Semangat kebersamaan, tanggung jawab, dan kepemimpinan mewarnai hari keempat pelaksanaan MPLS Ramah bertema “Srawung Bocah Riangtara” di SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik, Kamis (16/7/2026).
Melalui rangkaian kegiatan Estafet Game, pembuatan yel-yel kelas, hingga pembentukan perangkat kelas dan Tim 10K, siswa kelas II diajak belajar nilai-nilai demokrasi sejak usia dini.
Kegiatan diawali dengan Estafet Game di halaman sekolah yang dipandu Ketua Jenjang Kelas II, Nurul Mahmudiyah, S.Pd. Para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan mengikuti berbagai tantangan secara bergantian. Suasana penuh keceriaan tampak saat setiap kelompok saling menyemangati untuk menyelesaikan setiap pos permainan.
Menurut Nurul Mahmudiyah, permainan tersebut dirancang sebagai media pembelajaran untuk menanamkan nilai kerja sama sebelum anak-anak belajar tentang kepemimpinan.
“Melalui estafet game, anak-anak belajar bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh satu orang, melainkan hasil kerja sama seluruh anggota tim. Nilai saling percaya, komunikasi, dan kepedulian inilah yang ingin kami tanamkan sebagai bekal mereka menjadi pemimpin di kelas,” ujarnya.
Usai permainan, masing-masing kelas membuat yel-yel dengan slogan dan gerakan kreatif yang mencerminkan identitas kelas. Kegiatan ini tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan antarsiswa sejak awal tahun ajaran.
Selanjutnya, siswa mengikuti proses pembentukan perangkat kelas secara demokratis di kelas masing-masing dengan pendampingan guru kelas. Melalui musyawarah, mereka mengusulkan calon ketua kelas, memilih wakil ketua, sekretaris, bendahara, hingga menyusun kepengurusan kelas yang akan bertugas selama satu tahun pelajaran.
Selain perangkat inti, setiap kelas juga membentuk Tim 10K yang terdiri atas bidang Keagamaan (Religion), Keamanan (Safety), Ketertiban (Discipline), Kerapian (Neatness), Keteladanan (Role Model), Kekeluargaan (Kinship), Keramahan (Hospitality), Kesehatan (Healthy), Kebersihan (Cleanliness), dan Keindahan (Beauty). Tak hanya itu, dibentuk pula Cleaning Team yang bertanggung jawab menjaga kebersihan dan kerapian kelas secara bergiliran.
Dengan pembagian peran tersebut, setiap siswa memperoleh kesempatan untuk berkontribusi sesuai minat dan kemampuannya. Kepemimpinan pun tidak hanya dimaknai sebagai tugas ketua kelas, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga kelas.
Guru Kelas II Ladybug, Rizki Rahman, S.Pd.I., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal menanamkan nilai demokrasi kepada peserta didik.
“Anak-anak belajar bahwa demokrasi dimulai dari hal-hal sederhana. Mereka bermusyawarah, mengusulkan calon, menghargai pendapat teman, menerima keputusan bersama, dan memahami bahwa setiap amanah harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Kami ingin mereka menyadari bahwa setiap anak adalah pemimpin sesuai peran yang diembannya,” tuturnya.
Salah seorang siswa kelas II Firefly, Tanzeela Naureen Zahrany, mengaku senang dapat mengikuti proses pemilihan perangkat kelas.
“Aku senang karena kami boleh memilih ketua kelas bersama-sama. Setelah itu kami juga memilih tugas masing-masing. Semua teman punya pekerjaan, jadi kami bisa saling membantu supaya kelas tetap bersih, rapi, dan menyenangkan,” ungkapnya.
Melalui rangkaian kegiatan hari keempat MPLS Ramah, SD Muhammadiyah Manyar tidak hanya mengenalkan proses demokrasi kepada peserta didik, tetapi juga menanamkan nilai kepemimpinan, tanggung jawab, dan gotong royong melalui pengalaman belajar yang menyenangkan.
Semangat “Srawung Bocah Riangtara” pun terus diwujudkan melalui berbagai aktivitas yang dekat dengan kehidupan anak. Sejak hari-hari pertama sekolah, para siswa tidak hanya dikenalkan dengan lingkungan belajar yang baru, tetapi juga dibimbing menjadi pribadi yang percaya diri, peduli, serta siap memberikan kontribusi positif bagi kelas dan sekolah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments