Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

UMM Buktikan Diri Sebagai Pelopor Kampus Hijau

Iklan Landscape Smamda
UMM Buktikan Diri Sebagai Pelopor Kampus Hijau
UMM Buktikan Diri Sebagai Pelopor Kampus Hijau
pwmu.co -

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan kiprahnya sebagai kampus inovasi mandiri yang konsisten menghadirkan dampak nyata dalam mewujudkan ekosistem berkelanjutan.

Melalui tata kelola sirkular yang terintegrasi, Kampus Putih sukses mengolah sisa makanan menjadi nutrisi bagi seluruh ruang terbuka hijau di lingkungan kampus. Inovasi ini dinilai mampu menyelesaikan dua persoalan sekaligus, yakni pengurangan sampah organik dan pemenuhan kebutuhan pupuk secara mandiri.

Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, MT., menegaskan bahwa sistem tersebut menjadi bentuk nyata komitmen UMM terhadap pelestarian lingkungan.

“Melalui program ini, UMM tidak hanya memangkas drastis jumlah sampah organik yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga memperkuat komitmen nyata terhadap kelestarian lingkungan,” tegas Sandi.

Sebagai kampus inovasi mandiri, UMM menerapkan tata kelola limbah berbasis ekonomi sirkular. Melalui sistem tersebut, limbah organik dari kantin dapat diolah kembali menjadi pupuk untuk kebutuhan tanaman di lingkungan kampus.

Keberhasilan program ini terlihat dari capaian pengelolaan sampah organik sepanjang tahun 2025. Total volume sampah organik yang dihasilkan di seluruh fasilitas UMM mencapai 438 ton.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 402,9 ton atau setara 92 persen berhasil diolah secara optimal melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus III.

“Kuncinya ada pada implementasi program vermikompos yang menjadi jantung dari upaya pengelolaan sampah berkelanjutan kami,” paparnya.

Siklus pengolahan sampah organik di UMM dimulai dari sisa makanan mahasiswa. Sampah organik berupa sisa makanan, sayur, dan buah dari kantin, taman, serta kebun edukasi dipilah secara ketat sebelum dicacah hingga berukuran 2–3 sentimeter.

Setelah itu, material memasuki tahap fermentasi dengan mencampurkan bahan karbon seperti sekam padi. Tingkat kelembapan dijaga pada kisaran 60–70 persen sebelum difermentasi dalam reaktor tertutup selama 7–14 hari.

Hasil fermentasi kemudian dipindahkan ke unit modular untuk proses vermikompos. Pada tahap ini, cacing tanah jenis Eisenia fetida mengurai material organik menjadi pupuk kaya nutrisi yang siap digunakan kembali.

SMPM 5 Pucang SBY

Program pengolahan sampah organik UMM juga didukung fasilitas modern hasil pengembangan kampus. Beberapa di antaranya mesin pencacah berkapasitas 200 kilogram per jam, saringan kompos 100 kilogram per jam, hingga granulator 100 kilogram per jam.

Seluruh proses dikelola oleh staf profesional untuk memastikan kualitas hasil pengolahan tetap optimal.

Setelah melalui proses selama 40–60 hari, kompos organik berkualitas tinggi siap dipanen dan dimanfaatkan untuk taman kampus, kebun edukasi, hingga lahan pertanian mitra.

Tak hanya menghasilkan kompos, limbah spesifik kantin seperti kulit sayur dan buah juga diolah menjadi cairan eko-enzim.

Melalui program edukatif yang dijalankan setiap hari di UMM Edupark, kampus ini mampu memproduksi lebih dari 5 liter cairan eko-enzim per hari.

Keberhasilan mengolah 92 persen sampah organik menjadi bukti bahwa operasional kampus berskala besar dapat berjalan harmonis dengan alam.

Sebagai kampus inovasi mandiri yang berdampak, capaian tersebut semakin menegaskan posisi UMM di garda terdepan dalam aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Melalui inovasi ini, UMM tidak hanya merawat lingkungan kampusnya sendiri, tetapi juga membangun cetak biru inspiratif bagi institusi pendidikan lain di Indonesia menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Revisi Oleh:
  • Satria - 11/05/2026 13:30
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡