Perkembangan teknologi digital tidak harus menjadi ancaman bagi pendidikan Al-Qur’an. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkuat interaksi anak-anak dengan Al-Qur’an, baik dalam membaca maupun menjaga hafalan.
Pesan tersebut disampaikan Drs. H. Zayyin Chudlori, M.Ag. saat memberikan tausiah pada Wisuda Munaqasyah Tahfidzul Quran Angkatan XII SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat), Sabtu (13/6/2026).
Dalam tausiahnya, Zayyin menegaskan bahwa tantangan terbesar setelah wisuda tahfidz bukanlah menambah hafalan, melainkan menjaga hafalan yang telah dimiliki. Karena itu, ia mendorong para siswa untuk memanfaatkan teknologi secara positif sebagai media murajaah atau mengulang hafalan Al-Qur’an.
Menurutnya, perkembangan teknologi saat ini justru memberikan kemudahan bagi umat Islam untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an. Berbagai aplikasi digital memungkinkan anak-anak membaca dan mengulang hafalan kapan saja tanpa harus selalu membawa mushaf cetak.
“Sekarang Al-Qur’an sudah masuk ke dalam gawai. Anak-anak bisa membuka dan membaca Al-Qur’an kapan saja. Teknologi harus dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Al-Qur’an,” ujarnya.
Ia mencontohkan pengalamannya saat melihat seorang pelajar yang sedang duduk sendirian di pusat perbelanjaan. Ketika diperhatikan, ternyata anak tersebut sedang membuka aplikasi Al-Qur’an melalui telepon genggamnya, bukan bermain gim maupun media sosial.
Bagi Zayyin, fenomena tersebut menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi sarana yang efektif untuk menumbuhkan kedekatan generasi muda dengan Al-Qur’an apabila digunakan secara bijak.

Selain menyoroti pemanfaatan teknologi, Zayyin juga menepis anggapan bahwa pendidikan tahfidz dapat mengurangi prestasi akademik siswa. Menurutnya, kemampuan menghafal Al-Qur’an justru dapat berjalan beriringan dengan capaian akademik yang baik.
Ia menilai pendidikan Al-Qur’an dan pendidikan akademik bukan dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat saling menguatkan dalam membentuk karakter dan kemampuan intelektual peserta didik.
“Jangan sampai ada anggapan bahwa tahfidz akan mengurangi prestasi akademik. Justru Al-Qur’an menjadi fondasi yang kuat bagi perkembangan ilmu pengetahuan,” katanya.
Zayyin menambahkan, banyak ilmuwan Muslim besar yang memulai proses pembelajarannya dengan Al-Qur’an. Salah satu tokoh yang ia sebut adalah Ibnu Sina, ilmuwan Muslim yang dikenal luas melalui kontribusinya dalam bidang kedokteran dan filsafat.
Menurutnya, sebelum mendalami berbagai cabang ilmu pengetahuan, Ibnu Sina terlebih dahulu mempelajari dan menghafal Al-Qur’an sejak usia muda. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur’an dapat menjadi dasar bagi lahirnya kecerdasan dan tradisi keilmuan.
“Dalam sejarah Islam, banyak ilmuwan besar yang berangkat dari pendidikan Al-Qur’an. Karena itu, Al-Qur’an tidak menghambat perkembangan ilmu, tetapi justru menjadi fondasinya,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengutip kisah Nabi Yahya dalam Al-Qur’an sebagai contoh bagaimana kedekatan dengan wahyu dapat melahirkan kecerdasan dan kebijaksanaan sejak usia dini. Menurutnya, pendidikan Al-Qur’an bukan hanya bertujuan membentuk kemampuan membaca dan menghafal, tetapi juga membangun karakter, kedisiplinan, dan kecerdasan anak.
Oleh sebab itu, ia berharap para wisudawan tidak berhenti pada capaian wisuda semata. Hafalan yang telah dimiliki harus terus dijaga, ditingkatkan, dan dijadikan bekal untuk meraih prestasi di berbagai bidang kehidupan.
Menurut Zayyin, Muhammadiyah tidak hanya ingin melahirkan generasi yang mampu menghafal Al-Qur’an, tetapi juga generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kita ingin anak-anak menjadi dokter, insinyur, ilmuwan, guru, maupun pemimpin yang tetap menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya,” tuturnya.
Melalui penguatan pendidikan Al-Qur’an sejak usia dini, ia optimistis akan lahir generasi Qurani yang tidak hanya unggul secara spiritual, tetapi juga mampu berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments