Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

6 Fakta Ketua Pertama PWM Jatim

Iklan Landscape Smamda
6 Fakta Ketua Pertama PWM Jatim
pwmu.co -

Perubahan MP PB menjadi PMW juga diikuti dengan perubahan tajam dalam struktur kepemimpinan Muhammadiyah. Sebab, sejak saat itu PMW resmi diizinkan melengkapi dengan Badan Pembantu Pimpinan berupa Majelis dan Lembaga. Putusan Muktamar 1965 di Bandung,  mengamanatkan kepada Majelis Tanwir yang telah diberi wewenang oleh Muktamar uintuk menyempurnakan struktur organisasi dan Anggaran Dasar Muhammadiyah.

Salah satunya adalah perubahan organisasi yang berjenjang mulai Pusat, Wilayah, Daerah, Cabang, dan Ranting. Khusus PMW, struktur ini ditingkatkan menjadi pimpinan yang bersifat operasional dengan kelengkapan majelis-majelisnya, berkedudukan di ibukota Provinsi. Struktur organisasi itu pula yang hingga kini bertahan dalam kepemimpinan PWM.

2. Inisiator Pembentukan PWM Jatim

Cikal bakal lahirnya PWM Jatim itu terjadi melalui sebuah musyawarah di Kantor Masyumi Jl. Peneleh 18 Surabaya (27-28 Oktober 1951). Peran Abdulhadi cukup penting ketika menjadi motor, bersama tokoh Muhammadiyah Jatim lainnya, dalam pembentukan MP PB Muhammadiyah, model struktur cikal PWM. Abdulhadi sendiri, saat itu tercatat sebagai Ketua MP PB eks Karesidenan Surabaya dan Bojonegoro sejak tahun 1942.

Terpilihnya H. Abdul Hadi sebagai Ketua Majelis Perwakilan PB Wilayah Jawa Timur ini membuat Perwakilah PB Muhammadiyah Daerah eks Karesidenan Surabaya dan Bojonegoro, juga berubah. Maka melalui sebuah musyawarah, ditetapkanlah H.M. Saleh Ibrahim sebagai Ketua MP PB Surabaya-Bojonegoro periode 1952-1955.

Hasil dari musyawarah di Jl. Peneleh 18 Surabaya merupakan inisiatif murni kader-kader Muhammadiyah Jatim. Keputusannya adalah menunjuk Abdulhadi sebagai Ketua, dibantu anggota Nurhasan Zain, Dr M. Soewandhie, M. Saleh Ibrahim dan Rajab Gani. Kepengurusan tersebut akhirnya disahkan oleh PB Muhammadiyah dengan SK no 180D tertanggal 1 Jumadil Akhir atau bertepatan 27 Februari 1952. Surat Keputusan tersebut sekaligus mengakui keberadaan perwakilan PB Muhammadiyah Jatim.

Menurut almarhum Nurhasan Zain, musyawarah tersebut berlangsung dengan penuh kekeluargaan. Pemilihan Abdulhadi lebih didasari faktor ketokohan serta senioritasnya dibanding yang lain. “Forum itu murni digagas dan dilaksanakan kader-kader Muhammadiyah Jatim. Pimpinan forum, ya Pak Abdulhadi.”

Abdulhadi pula yang menjadi tokoh sentral dalam mengumpulkan para tokoh Muhammadiyah dari berbagai Karesidenan di Jatim itu. Tentu bukan cara mudah untuk mengumpulkan mereka yang berdomisili dari Malang, Besuki, Madiun, Madura, dan Kediri, ketika alat transportasi dan komunikasi masih sangat terbatas.

3. Ubah Genteng Scout Jadi Genteng Muhammadiyah

Peran Abdulhadi lainnya, terkait keberhasilannya mengganti nama Jl. Genteng Scout menjadi Jl. Genteng Muhammadiyah. Perubahan itu penting sekali mengingat jalan tersebut memiliki arti historis terkait dengan keberadaan amal usaha Muhammadiyah pertama yang berupa sekolahan.

Memang tak gampang merintis berdirinya sebuah lembaga pendidikan baru. Ibarat petani mengerjakan ladangnya, sangat diperlukan tenaga ekstra. Bermandi peluh, membanting tulang, serta memeras otak demi mencapai hasil yang diinginkan. Dalam catatan sejarah, di jalan inilah SD Muhammadiyah untuk pertama kali didirikan pada tahun 1927. Termasuk di lokasi ini pula berdiri SMP Muhammadiyah yang pertama pada tahun 1958.

SMPM 5 Pucang SBY

Sayangnya, SD Muhammadiyah 1 itu sekarang sudah tidak ada. Lantas mengapa untuk SMP-nya justru SMP Muhammadiyah 2 Surabaya? Bukan SMP Muhammadiyah 1 layaknya sekolah yang pertama kali berdiri?

Ceritanya, administrasi kependidikan pada tahun 1950-an, apalagi sebelum tahun itu, belum setertib sekarang. Alkisah, pada tahun 1958, Muhammadiyah memperoleh hibah dari pemerintah berupa gedung sekolah di Jl Kapasan. Pemberian ini disertai dengan persyaratan; dalam batas waktu tertentu harus sanggup mencari murid sehingga proses belajar mengajar dapat segera terlaksana.

“Karena khawatir pemberian tadi dibatalkan bila tidak dapat memenuhi persyaratannya, maka dibawalah murid-murid dari sekolah Genteng untuk menempati sekolah di Kapasan,” jelas sesepuh Muhammadiyah Genteng, Nuraini.

Banyak keunikan yang terjadi pada saat itu. Selain hijrahnya para murid, tambah Nuraini, juga soal penetapan status sekolah secara resmi. “Setelah diurus perijinannya secara resmi, maka ditetapkan bila sekolah di Jl Kapasan sebagai SMP Muhammadiyah 1 Surabaya. Sedang yang di Jl Genteng Muhammadiyah 28, sebagai SMP Muhammadiyah 2 Surabaya,” imbuh ibu yang juga sesepuh SMP Muhammadiyah 2 Surabaya.

Apapun itu, yang jelas, di Jl Genteng Muhammadiyah inilah pertama kali amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan didirikan pada 1927. Sangat wajar jika jalan di tempat itu pun dirubah menjadi Jl. Genteng Muhammadiyah dari yang sebelumnya Genteng Scout.

4. Saudagar yang Pro-Rakyat Miskin

Sebagai orang asli Pekalongan, sangat wajar bila dalam diri Abdulhadi mengakar kuat jiwa enterpreneur. Pekalongan pada masa kecil Abdulhadi merupakan daerah yang cukup penting dalam peta perekonomian. Setelah dewasa, ia hijrah ke Surabaya yang kemudian menetap di kawasan Utara Surabaya, tepatnya di Jl. Nyamplungan. Meski demikian, toko yang didirikannya sebagai penopang hidup keluarga dan juga Persyarikatan berada di Jl Sasak, Surabaya.

selanjutnya halaman 03…

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 22/05/2026 08:07
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu