SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) menggelar kegiatan Parenting yang dirangkai dengan pemaparan program sekolah bagi wali siswa kelas X. Kegiatan yang berlangsung di Hall Smamita lantai 2, Sabtu (1/8/2026), ini menghadirkan dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dita Kurnia Sari, M.Pd., sebagai narasumber.
Mengusung tema “Menemukan dan Merawat Bintang yang Berpijar”, kegiatan ini mengajak orang tua memahami potensi anak sekaligus memperkuat sinergi antara keluarga dan sekolah dalam mendampingi perkembangan remaja.
Mengawali materinya, Dita mengajak para orang tua untuk kembali melihat potensi terbaik yang dimiliki setiap anak.
“Hari ini semoga menjadi titik awal bagi kita sebagai orang tua untuk mengantarkan anak-anak menjadi manusia dalam versi terbaiknya,” ujarnya.
Menjaga Binar Mata Anak
Dita mengajak peserta mengenang masa ketika anak berusia tiga hingga enam tahun, saat mereka begitu antusias menemukan hal-hal sederhana.
“Apa yang paling membuat mata mereka berbinar? Saat melihat kereta, misalnya, mereka akan berlari menunjukkan kepada orang tuanya dengan penuh semangat,” tuturnya.
Ia kemudian mengajak para orang tua melakukan refleksi.
“Apakah binar itu masih ada sampai hari ini? Masihkah kita menemukannya?”
Menurutnya, tema Merawat Bintang Berpijar dipilih karena masa remaja merupakan fase ketika potensi anak mulai tampak, tetapi sering kali justru mulai meredup. Banyak orang tua bertanya tentang cita-cita anak, namun belum cukup menyediakan ruang dialog yang hangat di rumah.
“Rutinitas anak sering kali hanya sekolah, pulang, masuk kamar, lalu mengulang aktivitas yang sama keesokan harinya. Karena itu, mari bersama-sama menemukan kembali pijar bintang dalam diri mereka,” katanya.
Otak Remaja Masih Berkembang
Dalam paparannya, Dita menjelaskan bahwa usia 14–17 tahun merupakan periode penting karena plastisitas otak masih sangat tinggi. Artinya, kemampuan berpikir, bernalar, berkomunikasi, hingga memecahkan masalah masih terus berkembang.
“Otak bukan seperti batu yang tidak bisa berubah. Kemampuan berpikir, berkomunikasi, bernalar, hingga logika masih sangat bisa dikembangkan pada masa remaja,” jelasnya.
Kecerdasan Lebih dari Sekadar Nilai
Dita juga mengingatkan bahwa kecerdasan tidak boleh hanya diukur dari nilai akademik, prestasi lomba, atau keberhasilan masuk perguruan tinggi.
Menurutnya, kemampuan mengelola keuangan, memimpin kegiatan, hingga mampu mengungkapkan perasaan secara jujur juga merupakan bentuk kecerdasan yang perlu dihargai.
Ia mengibaratkan kecerdasan seperti cahaya putih yang melewati prisma hingga menghasilkan beragam warna.
“Setiap anak membawa warna kecerdasannya masing-masing. Tugas kita sebagai orang tua adalah melihat warna-warni itu, bukan hanya terpaku pada satu jenis kecerdasan,” ujarnya.
Memahami Bakat dan Minat
Pada kesempatan tersebut, Dita juga menjelaskan perbedaan antara bakat dan minat. Menurutnya, minat merupakan ketertarikan yang membuat seseorang terus menikmati suatu aktivitas, sedangkan bakat adalah potensi alami yang memudahkan seseorang menguasai bidang tertentu.
“Kalau diibaratkan, minat adalah bensin, sedangkan bakat adalah mesin. Minat memberi tenaga untuk terus belajar, sementara bakat membuat prosesnya menjadi lebih efisien,” jelasnya.
Karena itu, orang tua perlu mulai memetakan minat dan bakat anak agar dapat memberikan pendampingan yang tepat.
Ia menambahkan bahwa Smamita menghadirkan kegiatan parenting sebagai sarana membantu orang tua memahami potensi putra-putrinya.
“Smamita memfasilitasi kegiatan parenting ini agar kebingungan orang tua dalam mengenali potensi anak mulai dapat dipetakan dan ditemukan solusinya,” katanya.
Mengenali Ragam Kecerdasan
Pada akhir sesi, Dita mengajak para orang tua mengenali berbagai jenis kecerdasan anak melalui kecenderungan perilaku sehari-hari. Ia menjelaskan delapan jenis kecerdasan, yakni linguistik, logika-matematika, visual-spasial, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis.
Melalui pemahaman tersebut, orang tua diharapkan mampu melihat keunikan setiap anak dan memberikan dukungan sesuai karakter serta potensinya.
Kegiatan parenting ini menjadi bagian dari komitmen Smamita dalam memperkuat kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Dengan sinergi yang baik, setiap anak diharapkan mampu menemukan, mengembangkan, dan menjaga “bintang” yang ada dalam dirinya sehingga tumbuh menjadi pribadi yang unggul sesuai potensi terbaiknya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments