Dia membuka toko kain sarung dan batik yang cukup sukses dan ramai dikunjungi warga Surabaya. Maklum saja, karena kualitas berbagai produk yang ditawarkan sangat baik, sedangkan harganya relatif murah. Toko tersebut juga menjadi tujuan bagi para pedagang daerah lain, terutama untuk mendapatkan batik pekalongan yang kala itu terkenal kualitasnya. Tentu dengan harga yang murah.
Selain itu, Abdulhadi juga berkomitmen besar untuk mengembangkan sitem ekonomi yang pro kerakyatan. Hal ini dibuktikannya dengan menggagas mendirikan sebuah koperasi pada masa penjajahan Belanda, bersama Anjarsoenjoto. Badan usaha bersama tersebut diberi nama Koperasi Islam Surabaya, yang bertempat di rumah Anjarsoenjoto, Jl. Nyamplungan Gang I.
Sayangnya, keberadaan koperasi tersebut tidak bertahan lama. Hal ini lebih disebabkan pada faktor geografis, di mana letak koperasi tersebut relatif jauh dari tempat tinggal anggotanya, sedangkan pada masa itu transportasi tidak seperti saat ini. Selain itu juga disebabkan kurangnya perhatian dari anggotanya, juga dikarenakan bentuk usaha koperasi masih belum banyak dipahami oleh masyarakat pada zaman itu.
5. Politisi Lurus nan Gigih
Pekalongan menjadi pusat perhimpunan kaum pribumi yang bertekad melawan dominasi politik penjajah, sebagai bagian dari upaya mencapai kemerdekaan bangsa. Dengan latar belakang pekembangan dan dinamika ekonomi-politik seperti itu, Abdulhadi dibesarkan. Background tersebut ternyata cukup melekat kuat dalam sanubarinya.
Wajar bila kemudian dalam kiprahnya, Abdulhadi cukup mendalami persoalan ekonomi dan politik secara sinergis. Kedua sisi yang sering tidak sejalan ini ternyata mampu dikelola dengan baik serta diimplementasikan secara tepat dalam konteks Muhammadiyah maupun dalam konteks kenegaraan. Tidak heran jika dia selain dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah, dia juga dikenal sebagai tokoh Partai Masyumi di Surabaya. Bahkan tercatat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Daerah (sekarang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Surabaya.
Fenomena lainnya terkait peran ketokohan Abdulhadi sebagai politisi adalah gagasannya agar Muhammadiyah terlibat secara aktif dalam kancah politik. Gagasan tersebut ternyata sempat dilontarkan dalam forum Muktamar 1953. Menurut Nurhasan Zain yang juga karibnya, pendapat itu dilatarbelakangi oleh keinginan Abdulhadi agar Muhammadiyah dapat lebih mudah mencapai tujuannya.
“Sekarang sudah zamannya bersepak bola dengan memakai sepatu. Kalau Muhammadiyah bermain bola masih cekeran (tidak bersepatu), maka kaki kita akan diinjak-injak oleh mereka yang bermain bola dengan bersepatu,” kata Abdulhadi seperti ditirukan oleh Nurhasan.
Usulan tersebut tidak disetujui, karena Muhammadiyah tetap kukuh untuk berprinsip tidak berpolitik. Artinya, Muhammadiyah tetap berpegang teguh pada khitahnya, Muhammadiyah tetap Muhammadiyah, dan tidak akan berpolitik. Namun demikaian, Abdulhadi tetap setia mengabdi dalam Persyarikatan. Tidak ada sedikitpun kekecewaan dalam dirinya, karena baginya beda pendapat adalah hal yang wajar, sehingga bila pendapatnya tidak digunakan, maka tidak seharusnya memisahkan diri.
6. Wafat dan Dimakamkan di Pekalongan
Abdulhadi cukup lama mempimpin MP PB Muhammadiyah Provinsi Jatim. Tepatnya sejak tahun 1950 hingga 1959, atau tiga periode. Yaitu 1950-1953, 1953-1956, dan 1956-1959. Barulah pada periode 1959-1962, –meski pergantian baru terjadi pada tahun 1960– dia sebenarnya masih ikut dalam kepemimpinan Muhammadiyah Jatim. Namun, untuk posisi ketua, dia digantikan oleh M. Saleh Ibrahim, yang diamanahi sebagai Ketua MP PP Muhammadiyah Jatim selama dua periode: 1959-1962 dan 1962-1965.
Setelah menyelesaikan kepemimpinan di Muhammadiyah Jatim, terutama saat menjadi anggota MP PP, Abdulhadi mulai jarang tinggal di Surabaya. Konon, dia kembali ke kampung halamannya di Pekalongan untuk menikmati masa tuanya. Wafat dan dimakamkan di tanah kelahirannya.





0 Tanggapan
Empty Comments