Di sinilah kisah yang sesungguhnya baru dimulai.
Selama ini, latihan Syifa lebih banyak tertuju pada nomor tunggal—dunia jurus, tempat gerak tubuh diukir seindah mungkin dalam kesunyian, tanpa lawan yang menyerang, tanpa pukulan yang harus dielakkan.
Di nomor inilah ia paling percaya diri, dan di sinilah pula ia membuktikan diri dengan mengumpulkan 50 poin, angka yang sempat mengantarkannya ke posisi juara 2 sementara sebelum seluruh hasil pertandingan rampung dihitung.
Namun di ajang provinsi ini, poin dari nomor tunggal dan nomor tanding sama-sama diakumulasikan untuk menentukan peringkat akhir. Artinya, jalan Syifa menuju podium tidak bisa berhenti hanya di atas panggung jurus yang selama ini menjadi rumahnya.
Ia harus turun pula ke nomor tanding—sebuah dunia yang asing baginya, sebuah medan yang belum pernah ia pelajari tekniknya secara khusus.
Bayangkan berdirinya seorang anak di depan lawan yang siap menyerang, sementara di dalam dadanya berkecamuk rasa takut dan cemas yang begitu wajar—takut akan pukulan yang belum pernah ia latih cara menangkisnya, cemas akan tendangan yang belum pernah ia pelajari cara menghindarinya.
Namun di titik itulah, keajaiban sesungguhnya terjadi. Syifa tidak mundur. Ia melangkah maju, menembus rasa takutnya sendiri, dan berdiri di atas matras tanding dengan kepala tegak, meski tanpa bekal teknik yang matang seperti lawan-lawannya.
Ia kalah di pertandingan itu. Tidak ada tambahan poin yang bisa ia bawa pulang dari nomor tanding. Dan ketika hasil akhir diumumkan, posisinya yang semula juara 2 sementara pun bergeser menjadi juara 3—bukan karena poin tunggalnya berkurang, sebab 50 poin itu tetap sama dari awal hingga akhir, melainkan karena pesaing lain berhasil menambah poin dari kemenangan tanding yang tak sempat ia raih.
Namun jika hadiah sejati hanya diukur dari podium, maka kisah ini akan kehilangan bagian terindahnya. Sebab hadiah terbesar bagi Syifa bukanlah medali perunggu yang tersemat di lehernya, melainkan keberanian yang telah ia taklukkan jauh sebelum wasit meniup peluit pertama.
Keberanian untuk melangkah ke ranah yang belum pernah ia kuasai, keberanian untuk tetap berdiri meski gentar, dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang sama sekali baru tanpa jaminan akan menang.
“Perjalanan ini penuh peluh, harapan, dan doa,” ujar Syifa mengenang prosesnya. Kalimat sederhana yang menyimpan makna jauh lebih dalam dari sekadar hasil akhir sebuah pertandingan.
Justru di situlah letak keindahan kisah ini. Bahwa juara sejati bukan hanya mereka yang menguasai setiap teknik dengan sempurna, melainkan juga mereka yang berani berdiri di medan yang belum mereka kenal, dan pulang dengan kepala tetap tegak meski harus menerima kekalahan.
Rasa takut yang berhasil ditaklukkan Syifa hari itu, jauh lebih berharga daripada sekadar angka di papan skor, sebab dari sanalah lahir seorang pesilat yang sesungguhnya: bukan yang tak pernah kalah, melainkan yang berani mencoba meski tahu bisa kalah.
Dari seorang siswi yang dulu hanya dipilih ikut ekstrakurikuler, kini Syifa telah mengharumkan nama SMP Muhammadiyah 5 Tulangan hingga tingkat provinsi.
Dan kisahnya baru saja dimulai, sebab di balik setiap rasa takut yang pernah ia taklukkan, selalu ada semangat baru untuk kembali berlatih, kembali berjuang, dan kembali bermimpi lebih tinggi. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments