Keseimbangan hidup dunia dan akhirat tidak berarti membagi kehidupan secara matematis antara urusan dunia dan ibadah. Keduanya justru harus berjalan beriringan sehingga kesalehan kepada Allah melahirkan kepedulian dan kemanfaatan bagi sesama.
Pesan tersebut disampaikan Ustaz Abdul Basith, Lc., M.Pd.I., Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, dalam Pengajian Rutin Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tulangan, Ahad (9/8/2026).
Pengajian yang mengangkat tema “Keseimbangan Hidup Dunia-Akhirat” itu berlangsung di Masjid At-Taubah, PRM Kedurus, Dusun Kedurus RT 03/RW 04, Desa Kepatihan, Kecamatan Tulangan, Sidoarjo.
Dalam kajiannya, Abdul Basith mengawali dengan menjelaskan keutamaan menghadiri majelis ilmu. Menurutnya, berkumpul di masjid untuk membaca, mempelajari, dan mengkaji Al-Qur’an merupakan bagian dari amal yang mendapatkan perhatian dan rahmat Allah.
Ia mengingatkan, ilmu yang diperoleh dari majelis pengajian tidak boleh berhenti pada pengetahuan.
“Ilmu yang dipahami harus diamalkan,” pesan Abdul Basith dalam kajiannya.
Dunia dan Akhirat tidak Dipertentangkan
Abdul Basith kemudian mengajak jamaah memahami konsep keseimbangan dunia dan akhirat secara tepat. Menurutnya, keseimbangan bukan berarti seseorang membagi waktunya menjadi 50 persen untuk dunia dan 50 persen untuk akhirat.
Sebaliknya, kehidupan dunia harus dijalani dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap berada dalam orientasi akhirat.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan firman Allah dalam QS Al-Qashash ayat 77 yang memerintahkan manusia mencari kebahagiaan negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah, tanpa melupakan bagian kehidupan di dunia.
Ayat tersebut, lanjutnya, sekaligus mengajarkan manusia untuk berbuat baik dan tidak melakukan kerusakan di muka bumi.
“Jangan memahami kehidupan akhirat dengan meninggalkan dunia. Dunia harus dijalani, tetapi orientasi akhirnya tetap kepada Allah,” jelasnya
Menurut Abdul Basith, bekerja, mencari nafkah, membangun usaha, dan memenuhi kebutuhan keluarga dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan cara yang halal dan diniatkan karena Allah.
Karena itu, seseorang yang telah mendapatkan ilmu agama justru harus semakin baik dalam menjalankan pekerjaan dan tanggung jawabnya.
Kesalehan Pribadi harus Melahirkan Kesalehan Sosial
Salah satu penekanan penting dalam ceramah tersebut adalah mengenai hubungan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial.
Abdul Basith mengingatkan, seseorang tidak cukup hanya rajin salat, berpuasa, membaca Al-Qur’an, atau aktif mengikuti pengajian apabila kepeduliannya terhadap orang lain masih rendah.
Menurutnya, kualitas keberagamaan seseorang juga dapat dilihat dari sejauh mana keberadaannya memberikan manfaat bagi orang lain.
Ia kemudian mengisahkan keteladanan Umar bin Khattab. Sebagai seorang pemimpin, Umar tidak hanya melihat kesalehan dirinya, tetapi juga mengevaluasi apakah masyarakat benar-benar merasakan manfaat dari kepemimpinannya.
Ketika seorang perempuan tua mengaku tidak merasakan secara langsung kepedulian Umar setelah menjadi pemimpin kaum Muslimin, Umar tidak marah. Kritik tersebut justru menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan kepada masyarakat.
Kisah tersebut, menurut Abdul Basith, memberikan pelajaran penting bahwa kesalehan harus dapat dirasakan oleh lingkungan sekitar.
“Jangan hanya menjadi orang yang saleh secara pribadi. Kesalehan itu harus bisa dirasakan manfaatnya oleh orang lain,” pesannya.
Keluarga adalah Bagian dari Ibadah
Keseimbangan hidup, lanjut Abdul Basith, juga menyangkut kemampuan seseorang menjalankan tanggung jawab terhadap keluarga.
Jangan sampai seseorang begitu bersemangat menjalankan ibadah atau aktivitas sosial, tetapi melupakan kebutuhan istri dan anak-anaknya. Menafkahi keluarga, mendidik anak, mendampingi pasangan, serta menciptakan rumah tangga yang baik merupakan bagian dari tanggung jawab yang bernilai ibadah.
Dengan demikian, keluarga tidak seharusnya dipandang sebagai penghalang seseorang untuk mendekat kepada Allah.
“Menafkahi keluarga juga bagian dari ibadah ketika diniatkan karena Allah,” tegasnya.
Amal Usaha Muhammadiyah harus menghadirkan pelayanan terbaik. Dalam konteks Muhammadiyah, Abdul Basith juga mengingatkan pentingnya menjaga orientasi akhirat dalam mengelola amal usaha Muhammadiyah (AUM).
Sekolah, rumah sakit, klinik, maupun berbagai lembaga pelayanan Muhammadiyah, menurutnya, harus menjadi sarana menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat. Orientasi akhirat tidak cukup hanya diwujudkan dalam niat, tetapi harus terlihat melalui pelayanan yang profesional, ramah, berkualitas, dan benar-benar dirasakan masyarakat.
Karena itu, menurutnya, orientasi akhirat dan ikhtiar dunia tidak boleh dipisahkan. Niat yang baik harus diikuti dengan kerja keras dan pelayanan terbaik.
Akhlak Menjadi Cermin Keseimbangan
Hal lain yang tidak kalah penting adalah akhlak. Abdul Basith mengingatkan bahwa hubungan baik dengan Allah seharusnya tercermin dalam hubungan baik dengan manusia.
Ia mengajak jamaah membiasakan diri tersenyum, ramah, menghormati orang lain, tidak menyakiti perasaan, mampu mengendalikan diri, serta senantiasa berusaha memberikan manfaat.
Sebelum berbicara atau melakukan sesuatu, seseorang juga perlu mempertimbangkan dampaknya.
“Apakah yang saya lakukan ini akan merugikan diri sendiri atau orang lain?” menjadi pertanyaan yang perlu hadir sebelum seseorang bertindak.
Dengan demikian, ukuran kebaikan tidak hanya berhenti pada benar atau salah, tetapi juga bagaimana cara menyampaikan dan melakukannya tanpa menyakiti orang lain.
Abdul Basith juga mengingatkan jamaah agar memiliki kemampuan mengendalikan diri ketika menghadapi persoalan.
Menurutnya, satu masalah jangan sampai melahirkan masalah baru karena seseorang tidak mampu mengendalikan emosi. Sabar bukan berarti menyerah terhadap keadaan. Sabar adalah kemampuan menjaga diri tetap stabil sambil mencari jalan keluar terbaik.
Ketika mendapatkan perlakuan tidak baik, seseorang tidak harus membalas dengan keburukan. Sebaliknya, ia perlu mencari cara agar keadaan menjadi lebih baik. Sikap tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan keseimbangan dalam kehidupan.
Menjadi Muslim yang Membawa Rahmat
Pada bagian akhir kajian, Abdul Basith mengajak jamaah menjadikan kehidupan sebagai ruang untuk memperkuat hubungan dengan Allah sekaligus memperluas manfaat kepada sesama.
Kesalehan, menurutnya, tidak semestinya membuat seseorang menjauh dari kehidupan sosial. Justru semakin baik hubungan seseorang dengan Allah, semakin baik pula akhlak dan kepeduliannya terhadap manusia.
Prinsip tersebut sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW sebagai rahmatan lil ‘alamin, membawa rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, kehidupan dunia dan akhirat tidak perlu dipertentangkan.
Hubungan dengan Allah diperkuat, pekerjaan dilakukan dengan sungguh-sungguh, keluarga diperhatikan, sesama dibantu, lingkungan dijaga, dan akhlak terus diperbaiki. Itulah keseimbangan hidup yang ditekankan Abdul Basith: tidak meninggalkan dunia demi akhirat dan tidak mengorbankan akhirat demi dunia.
Pada akhirnya, keberhasilan seorang Muslim bukan hanya tentang seberapa banyak ibadah yang dilakukan secara pribadi, tetapi juga seberapa besar kehadirannya mampu menghadirkan kebaikan dan manfaat bagi orang lain. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments