Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mengubah cara manusia mencari, mengolah, dan menggunakan informasi. Perubahan itu sekaligus mendorong perpustakaan untuk meninggalkan peran konvensional sebagai sekadar penyedia sumber pengetahuan.
Di tengah derasnya arus informasi dan maraknya konten yang dihasilkan AI, perpustakaan dituntut memainkan peran yang lebih strategis: membantu masyarakat memilah informasi, memeriksa kredibilitas sumber, serta memastikan pengetahuan yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan.
Pandangan tersebut disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., dalam pidato kunci pada hari pertama Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 di UMY Student Dormitory, Selasa (4/8/2026). Konferensi tersebut berlangsung hingga Kamis (6/8/2026).
Menurut Aminudin, transformasi digital perpustakaan selama ini banyak diarahkan pada digitalisasi koleksi, pembangunan repositori, dan perluasan akses informasi.
Namun, perkembangan AI membawa perpustakaan memasuki tantangan baru yang lebih kompleks. AI tidak hanya mengubah teknologi, tetapi juga memengaruhi cara manusia berpikir, belajar, mencari informasi, hingga mengambil keputusan.
“Selama ini pertanyaan utama perpustakaan adalah bagaimana menyediakan informasi. Namun hari ini pertanyaannya telah berubah menjadi bagaimana memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar,” ujar Aminudin.
Perubahan tersebut menjadi semakin penting karena AI mampu menghasilkan jawaban dalam hitungan detik.
Di satu sisi, teknologi ini memberikan kemudahan. Di sisi lain, informasi yang dihasilkan AI tidak selalu akurat, bebas bias, memiliki sumber yang jelas, atau sesuai dengan konteks yang dibutuhkan.
Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya memiliki kemampuan menggunakan AI. Mereka juga membutuhkan kemampuan untuk mempertanyakan, memeriksa, membandingkan, dan memverifikasi informasi yang dihasilkan teknologi tersebut.
Aminudin menilai, kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu modal penting menghadapi banjir informasi. Dukungan AI perlu dimanfaatkan tanpa mengabaikan integritas, etika, dan moral.
“Perubahan tersebut justru membuat keberadaan perpustakaan semakin strategis. Perpustakaan tidak lagi cukup menyediakan akses terhadap informasi, tetapi juga perlu membangun kecakapan literasi informasi, literasi digital, dan literasi data,” jelasnya.
Dengan kecakapan tersebut, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan teknologi secara kritis, cerdas, dan bertanggung jawab.
Aminudin menegaskan, pusat transformasi bukanlah teknologi, melainkan manusia yang menggunakannya.
“Pusat perubahan dan transformasi bukanlah teknologi, melainkan manusia. Perpustakaan memiliki tanggung jawab membangun masyarakat yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi untuk mengakses dan memproduksi informasi,” jelasnya.
Menurutnya, masyarakat perlu memiliki kesadaran mengenai kualitas informasi, kredibilitas sumber, keamanan data pribadi, perlindungan hak cipta, serta etika dalam pemanfaatan AI.
Dengan demikian, literasi di era AI tidak berhenti pada kemampuan menemukan informasi. Literasi juga mencakup kemampuan memahami konteks, menguji kebenaran, mengenali bias, dan menggunakan informasi secara etis.
Aminudin juga menyoroti perubahan perilaku masyarakat dalam mencari informasi. Jika sebelumnya seseorang terbiasa menelusuri berbagai referensi sebelum menarik kesimpulan, kini jawaban instan dari platform AI semakin menjadi pilihan.
Perubahan perilaku tersebut perlu direspons perpustakaan melalui layanan yang lebih adaptif. Namun, adaptasi tidak boleh mengorbankan kualitas akademik dan prinsip-prinsip keilmuan.
Perpustakaan dituntut memahami teknologi yang digunakan masyarakat sekaligus menghadirkan pendampingan agar teknologi tersebut tidak digunakan secara serampangan.
“Perpustakaan masa depan bukanlah perpustakaan yang memiliki teknologi paling canggih. Melainkan perpustakaan yang mampu membangun manusia yang cerdas, kritis, kreatif, adaptif, dan berintegritas dalam memanfaatkan informasi,” tutur Aminudin.
Pada akhirnya, teknologi akan terus berkembang dan berubah. Namun, kebutuhan manusia terhadap pengetahuan yang terpercaya tidak akan hilang.
Perpustakaan tetap memiliki peran penting sebagai penjaga akses terhadap pengetahuan yang dapat dipercaya, pendukung pembelajaran sepanjang hayat, penjaga memori kolektif bangsa, sekaligus penguat budaya literasi.
Di era AI, dengan demikian, masa depan perpustakaan bukan semata-mata ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya. Masa depan perpustakaan justru ditentukan oleh seberapa kuat lembaga tersebut membantu manusia menjadi pengguna informasi yang cerdas, kritis, beretika, dan berintegritas. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments