Sebanyak 80 peserta mengikuti Pelatihan Jurnalistik bertajuk “Suara Perempuan Berkemajuan Mengemas Gerakan Aisyiyah Lewat Tulisan” yang diselenggarakan Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, di Mojosari, Sabtu (5/9/2026).
Peserta terdiri dari perwakilan guru KB dan TK Sang Surya yang tergabung dalam IGABA serta ibu-ibu pengurus Cabang Aisyiyah se-Kabupaten Mojokerto.
Pelatihan berlangsung menarik dan interaktif. Tidak sekadar mendapatkan teori jurnalistik, peserta juga diajak mempraktikkan secara langsung bagaimana sebuah peristiwa atau kegiatan dapat diolah menjadi tulisan yang menarik, informatif, dan bernilai berita.
Dalam pelatihan tersebut, Muhammad Tanwirul Huda, S.Sos. bertindak sebagai pemateri dengan bantuan Wildan Nanda Rahmatullah. Tanwirul Huda mengajak peserta mengenal jurnalistik lebih dekat, mulai dari menemukan ide tulisan, menggali fakta, menentukan sudut pandang, hingga menyusun artikel.
Muhammad Tanwirul Huda menjelaskan bahwa jurnalistik tidak hanya berkaitan dengan aktivitas menulis. Menurutnya, seorang penulis jurnalistik harus mampu melihat sebuah peristiwa, menggali informasi, memastikan fakta, kemudian mengemasnya menjadi tulisan yang mudah dipahami pembaca.
“Jurnalistik itu bukan sekadar menulis. Ada proses mencari, mengolah, dan menyampaikan informasi kepada pembaca,” jelasnya.
Peserta juga diajak memahami unsur-unsur berita serta cara membuat tulisan yang mampu menjawab pertanyaan dasar pembaca mengenai sebuah peristiwa.
Penjelasan tersebut semakin menarik karena peserta tidak hanya duduk mendengarkan materi. Mereka langsung diberi kesempatan mencoba membuat artikel berdasarkan kegiatan yang mereka ikuti.
Suasana pelatihan semakin hidup. Peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi. Diskusi dan tanya jawab berlangsung hangat, diselingi praktik menulis yang membuat peserta semakin aktif.
Menariknya, semangat peserta justru semakin terlihat ketika acara memasuki penghujung kegiatan. Mereka semakin berani menuangkan gagasan, bertanya, berdiskusi, serta mencoba memperbaiki tulisan yang telah dibuat.
Praktik langsung menjadi bagian yang menghidupkan suasana. Peserta belajar bahwa pengalaman mengikuti berbagai kegiatan Aisyiyah sebenarnya menyimpan banyak bahan tulisan yang dapat dikemas menjadi berita maupun artikel inspiratif.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didorong untuk tidak berhenti menjadi pelaksana kegiatan, tetapi juga mampu menjadi pencerita gerakan.
Berbagai aktivitas Aisyiyah di bidang pendidikan, sosial, dakwah, pemberdayaan perempuan, serta kegiatan kemasyarakatan diharapkan dapat terdokumentasikan dengan baik melalui tulisan.
Pelatihan ini menjadi momentum untuk menumbuhkan budaya literasi di lingkungan Aisyiyah Kabupaten Mojokerto. Sebab, gerakan yang besar membutuhkan dokumentasi dan publikasi agar manfaatnya dapat diketahui lebih luas.
Dengan kemampuan jurnalistik, para perempuan Aisyiyah diharapkan mampu mengubah setiap aktivitas menjadi tulisan yang tidak hanya informatif, tetapi juga memberikan inspirasi dan menggerakkan pembaca.
Semangat 80 peserta dalam mengikuti pelatihan menjadi gambaran bahwa perempuan berkemajuan tidak hanya hadir untuk bergerak, tetapi juga siap mengabadikan gerakannya melalui tulisan.
Dari kegiatan ini diharapkan lahir penulis-penulis baru dari lingkungan Aisyiyah Kabupaten Mojokerto yang mampu menyuarakan berbagai gerakan positif melalui karya jurnalistik.
Karena setiap gerakan memiliki cerita, dan setiap cerita layak menjadi jejak yang dibaca generasi berikutnya.





0 Tanggapan
Empty Comments