Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperluas kontribusinya dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat. Melalui riset, inovasi, dan program pengabdian, Kampus Putih menghadirkan solusi untuk penanganan stunting, kemiskinan ekstrem, pengembangan ekonomi desa, hingga membangun kerja sama internasional melalui pendirian Halal Center di Tiongkok.
Komitmen tersebut ditegaskan Wakil Rektor IV UMM Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Menurutnya, arah riset dan inovasi yang dikembangkan Kampus Putih kini berfokus pada penyelesaian persoalan riil yang dihadapi masyarakat dan dunia industri, bukan semata-mata menjawab kebutuhan akademik.
“Kita sekarang mengarahkan agar persoalan yang diangkat itu berangkat dari persoalan riil masyarakat atau industri, bukan sekadar gap dari literatur saja,” ujarnya seperti rilis resmi UMM, (Rabu 3/6/2026).
Pendekatan tersebut melahirkan berbagai kolaborasi strategis yang memberikan manfaat luas. Di tingkat nasional, UMM bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam kajian pengelolaan tambang berkelanjutan serta penyusunan standar bahasa isyarat bagi penyandang disabilitas.
Sementara itu, di level internasional, UMM memperluas jejaringnya dengan mendirikan Halal Center di Fuzhou University, Tiongkok. Kehadiran pusat halal tersebut diharapkan dapat membuka peluang bagi lulusan UMM untuk berkiprah dalam pengembangan dan sertifikasi halal di tingkat global.
Di sisi lain, program pengabdian masyarakat yang dijalankan UMM juga disusun berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM, Dr. Salahudin, M.Si., MPA., menjelaskan bahwa setiap program diawali dengan pemetaan masalah sosial agar solusi yang diberikan benar-benar tepat sasaran.
“Program pengabdian kepada masyarakat itu tidak berangkat dari ide universitas, tetapi berangkat dari permasalahan masyarakat. Karena itu, sebelumnya kami melakukan mapping problem sosial,” jelasnya.
Strategi tersebut diterapkan dalam berbagai program pemberdayaan, termasuk upaya menekan angka stunting dan kemiskinan ekstrem di NTT. Melalui pendekatan berbasis kebutuhan masyarakat, UMM berupaya memastikan setiap intervensi memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Kontribusi UMM juga terlihat dalam pengembangan ekonomi dan lingkungan di berbagai daerah. Kampus ini berhasil mendorong pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Sumber Maron, mendukung transformasi kawasan wisata Jodipan, serta mengembangkan sistem green farming pada lahan terasering di Tabanan, Bali.
Berbagai inisiatif tersebut bahkan mengantarkan UMM memperoleh pengakuan sebagai mitra UNESCO. Untuk menjaga keberlanjutan program-program tersebut, mahasiswa diterjunkan langsung ke tengah masyarakat dengan bekal kompetensi yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Selain menguasai bahasa Indonesia, mahasiswa juga didorong menguasai bahasa asing dan bahasa pemrograman (coding) agar mampu beradaptasi serta memberikan kontribusi yang lebih luas di tingkat nasional maupun global.
Melalui riset, inovasi, dan pengabdian yang berbasis pada kebutuhan masyarakat, UMM menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga motor penggerak perubahan yang memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments