Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 21

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 21

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″,  Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 46, 47, 48, dan sebagian 49.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 20

***

Halaman 46

Jika benar pernyataan Bung Karno, “… saya tatkala berusia 15 tahun telah buat pertama kali berjumpa dan terpukau – dalam arti

Halaman 47

yang baik – oleh almarhum Kyai Haji Ahmad Dahlan,(15) itu berarti terjadi pada 1916. Surabaya pada tahun itu sudah mulai tersentuh oleh paham pembaharuan tentang Islam lewat tabligh K.H. Ahmad Dahlan. Sebelumnya (1915), seorang pemuda terpelajar bernama H. Mas Mansur sepulang dari Mesir dan Mekah telah menemuinya di Jogjakarta. Kesan yang terasa pada diri Mansur adalah, “Baru saja berkenalan, hati tertarik, baru saja keluar kata yang lemah lembut dari hati yang ikhlas, hati pun tunduk.”(16)

Pendirian dan paham K.H. Ahmad Dahlan tentang umat dan agama Islam dikemukakan oleh K.H. Mas Mansur sebagai berikut: a. Alat untuk memperbaiki umat itu hanyalah Qur’an dan Hadits; b. Umat dikembalikan kepada Tauhid; c. Umat dibawa kepada kehidupan sepanjang kemauan agama Islam; d. Ilmu pengetahuan tidak boleh dipencilkan dan ditinggal di belakang;

e. Dalam hal yang bersangkutan dengan ibadat, kembalikan kepada nash agama, tidak boleh dikurangi atau dilebihi; f. Selain soal ibadat, orang harus berpedoman kepada maslahat dan madlaratnya; g. Agama tidak hanya sembahyang semata, melainkan orang hidup di dunia juga harus memperhatikan apa yang terjadi di sekeliling kita (tahu benar akan keadaan tempat dan masa).(17) Barangkali karena paham yang demikian itu, tabligh-tabligh K.H. Ahmad Dahlan dikategorikan

Halaman 48

oleh Bung Karno sebagai “regeneration dan rejuvenation dari pada Islam.”(18)

SMPM 5 Pucang SBY

K.H. Mas Mansur telah melihat dan merasakan secara langsung dari sumber atau pusat “gerakan tajdid” di Mesir selama dua tahun. Ia juga melihat langsung suatu pondok di desa Syanggit, yang terletak di tengah-tengah Benua Afrika. Pondok ini mempunyai murid sekitar 5.000 orang dengan kurikulum terpadu, agenda harian dan mingguan yang jelas, tetap dan terarah. Pondok ini sering menghasilkan beberapa orang menjadi ulama, birokrat dan berbagai tenaga profesional.(19)

Sesuai dengan gelora jiwanya, pengetahuan dan pengalamannya di Mesir dan Desa Syanggit, sekembalinya dari Mesir tahun 1915, K.H. Mas Mansur langsung menggabungkan diri ke dalam pergerakan Syarikat Islam (SI). Bersama para ulama muda di Surabaya, ia aktif mendirikan lembaga pendidikan, yaitu Nahdlatul Wathan.(20)

Tokoh ulama muda tersebut adalah H. A. Wahab Hasbullah yang telah terlebih dahulu mendirikan kursus perdebatan yang diberi nama Tashwirul Afkar. Melalui lembaga itu terjadi perdebatan (dialog) antara H. Abdul Wahab Hasbullah dengan K.H. Mas Mansur yang baru pulang dari Mesir. Dialog itu menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama Jam’iyah Nahdlatul Wathan (NW), yang mendapat kedudukan sebagai Badan Hukum pada 1916.

Jam’iyah itu bertujuan memperluas dan mempertinggi mutu pendidikan madrasah-madrasah secara teratur. Atas nama NW berdirilah sebuah sekolah yang modern dan indah, bertempat di kampung Kawatan Gg. IV Surabaya, yang dipimpin oleh K.H. Mas Mansur. Sekolah itu dengan cepat meluas ke Wonokromo, Gresik, Jagalan, Pacarkeling dan lain-lain, meskipun dengan nama yang berbeda-beda, seperti Ahlul Wathan, Hidayatul Wathan, dan Khitabatul Wathan.(21)

Pada 1916, K.H. Mas Mansur untuk kali kedua datang ke rumah K.H. Ahmad Dahlan di Jogjakarta. Pada kesempatan ini pertemuan keduanya berlangsung lebih lama. Melalui pembicaraan yang bersifat dialogis, K.H. Mas Mansur lebih mendalami kepribadian, ilmu, pendirian dan faham K.H. Ahmad Dahlan. K.H. Mas Mansur tampaknya amat terkesan dengan kepiawaian K.H. Ahmad Dahlan

Halaman 49

dalam menafsirkan al-Qur’an, yang dinilai sangat cermat, sehingga keterangannya hebat dan dalam serta tepat. Inilah kepiawaiannya yang melebihi ulama-ulama lainnya. K.H. Mas Mansur berpendapat, kesabarannya tentang hal ini memang luar biasa, membekas kepada segala yang ditegakkannya, dan itu pulalah yang memantapkan hati dan pendiriannya.(22)

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 04/06/2026 16:06
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu