Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 51

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 51

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab IV berjudul “Muhammadiyah Masa Pergolakan (1942-1956)”, sebagian halaman 125, 126, dan 127.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 50

***

Halaman 125

Pada peristiwa Pemberontakan PKI Madiun, Cabang Muhammadiyah yang paling banyak menjadi korban adalah Ponorogo. Sebab, daerah ini adalah basis utama pasukan PKI. Banyak tokoh Muhammadiyah gugur dibantai PKI, belum lagi para anggota dan simpatisan lainnya, seperti Sedyawiyadi dan Mardiutomo. Keduanya guru Muhammadiyah. Mulyodinomo dan Muhammad Bisri, keduanya pengurus Pemuda Muhammadiyah, juga tewas dibantai PKI. Dari kalangan hartawan Muhammadiyah yang menjadi tulang punggung Muhammadiyah, Rahmat Syahid, juga gugur dalam pemberontakan itu.{88}

Trauma yang sangat mendalam akibat pemberontakan PKI benar-benar dirasakan oleh Cabang Muhammadiyah Ponorogo. Peristiwa kebiadaban PKI tahun 1948 itu sulit dilupakan. Tidak sedikit tokoh-tokoh yang sangat berwibawa, terdiri dari para da’i terkemuka dan para pemikir Persyarikatan, gugur akibat disiksa dan dibantai oleh PKI.{89}

Pengurus dan anggota Muhammadiyah Ranting Sumoroto dibabat habis. Hanya seorang pemuda bernama Suparno yang berhasil lolos dari maut. Akibatnya, Ranting Muhammadiyah Sumoroto lumpuh dan sulit bangkit kembali.{90} Masjid Muhammadiyah Dar al-Hikmah yang sering disebut sebagai masjid Duwur, karena tinggi, dirampas pasukan PKI. Sekolah yang menggunakan lantai bawah masjid itu ditutup. Dokumen-dokumen termasuk naskah sejarah Muhammadiyah Ponorogo yang disusun

Halaman 126

oleh Sedyowiyadi, dibakar. Lantai atas masjid itu digunakan PKI untuk rumah tahanan. Tokoh dan aktivis Muhammadiyah, partai politik dan organisasi Islam lainnya serta para kyai, termasuk K.H. Imam Zarkasyi, pengasuh Pondok Modern Gontor, bersama santri-santrinya, ditahan di masjid itu. Sedangkan lantai bawah masjid dijadikan Pos Komando PKI.

Pada saat PKI hendak mengeksekusi para pemimpin partai, organisasi Islam dan kyai serta santri, datang pasukan Siliwangi menyerbu pasukan pemberontak PKI yang bermarkas di masjid itu.{91}

Setelah pemberontakan PKI di Madiun dan sekitarnya dapat ditumpas, perjuangan menghadapi agresi Belanda bertambah berat, karena sebagian kekuatan dan stamina perang dipakai untuk menghadapi PKI. Namun demikian, berkat dukungan seluruh lapisan masyarakat, akhirnya perjuangan melawan tentara Belanda yang bersenjata lengkap itu berhasil. Melalui perjuangan fisik dan diplomasi, akhirnya Belanda menyerahkan kedaulatan daerah Jawa Timur kepada Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Timur pada 27 Desember 1949.{92}

SMPM 5 Pucang SBY

  1. Gerak Organisasi dan Amal Usaha

Masa perang menghadapi Sekutu, agresi Belanda I dan II, serta pemberontakan PKI Muso-Amir Syarifuddin di Madiun dan sekitarnya, adalah masa perjuangan hidup atau mati. Perjuangan selama lebih kurang lima tahun itu tidak hanya melibatkan TNI, tetapi juga melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk para pemimpin dan anggota Muhammadiyah.

Akibatnya, Muhammadiyah Jawa Timur tidak dapat berkembang. Banyak aset dan amal usaha yang tidak terurus karena berada di daerah yang dikuasai tentara Belanda atau berada di daerah perang. Yang dapat dilakukan para Pengurus Muhammadiyah di Ranting dan Cabang di daerah aman adalah merawat dan mempertahankan aset dan amal usaha yang masih ada.

Daerah Surabaya. Di bidang sosial, Muhammadiyah Surabaya mengelola Panti Asuhan Anak Yatim (PAY) yang sudah ada sejak masa penjajahan Belanda. Panti tersebut diasuh oleh M. Saleh

Halaman 127

Ibrahim dan Abdillah. Kemudian pada masa agresi I dan II PAY dipindahkan ke Blitar dan digabung dengan PAY Blitar pimpinan Khusairi. PAY itu baru dikembalikan ke Surabaya dan berfungsi kembali setelah adanya pengakuan kedaulatan dari Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia (1949). Lokasi baru PAY tersebut terletak di kampung Carikan, yang sekarang berada di Jalan Gresikan.

Balai Kesehatan Muhammadiyah (BKM), pada masa awal kemerdekaan, dipimpin dr. Khusnul Yakin. BKM ini sempat tidak beroperasi akibat revolusi fisik, namun kembali berfungsi pada 1 Nopember 1949, dan tetap dipimpin dr. Khusnul Yakin. BKM yang diberi nama “BKM Mas Mansur” ini memiliki nilai historis karena keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari tokoh-tokoh awal Muhammadiyah seperti KH. Mas Mansur, KH. Mas Alwi dan KH. Faqih Usman. Bahkan BKM tersebut tak bisa dilepaskan dari inspirasi tokoh kebangkitan nasional, Dr. Soetomo.

Gresik. Di Gresik, sekolah-sekolah yang didirikan pada masa pendudukan Jepang masih bernama Sekolah Rakyat 1 Muhammadiyah. Pada masa kemerdekaan berkembang menjadi dua, yaitu Sekolah Rakyat 1 Muhammadiyah dan SMP Muhammadiyah. Berdirinya Sekolah Rakyat 6 tahun berawal pada 1 Agustus 1947, dan berlokasi di Pasar Sore. Tokoh-tokoh yang menjabat sebagai Kepala Sekolah antara lain Juwariyah, Suprihati, Sumardiyah, dan Anwar Hudaya.{93}

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 29/06/2026 10:41
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu