Maju mundurnya suatu kaum atau peradaban sangat bergantung pada kualitas individu di dalamnya. Oleh karena itu, cita-cita membangun peradaban yang besar harus selalu dimulai dari penggemblengan kapasitas individu.
Pesan menggugah tersebut disampaikan oleh Ketua Bidang Ekonomi Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah, Abdul Musawir Yahya, dalam Pengajian Akbar Majelis Ahad Pagi Kyai Haji Ahmad Dahlan di Masjid At Taqwa, Kota Batu, Ahad (9/8/2026).
Mengawali tausiyahnya, mantan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini mengutip firman Allah dalam al-Quran Surat Ar-Ra’d ayat 11 tentang perubahan nasib suatu kaum. Ia menyoroti penggunaan kata anfus yang berarti jiwa atau individu dalam ayat tersebut.
“Menurut beberapa tokoh, idealnya dalam struktur bahasa Arab, frasa itu kembali kepada kaumnya. Tetapi Allah tidak menyebut seperti itu, karena Allah seakan ingin menegaskan bahwa satuan terkecil dari kaum adalah individu. Sebuah kelompok tidak akan berubah kalau nafs atau individunya tidak berubah,” terangnya.
Perubahan pada level individu tersebut, lanjutnya, mencakup perubahan pada pikiran, perasaan, hingga tindakan.
“Kita di Muhammadiyah ini jangan pernah bermimpi membuat perubahan besar kalau kita tidak pernah menggembleng individu kita, dan itu harus dimulai sejak dini,” tegasnya.
Ia kemudian membedah sejarah kejayaan Islam yang dibangun oleh Rasulullah SAW selama 23 tahun. Proses kaderisasi yang melahirkan generasi tangguh seperti Umar bin Khattab dan para sahabat lainnya, berhasil menjadikan Islam sebagai peradaban yang sangat berpengaruh dan disegani di dunia.
Ia mengambil contoh peradaban Islam di Andalusia. Dahulu, wilayah tersebut berhasil diselamatkan dan dikuasai oleh penguasa Islam karena kebijakan pemerintah sebelumnya yang tidak pro-rakyat. Kejayaan Islam di Andalusia akhirnya mampu bertahan hingga 800 tahun.
“Jika Islam tidak runtuh di sana, pemain Timnas Spanyol Lamine Yamal mungkin bukan satu-satunya orang Islam yang bermain di Spanyol saat ini,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan mengapa peradaban besar itu akhirnya runtuh. Hal ini dikarenakan individu-individunya mulai tergerus.
Ilmu pengetahuan tidak lagi diperhatikan, kebijakan pajak ditinggikan hingga menyengsarakan rakyat, para pemimpin sibuk berpesta, dan terjadi saling khianat di internal.
“Peradaban hancur bukan karena pihak luar terlalu kuat, tapi karena internal kita yang terlalu lemah,” ungkapnya.
Diakhir, ia mengingatkan kembali tujuan penciptaan manusia sebagaimana termaktub dalam Surah al-Baqarah, yakni menjadi khalifah di muka bumi. Tugas utama khalifah adalah menciptakan peradaban yang berlandaskan pada kelompok yang kuat.
“Kelompok itu bisa kuat ketika ada sumber daya manusia yang unggul. Dan yang harus diunggulkan untuk membangun peradaban itu adalah ilmu pengetahuan. Mukmin yang kuat jauh lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah,” tutupnya.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments