Pagi hari, Dhia Hana Putri Saraswati berada di ruang kuliah Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Di sana ia belajar tentang anatomi, penyakit hewan, hingga kesehatan masyarakat veteriner. Namun ketika sore menjelang, langkahnya beralih menuju kampus lain. Hingga larut malam, ia kembali duduk di bangku kuliah, kali ini sebagai mahasiswa Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).
Bagi sebagian orang, menyelesaikan satu program studi di perguruan tinggi sudah menjadi tantangan besar. Namun bagi Hana, belajar tidak pernah dibatasi oleh satu ruang kelas atau satu bidang ilmu.
Perempuan asal Surabaya ini memilih menjalani dua dunia akademik sekaligus: Program Studi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) dan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair).
Pilihan yang terbilang tidak biasa tersebut bukan lahir dari ambisi untuk mengejar gelar sebanyak-banyaknya. Di balik keputusan itu terdapat kecintaannya yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan, serta dorongan keluarga yang menjadikan pendidikan sebagai warisan paling berharga bagi anak-anaknya.
“Kesempatan untuk belajar lagi merupakan hal yang saya sukai. Dalam Islam, lelahnya menuntut ilmu adalah sesuatu yang bernilai. Dari pendidikan, kita mendapatkan kebijaksanaan, keahlian, dan pemahaman yang tidak bisa dibeli dengan uang,” ujar Hana, Senin (1/6/2026).
Berawal dari Kecintaan pada Belajar
Perjalanan pendidikan Hana dimulai dari SD Muhammadiyah 4 Surabaya. Setelah itu ia melanjutkan studi di SMP Negeri 19 Surabaya dan SMA Negeri 20 Surabaya.
Usai menamatkan pendidikan menengah, Hana diterima di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga melalui jalur undangan. Saat itu, jalan hidupnya tampak sudah mengarah pada dunia kesehatan hewan.
Namun kehidupan sering menghadirkan peluang yang tidak terduga. Ketika memasuki tahun kedua kuliah di Unair, kedua orang tuanya menawarkan kesempatan untuk mengambil pendidikan lain. Tawaran tersebut justru menjadi pintu yang membuka kembali impian masa kecil yang selama ini tersimpan.
“Waktu kecil kalau ditanya cita-cita, saya selalu menjawab berbeda-beda. Pagi ingin jadi dokter, siang ingin jadi guru, sore ingin jadi arsitek, malam ingin jadi penyanyi. Saat dewasa saya baru sadar bahwa ucapan itu bisa menjadi doa,” katanya sambil tersenyum.
Kesempatan tersebut akhirnya membawanya memasuki dunia Arsitektur di Universitas Muhammadiyah Surabaya, sebuah bidang yang sejak lama menarik perhatiannya.
Menemukan Titik Temu Dua Disiplin Ilmu
Sekilas, Kedokteran Hewan dan Arsitektur tampak seperti dua dunia yang berjalan di jalur berbeda. Yang satu berbicara tentang kesehatan dan kesejahteraan hewan, sementara yang lain berkutat pada desain bangunan, ruang, dan estetika.
Namun bagi Hana, keduanya memiliki benang merah yang sama.
Ia melihat bahwa baik kedokteran maupun arsitektur sama-sama mengandung unsur seni dalam memberikan solusi bagi kehidupan manusia.
“Di dunia medis ada istilah medicine is an art, sementara dalam arsitektur ada architecture is art. Keduanya sama-sama memiliki seni untuk membantu kehidupan. Kedokteran hewan berfokus pada kesehatan dan kesejahteraan hewan yang berdampak pada manusia, sedangkan arsitektur membantu menciptakan hunian yang sehat, nyaman, dan sesuai kebutuhan manusia,” jelasnya.
Cara pandang tersebut membuat Hana mampu menjembatani dua disiplin ilmu yang selama ini dianggap berjauhan. Ia tidak melihat keduanya sebagai bidang yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi.
Dari situlah muncul gagasan besar yang terus ia simpan: mengintegrasikan ilmu kesehatan hewan dengan desain bangunan yang sehat, nyaman, dan ramah bagi manusia maupun hewan.
Di balik pencapaian yang diraihnya, terdapat rutinitas panjang yang menuntut kedisiplinan luar biasa.
Selama masa perkuliahan tatap muka, Hana harus berpindah dari satu kampus ke kampus lain hampir setiap hari.
“Pagi sampai sore saya berada di Unair, kemudian sore hingga tengah malam saya kuliah di Umsura,” tuturnya.
Rutinitas itu dijalani selama bertahun-tahun. Waktu menjadi sesuatu yang harus dikelola dengan sangat ketat. Namun tantangan terbesar ternyata bukan hanya soal membagi jam kuliah, melainkan bagaimana menyesuaikan diri dengan dua cara berpikir yang berbeda.
Di Fakultas Kedokteran Hewan, ia terbiasa mempelajari penyakit, anatomi, kesehatan masyarakat veteriner, hingga berbagai penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia.
Sebaliknya, di Arsitektur ia harus memahami ketahanan bangunan, gubahan bentuk, estetika ruang, detail pencahayaan, serta berbagai aspek desain lainnya.
“Tantangan terbesar adalah menyambungkan dua cara berpikir yang berbeda. Dari yang fokus pada makhluk hidup dan kesehatan, saya harus beradaptasi dengan desain, struktur bangunan, warna, dan visualisasi,” katanya.
Tidak jarang kelelahan fisik maupun mental datang menghampiri. Terlebih ketika ia harus menyelesaikan tugas akhir Arsitektur bersamaan dengan pendidikan profesi yang sedang dijalaninya.
“Tentu ada puluhan kali saya berpikir untuk berhenti. Biasanya saat tubuh dan pikiran sudah sangat lelah. Tetapi di balik pikiran untuk menyerah itu, ada ribuan doa dan semangat dari orang tua, keluarga, dan dosen yang membuat saya bertahan,” ujarnya.
Keluarga sebagai Sumber Kekuatan
Bagi Hana, keluarga adalah alasan terbesar yang membuatnya tetap teguh menjalani perjalanan panjang tersebut.
Ia dibesarkan dalam keluarga Muhammadiyah yang menempatkan pendidikan sebagai nilai utama. Ayahnya aktif di Persyarikatan Muhammadiyah dan pernah menjabat Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) selama dua periode. Sementara sang adik juga aktif dalam organisasi pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah.
Nilai-nilai itulah yang terus tertanam sejak kecil.
“Orang tua saya selalu mengatakan bahwa warisan terbaik yang bisa diberikan kepada anak adalah pendidikan dan teladan akhlak yang baik,” ungkapnya.
Selain dukungan keluarga, lingkungan kampus juga memberi peran penting dalam perjalanan akademiknya. Di Fakultas Teknik UM Surabaya, Hana merasakan dukungan yang besar dari para dosen Arsitektur yang memahami berbagai tantangan yang dihadapi mahasiswa.
Ketika rasa lelah dan burnout datang, ia berusaha menjaga keseimbangan hidup dengan pola makan yang baik, mengonsumsi vitamin, dan memberi ruang bagi dirinya untuk melakukan aktivitas yang disukai.
Tulang Ayam yang Menjadi Karya Arsitektur
Di antara berbagai pengalaman kuliah yang dijalani, terdapat satu kisah unik yang hingga kini masih diingat oleh dosen maupun teman-temannya.
Saat mahasiswa lain menggunakan stik es krim atau kayu sebagai bahan tugas trimatra, Hana memilih sesuatu yang tidak biasa.
Ia memanfaatkan tulang ayam yang telah dibersihkan dan diawetkan sebagai material karya tiga dimensinya.
“Di Kedokteran Hewan, tulang biasanya digunakan sebagai media pembelajaran anatomi. Tetapi saya mencoba mengubahnya menjadi karya tiga dimensi untuk tugas arsitektur,” ujarnya.
Eksperimen tersebut menjadi simbol kecil bagaimana dua bidang ilmu yang dipelajarinya bisa bertemu dalam bentuk yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Menghubungkan Kesehatan Hewan dan Lingkungan Hidup
Belajar di dua disiplin ilmu yang berbeda membuat Hana memiliki cara pandang yang lebih luas tentang kehidupan.
Menurutnya, kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan tempat hidupnya.
Ia menjelaskan bahwa sekitar 90 persen penyakit menular pada manusia berasal dari hewan. Karena itu, kesehatan hewan memiliki kontribusi besar terhadap kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Di sisi lain, lingkungan fisik dan bangunan tempat manusia hidup juga berpengaruh besar terhadap kualitas hidup.
“Hewan yang tinggal di lingkungan yang sehat akan menghasilkan kualitas pangan yang baik. Manusia yang tinggal di bangunan yang sehat akan menjadi pribadi yang lebih produktif,” katanya.
Pemahaman tersebut melahirkan cita-cita yang ingin diwujudkannya di masa depan. Hana bercita-cita membangun peternakan modern dan rumah sakit hewan yang terintegrasi dengan standar kesehatan serta desain bangunan yang optimal.
Ia berharap dapat menghadirkan fasilitas yang tidak hanya aman dan nyaman bagi hewan, tetapi juga mendukung ketahanan pangan serta kesehatan masyarakat.
“Siapa tahu sebagai kader Muhammadiyah, saya juga bisa membantu menciptakan amal usaha yang menggabungkan dua bidang ini sehingga memberi manfaat yang lebih luas bagi umat,” ujarnya.
Berani Memeluk Banyak Impian
Bagi Hana, pengalaman menjalani dua kuliah sekaligus menjadi bukti bahwa seseorang tidak harus membatasi dirinya hanya pada satu mimpi.
Ia percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk meraih lebih dari satu tujuan dalam hidup, selama disertai kerja keras, doa, dan dukungan keluarga.
“Tidak ada yang tidak mungkin. Jangan takut memiliki banyak impian. Jika kalian berjuang untuk sepuluh mimpi dan tidak semuanya tercapai, setidaknya sebagian besar sudah ada di genggaman. Yang penting tetap berusaha, pantang menyerah, dan meminta ridha orang tua,” pesannya.
Perjalanan Dhia Hana Putri Saraswati menunjukkan bahwa batas sering kali bukan terletak pada kemampuan seseorang, melainkan pada keberanian untuk mencoba. Di tengah padatnya jadwal, tuntutan akademik yang berlipat, dan dua dunia ilmu yang berbeda, ia memilih untuk terus melangkah.
Ia belajar bukan sekadar untuk mengumpulkan gelar, melainkan untuk menyatukan ilmu, memperluas manfaat, dan menyiapkan diri menjadi pribadi yang mampu memberi kontribusi lebih besar bagi masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments