Tantangan utama hilirisasi riset dan inovasi digital menjadi pembahasan Rapat Kerja Nasional Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat (17/7/2026) pukul 16.00 WIB. Rakernas tersebut berlangsung secara hybrid di Universitas Muhammadiyah Purwokerto dan zoom meeting.
Turut hadir pada kegiatan ini Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr H Dadang Kahmad MSi, Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah Prof Dr Muchlas MT, serta Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto Prof Dr Jebul Suroso.
Kemudian hadir pula Koordinator Kemitraan dan Investasi Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Kemkomdigi, Muhammad Faisal. Serta Direktur Utama TVMU Dr Makroen Sanjaya MSos.
Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia
Pada sesi diskusi, Muhammad Faisal berujar bahwa ekonomi digital indonesia mengalami pertumbuhan sebanyak dua digit di berbagai sektor, mendekati 100 Miliar US Dollar pada 2025.
Beberapa sektor yang mengalami pertumbuhan tersebut, lanjut Faisal, adalah E-Commerce, Transport and Food, Online Travel, serta Travel Media.
“Kita termasuk negara terbesar populasinya dengan digitalisasi kita yang besar, termasuk pusat start-up yang terus berkembang” terangnya.
Di samping itu, Faisal juga menuturkan bahwa Indonesia adalah negara dengan masyarakat digital terbesar ke-3 di Asia, disertai pusat start-up yang terus berkembang.
“Di Asia Tenggara, Indonesia memimpin pertumbuhan pendapatan sebesar 127 persen pada aplikasi berbasis AI” terangnya.
Hal tersebut, ujar Faisal, bersumber dari 210 Juta lebih pengguna internet dan kelas menengah yang terus berkembang menyediakan basis konsumen yang besar.
“Layanan keuangan digital terus mengalami pertumbuhan dua digit sekitar 20 persen” kata Faisal.
Di samping itu, dengan bonus demografi, Indonesia memiliki salah satu populasi muda yang paling melek digital di dunia, dengan lebih dari 50 persen berusia di bawah 30 tahun.
“Jika berbicara bonus demografi, kita berbicara tentang talent. Bagaimana menyiapkan talent supaya tidak menjadi disaster” tegasnya.
Tantangan Kedepan
Kendati demikian, Faisal turut menerangkan bahwa sejumlah peluang tersebut juga berbanding lurus dengan berbagai tantangan yang menghadang.
“Pertumbuhan start-up Indonesia sangat besar, tapi tingkat kegagalan juga besar. Sehingga success rate start-up Indonesia sekitar 4-10 persen” ujar Faisal.
Kemudian terkait talenta digital, talenta Indonesia masih banyak terkonsentrasi di pulau jawa. “Kemudian inovasi, seperti talenta, hak inovasi, masih banyak lahir dari pulau jawa” tambahnya.
Belum lagi hambatan berupa pendanaan di luar kota metropolitan, serta ekonomi digital yang berorientasi konsumsi dan belum mendorong inovasiĀ atau produksi lokal.
“Apa yang bisa kita create bersama, bagaimana meningkatkan success rate di Indonesia. Mengajarkan talenta, kita melakukan reskilling, upskilling. karena perkembangan teknologi sangat cepat, termasuk AI” ujarnya.
Menurut Faisal, pergururan tinggi di Indonesia menghasilkan paten setiap tahun, tapi terdapat tantangan pada hilirisasi riset dan inovasi digital.
“Simpelnya, riset yang kita create, inovasi yang kita tuangkan, hampir sebagian besar berakhir di library, perpustakaan. Jurnal, Tesis, Disertasi” terang Faisal.
Namun ketika akan dikomersialisasikan, inovasi sedalam itu cukup susah untuk diimplementasikan.
Sehingga, lanjut Faisal, penting bagi kampus agar bisa terintegrasi dengan start-up maupun industri agar inovasi atau riset yang sudah dilakukan bisa terimplementasi.
“Jadi, ini peran kampus. Dijembatani oleh pemerintah agar bisa saling terhubung” pungkasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments