Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Yudisium dan Kuliah Pakar FKIP UM Surabaya: Deep Learning dan AI untuk Pendidikan Bermakna

Iklan Landscape Smamda
Yudisium dan Kuliah Pakar FKIP UM Surabaya: Deep Learning dan AI untuk Pendidikan Bermakna
Yudisium dan kuliah pakar FKIP UM Surabaya. (Humas FKIP UM Surabaya/PWMU.CO)
pwmu.co -

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) melaksanakan kegiatan Kuliah Pakar dan Yudisium mahasiswa semester genap tahun akademik 2024/2025. Kegiatan tersebut mengambil tema “Deep Learning dan AI untuk Pendidikan: Merancang Pembelajaran yang Berdampak”, Sabtu (11/10/2025).

Pada kegiatan ini hadir sebagai narasumber kuliah pakar yaitu Prof. Dr. H. Biyanto, M.Ag. (Staf Ahli Bidang Regulasi & Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen). Turut hadir Wakil Rektor Bidang Keuangan, Aset, dan Infrastruktur Dr. Endah Hendarwati, S.E., M.Pd. dan Dekan FKIP UM Surabaya Achmad Hidayatullah, Ph.D beserta jajarannya serta seluruh dosen di lingkungan FKIP UM Surabaya.

Dalam laporannya Sri Lestari, S.Pd., M.Hum selaku ketua pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan yudisium ini dilaksanakan sebagai bentuk pengesahan kelulusan mahasiswa yang telah menyelesaikan semua proses akademik di FKIP UM Surabaya.

Selain itu, kegiatan kuliah pakar diberikan kepada mahasiswa sebagai bekal bagi mahasiswa dalam meningkatkan wawasan akademik dan profesionalitasnya sebagai calon guru. Dijelaskan lebih lanjut bahwa peserta yudisium semester genap tahun akademik 2024/2025 berjumlah 125 mahasiswa.

Koding, AI, dan Deep Learning

Sementara Achmad Hidayatullah, Ph.D dalam sambutannya menyinggung tema yang diangkat panitia yaitu tentang koding, AI, dan pembelajaran mendalam.

Dalam penjelasannya ia menyampaikan tiga pertanyaan kritis berkaitan dengan AI atau chatgpt, pertama apakah chatgpt itu menyalakan lonceng kematian berpikir kritis?, kedua apakah chatgpt memperburuk situasi dan kondisi pendidikan tinggi? dan ketiga apakah chatgpt dapat mengalihkan manusia dari naluri kemanusiaannya.

“Nah untuk menjawab pertanyaan tersebut terdapat jawaban alternatif yaitu kita tidak boleh terlalu optimis terhadap AI dan juga tidak boleh terlalu pesimis terhadap AI,” tuturnya.

Bagaimana kemudian agar menghindari krisis di tingkat universitas, maka perguruan tinggi harus bertransformasi dan meningkatkan ekspektasi. Selanjutnya adalah bahwa engagement sangat berpengaruh terhadap prestasi tetapi yang menjadi persoalan adalah menilai engagement sangat sulit dilakukan.

“Implementasinya di lingkungan sekolah atau lembaga pendidikan berupa menerapkan konsep pembelajaran mendalam. Di mana dalam pelaksanaannya terdiri dari 3 prinsip utama yaitu pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan,” jelas Dayat.

SMPM 5 Pucang SBY

Sementara wakil rektor II UMSurabaya Dr. Endah Hendarwati, SE., M.Pd menjelaskan sebagai calon guru maka mahasiswa FKIP UM Surabaya, khususnya yang saat ini mengikuti yudisium harus mampu menjadi teladan, pembimbing, pendengar dan pembelajar sepanjang hayat.

“Dari tangan guru karakter dan masa depan bangsa akan terbentuk. Dari suara dan sikap guru tertanamlah nilai-nilai dari generasi ke generasi,” tuturnya.

Ia berpesan, sebagai guru nantinya agar senantiasa menggunakan kekuatan untuk menciptakan solusi dan inovasi, membangun konektifitas, dan memberikan kontribusi untuk bangsa dan negara dengan menjadi agen perubahan.

Pentingnya Pendekatan Pembelajaran Mendalam

Sementara Prof. Dr. H. Biyanto, M.Ag. dalam materinya menyoroti pentingnya reformasi pendidikan menghadapi tantangan abad ke-21. Indonesia masih tertinggal dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi menurut hasil PISA 2022, sehingga diperlukan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning).

“Pendekatan ini menekankan proses belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui integrasi olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik. Tujuannya membentuk profil lulusan dengan delapan dimensi, termasuk keimanan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi,” jelasnya.

Prof. Biyanto menekankan peran guru sebagai kunci dalam menciptakan ekosistem belajar yang humanis, kolaboratif, serta berbasis teknologi digital dan kecerdasan artifisial. Pendidikan bermutu, katanya, merupakan investasi strategis bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pengentasan kemiskinan menuju Visi Indonesia Emas 2045. (*)

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu