Pasca hengkangnya Belanda dari Indonesia, gerakan dakwah Muhammadiyah Magetan terus bergelora. Era tahun 1950-an adalah tahun sangat istimewa bagi sejarah perkembangan Muhammadiyah. Khususnya melalui ibu-ibu yang tergabung dalam Aisyiyah. Berdiri Taman Kanak-kanak (TK) yang dikenal dengan TK Aisyiyah Mburi Mejid.
Dalam catatan sejarah, TK ini menjadi amal usaha yang berdiri mendahului struktur organisasi. Tercatat berdiri pada 1 Agustus 1950, zaman ketika organisasi perempuan Muhammadiyah itu belum berdiri di Magetan. Tapi ibu-ibu Aisyiyah mampu merintis lembaga formal, TK Aisyiyah.
TK Aisyiyah Magetan berdiri dan beroperasional atas inisiatif beberapa orang yang peduli terhadap pendidikan anak usia dini. TK Aisyiyah berdiri di atas lahan wakaf keluarga ibu Kusmiyah. Saat itu kondisi serba terbatas dan sarana prasarana seadanya.
Masyarakat sering menyebutnya sebagai TK Mburi Mejid, yang artinya TK di belakang masjid. Sebab TK ini terletak dibelakang Masjid Agung Baitussalam Magetan. Sebutan itu bahkan terus disematkan sampai sekarang.
Dalam suatu kesempatan, PWMU.CO bertemu ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Magetan, Umi Roisati (2/3/2023). Dia bercerita bahwa TK Aisyiyah Magetan merupakan cikal bakal amal usaha Aisyiyah.
“TK Aisyiyah 1 Magetan merupakan embrio dari seluruh amal usaha yang dimiliki Aisyiyah dan sekaligus dulu sebagai pusat kegiatan Aisyiyah, “ katanya saat itu.
“Di TK Aisyiyah ini pula dulu pernah didirikan Kursus Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak atau KPG TK yang dilaksanakan pada sore hari. Lulusan KPG TK Aisyiyah ini dulu banyak yang diangkat menjadi PNS, “ tambah Umi Roisati.

Jika tanah TK itu berasal dari Kusmiyah, maka penggerak penyelenggaraan TK itu bernama Siti Maimunah. Dalam sejarah Muhammadiyah Magetan, ia adalah penggerak berdirinya Aisyiyah serta penggas berdirinya TK Aisyiyah Magetan.
Siti Maimunah sendiri adalah istri Kusmen, sesepuh dan tokoh sentral menegakkan agama Allah SWT melalui persyarikatan Muhammadiyah. Bersama rekannya Wajib Dwijo Atmojo, keduanya adalah bagian dari program anak panah Muhammadiyah.
Oleh Pengurus Besar –sekarang Pimpinan Pusat—Muhammadiyah, Kusmen dan Wajib Dwiji dikirim untuk mengembangkan dan memperkuat paham Muhammadiyah di Magetan. Keduanya merintis Muhammadiyah ke Magetan melalui wilayah Barat dan Gorang Gareng (Kawedanan). Dan, itu semua atas perintah Penguruas Besar Muhammadiyah pada era akhir tahun 1930-an.





0 Tanggapan
Empty Comments