Pakar psikologi pendidikan sekaligus Wakil Ketua Dewan Pendidikan Surabaya, Dr. Mulyana, S.Pd., M.Si., memaparkan strategi utama untuk menjaga keberlanjutan mutu lembaga pendidikan Islam dalam forum Rapat Kerja Khusus Madrasah (Rakorsusma) 2026 di Hotel Southern Surabaya, Sabtu (1/8/2026).
Di hadapan jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Rungkut dan pengelola sekolah, Mulyana menegaskan bahwa tantangan terbesar manajemen pendidikan saat ini bukanlah pada fase awal mendirikan, melainkan pada konsistensi menjaga mutu (sustainability).
“Membesarkan sekolah itu relatif gampang. Tapi mempertahankan supaya tetap bagus dan berkualitas itu tidak mudah. Membutuhkan sistem yang kokoh dan komitmen jangka panjang,” tegas Mulyana saat membuka pemaparannya.
Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya yang telah menerbitkan 55 buku ini menyoroti tiga pilar utama penopang keunggulan sekolah. Yaitu komitmen tinggi para guru, etos kerja yang kuat, serta penentuan posisi merek (brand positioning) yang tegas di mata publik.
Mulyana mendefinisikan komitmen guru bukan sekadar kewajiban menggugurkan jam mengajar. Melainkan loyalitas tanpa batas dan keterikatan emosional (sense of belonging) pada lembaga. Sementara etos kerja dimaknai sebagai dorongan batin untuk bekerja keras dan memberikan karya terbaik.
Dalam penjelasannya mengenai strategi berkelanjutan, lulusan S3 Psikologi Universitas Airlangga ini menyoroti akselerasi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi pembelajaran. Menurutnya, perubahan zaman harus disikapi sebagai tantangan positif, bukan hambatan.
“Sekolah harus bergeser dari metode lama yang berpusat pada guru menuju pembelajaran aktif berbasis proyek atau project-based learning. Jika sekolah tidak mampu membuat inovasi unggulan baru dan tidak memiliki roh digitalisasi, maka akan ditinggal wali murid dan dikejar kompetitor,” jelasnya.
“Teknologi seperti AI ini jangan dimusuhi atau ditakuti. Zaman sudah berubah, cara ngajar kita di kelas juga harus ikut bergeser ke berbasis proyek. Wali murid sekarang makin kritis. Tapi percayalah, asal pelayanannya memuaskan dan hasilnya kelihatan, orang tua tidak akan keberatan bayar investasi pendidikan,” jelasnya.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya penerapan agility atau kelincahan adaptasi. Khususnya melalui pengembangan growth mindset seluruh staf, penyusunan talent development untuk guru, hingga pembentukan kemitraan strategis dengan TK sebagai feeder siswa maupun perguruan tinggi hingga lembaga luar negeri.
“Kepekaan terhadap ekspektasi orang tua adalah kunci. Wali murid tidak akan mempermasalahkan biaya pendidikan yang tinggi selama mereka merasa puas. Kepuasan inilah yang menjadikan orang tua sebagai duta promosi terbaik bagi sekolah,” kata Mulyana menutup sesinya.





0 Tanggapan
Empty Comments