpinan Pusat Tapak Suci Putera Muhammadiyah, panitia penyelenggara, seluruh pimpinan dan peserta Muktamar, serta Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Probolinggo dan Pimda 072 Tapak Suci Kota Probolinggo atas kepercayaan dan dukungan yang diberikan.
“Semoga seluruh hasil Muktamar XVI menjadi pijakan untuk mewujudkan Tapak Suci yang semakin maju, berkemajuan, berprestasi, berkarakter, berakhlak, dan semakin kuat dalam menjalankan amanah Persyarikatan Muhammadiyah,” harapnya.
Ia menutup dengan prinsip yang menjadi ruh perjuangan Tapak Suci:
“Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah.”
Tapak Suci Jaya!





0 Tanggapan
Empty Comments