Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dunia Tetap Berjalan Tanpa Kita

Iklan Landscape Smamda
Dunia Tetap Berjalan Tanpa Kita
Dunia Tetap Berjalan Tanpa Kita
Oleh : Dr. Muhammad Nasri Dini Wakil Ketua Majelis Tabligh PDM Sukoharjo, Jawa Tengah

Terkadang kita merasa penting. Ketika nama tidak disebut, muncul rasa tidak nyaman. Perasaan seperti ini sangat manusiawi, bahkan pernah dialami banyak orang dalam berbagai situasi.

Suatu ketika, saya hadir sebagai tamu undangan dalam sebuah acara, tetapi nama saya tidak disebut. Saat datang, saya tidak disambut secara khusus, bahkan tidak ditempatkan di kursi kehormatan.

Di kesempatan lain, saya justru hadir sebagai peserta biasa, namun nama saya disebut.

Dari pengalaman sederhana tersebut, terselip pelajaran penting: dunia ini tetap berjalan, dengan atau tanpa kehadiran kita.

Dalam perjalanan hidup, kita mungkin pernah berada di posisi penting dalam organisasi atau lingkungan tertentu. Namun, sebelum kita hadir, organisasi tersebut sudah berjalan. Setelah kita tidak lagi di dalamnya, akan selalu ada yang melanjutkan.

Artinya, keberlangsungan sebuah sistem tidak bergantung pada satu individu.

Kesadaran ini seharusnya menumbuhkan sikap rendah hati. Tidak ada alasan untuk bersikap sombong atas jabatan atau peran yang sedang diemban, karena semua itu bersifat sementara.

Penulis teringat seorang ustaz yang menunjukkan sikap tawadhu luar biasa. Ketika pertama kali diundang dan belum dikenali, ia ditanya:

“Ustaz XXX, ya?”
“Bukan.”

Ketika dipersilakan duduk di depan, ia justru menolak dan memilih membaur bersama jamaah. Barulah saat namanya dipanggil oleh MC, ia maju ke mimbar.

Sikap ini menunjukkan bahwa kemuliaan tidak terletak pada pengakuan manusia, melainkan pada keikhlasan hati.

SMPM 5 Pucang SBY

Dalam kitab Shifah al-Shafwah, Ibnu al-Jauzi meriwayatkan kisah tentang Abdullah bin Mubarak yang sarat makna.

Dikisahkan, suatu hari Abdullah bin Mubarak mendatangi tempat penampungan air. Ia harus berdesakan bersama orang lain karena tidak ada yang mengenalinya.

Setelah itu, beliau berkata:

“Tidak terasa hidup kecuali dalam keadaan seperti ini,”

yakni ketika tidak ada orang yang mengenali dan memuliakan dirinya.

Kisah ini menunjukkan bahwa seorang ulama besar justru merasakan ketenangan ketika tidak dikenal. Bebas dari ekspektasi dan penghormatan manusia, ia dapat menjaga keikhlasan di hadapan Allah.

Pengalaman dan kisah tersebut mengajarkan bahwa kita bukan pusat dari segala sesuatu. Dunia akan tetap berjalan, dengan atau tanpa kita.

Keinginan untuk diakui mungkin akan selalu ada. Namun, yang jauh lebih penting adalah menjaga keikhlasan dan kerendahan hati dalam setiap peran yang dijalani.

Sebab, jabatan, posisi, dan penghargaan hanyalah sementara. Sementara itu, sikap rendah hati akan meninggalkan makna yang lebih dalam serta menghadirkan ketenangan dalam diri.

Revisi Oleh:
  • Satria - 26/04/2026 14:06
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡