Pengabdian kepada masyarakat tidak selalu diwujudkan melalui kegiatan berskala besar. Di Desa Tamanprijek, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STAIM Paciran memilih berkontribusi melalui pendampingan pendidikan keagamaan.
Sejak 7 hingga 27 Agustus 2026, mahasiswa KKN STAIM Paciran terlibat dalam kegiatan mengajar di dua Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), yakni TPQ Ainul Ulum pada waktu subuh dan TPQ Miftahul Ulum pada sore hari. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa mendampingi para santri dalam membaca Al-Qur’an, memperbaiki bacaan, menambah hafalan, hingga mempelajari ilmu agama melalui kitab.
Dampingi Santri di Waktu Subuh
Pada waktu subuh, mahasiswa KKN mendampingi kegiatan belajar di TPQ Ainul Ulum Tamanprijek. Para santri mengikuti pembelajaran dengan membaca Al-Qur’an, memperbaiki bacaan, dan menyetorkan hafalan yang telah dipelajari.
Suasana pagi yang tenang menjadi ruang bagi mahasiswa dan santri untuk memulai hari dengan kegiatan yang bernilai spiritual.
TPQ Ainul Ulum juga memiliki konsistensi dalam menjalankan kegiatan mengaji. Pembelajaran tetap berlangsung setiap hari tanpa mengenal hari libur. Khusus Jumat, kegiatan mengaji dilakukan secara bersama-sama tanpa setoran hafalan.
Konsistensi tersebut menjadi bagian dari upaya pengelola TPQ dalam menjaga keberlangsungan pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak di Desa Tamanprijek.
Kepala TPQ Ainul Ulum sekaligus Moden Desa Tamanprijek, Muji’an, menyambut baik keterlibatan mahasiswa KKN dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran mahasiswa memberikan bantuan berarti bagi proses pembelajaran santri.
“Kami merasa senang dengan adanya mahasiswa KKN yang ikut membantu membimbing anak-anak di TPQ. Sejak bertahun-tahun, belum ada mahasiswa yang ikut serta secara langsung dalam mendampingi dan membimbing anak-anak di sini,” ujarnya.
Ia berharap pendampingan mahasiswa dapat meningkatkan semangat santri dalam belajar Al-Qur’an.
“Kehadiran mahasiswa tentu sangat membantu, terutama dalam membaca Al-Qur’an dan hafalan. Semoga dengan adanya pendampingan ini anak-anak semakin semangat mengaji dan kegiatan seperti ini bisa memberikan manfaat bagi mereka,” imbuh Muji’an.
Belajar Al-Qur’an dan Kitab
Pendampingan mahasiswa kemudian berlanjut pada sore hari di TPQ Miftahul Ulum yang dikelola Faqih. Berbeda dengan TPQ Ainul Ulum, pembelajaran di tempat tersebut tidak hanya berfokus pada membaca dan menghafal Al-Qur’an.
Para santri juga mendapatkan pembelajaran kitab sebagai bagian dari pendidikan keagamaan. Melalui pembelajaran tersebut, santri diarahkan untuk tidak hanya memiliki kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga mengenal dan memahami ilmu agama.
Faqih menjelaskan, pembelajaran kitab menjadi bagian penting dalam pendidikan santri agar kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an dapat berjalan beriringan dengan pemahaman agama.
“Di sini bukan hanya Al-Qur’an yang dipelajari, tetapi juga kitab. Karena kami ingin anak-anak bukan hanya fokus pada bacaan dan hafalan saja, tetapi juga mendapatkan ilmu dari kitab,” jelasnya.
Menurutnya, pembelajaran tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi santri dalam menjalani kehidupan.
“Jadi, mereka tidak hanya bisa membaca dan menghafal, tetapi juga sedikit demi sedikit memahami ilmu agama yang menjadi bekal mereka dalam kehidupan,” lanjut Faqih.
Belajar Makna Pengabdian
Bagi mahasiswa KKN STAIM Paciran, keterlibatan dalam kegiatan di dua TPQ tersebut bukan hanya menjadi kesempatan untuk mengajar. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari masyarakat.
Mahasiswa dapat melihat bagaimana pendidikan keagamaan terus dijaga melalui konsistensi para pengajar serta semangat para santri dalam menuntut ilmu.
Ketua KKN STAIM Paciran 2026, Moh. Faizal Muttaqin, mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan TPQ menjadi salah satu langkah untuk membangun silaturahmi sekaligus memahami makna pengabdian di ruang spiritual.
“Ini menjadi langkah awal kami untuk menjalin silaturahmi sekaligus belajar dalam mengabdi di ruang spiritual, khususnya bersama anak-anak,” tuturnya.
Menurut Faizal, mahasiswa ingin kehadiran mereka tidak hanya terlihat dalam kegiatan sosial, tetapi juga ikut mengambil bagian dalam pendidikan keagamaan masyarakat.
“Kami ingin kehadiran mahasiswa bukan hanya terlihat dalam kegiatan-kegiatan sosial, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam proses pendidikan keagamaan masyarakat,” katanya.
Ia berharap kegiatan mengajar di TPQ Ainul Ulum dan TPQ Miftahul Ulum dapat berlangsung secara konsisten selama pelaksanaan KKN.
“Harapan kami, kegiatan mengajar di TPQ Ainul Ulum dan TPQ Miftahul Ulum ini dapat berjalan secara konsisten selama satu bulan, sehingga keberadaan kami benar-benar bisa memberikan manfaat dan meninggalkan sesuatu yang baik bagi anak-anak,” ungkapnya.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN STAIM Paciran berupaya mengisi waktu subuh hingga sore dengan aktivitas pengabdian di Desa Tamanprijek. Mulai dari membaca ayat Al-Qur’an, memperbaiki bacaan, menambah hafalan, hingga memahami ilmu dari kitab menjadi bagian dari proses pendampingan santri.
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang pertemuan antara mahasiswa, pengajar, dan santri untuk sama-sama belajar. Mahasiswa belajar tentang ketulusan dalam mengabdi, santri memperoleh pendampingan dalam menuntut ilmu, sementara masyarakat mendapatkan tambahan tenaga untuk mendukung keberlangsungan pendidikan keagamaan.
Dari subuh di TPQ Ainul Ulum hingga sore di TPQ Miftahul Ulum, pengabdian mahasiswa KKN STAIM Paciran hadir melalui aktivitas sederhana. Kehadiran, pendampingan, dan semangat untuk mengajarkan anak-anak menjadi bagian dari upaya menumbuhkan generasi yang dekat dengan Al-Qur’an, ilmu agama, dan akhlak. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments