Sebagian besar masyarakat modern sering kali memenjara makna “belajar” di dalam sekat-sekat institusi pendidikan.
Mereka membatasi proses pencarian ilmu secara kaku hanya pada kepemilikan selembar ijazah.
Muncul sebuah stigma yang mengakar kuat bahwa setelah usia produktif berlalu dan karier tercapai, maka kewajiban mencari ilmu pun dianggap usai.
Belajar kemudian hanya dipandang sebagai instrumen pragmatis demi mencukupi kebutuhan material dan strata sosial.
Padahal, dalam Islam, konsep pendidikan melampaui batas institusi formal melalui sebuah doktrin populer: “Minal mahdi ilal lahdi”—menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat.
Ungkapan ini menegaskan bahwa belajar bukanlah sekadar persiapan teknis untuk mencari pekerjaan, melainkan persiapan eksistensial untuk menjalani kehidupan yang bermakna serta membekali diri untuk “pulang” ke akhirat.
Ilmu sebagai Spiritualitas dan Cahaya
Mencari ilmu hingga akhir hayat bukanlah sekadar upaya menambah tumpukan informasi di dalam memori, melainkan cara menjaga eksistensi spiritualitas manusia.
Dalam Al-Qur’an Surah Asy-Syura ayat 52, Allah menyebut wahyu sebagai Ruuhan min amrina (Ruh dari perintah Kami) dan Nuuran (Cahaya).
Tanpa ilmu, manusia secara biologis mungkin tampak hidup dan bernapas, namun secara spiritual ia kehilangan arah atau bahkan telah mati.
Frasa “Maa kunta tadrii” (engkau tidak mengetahui) dalam ayat tersebut merupakan pengingat puitis bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk yang faqir ilmu.
Maka, proses belajar seumur hidup adalah manifestasi kesadaran manusia untuk terus bernapas dalam cahaya petunjuk Allah.
Ilmu adalah kompas yang menjaga agar kaki tetap berpijak di jalan kebenaran di tengah badai ketidakpastian dunia.
Usia Senja adalah Golden Age
Fenomena hari ini menunjukkan banyak umat yang merasa “telah cukup ilmu” hanya karena mampu melafazkan Al-Qur’an secara lisan.
Namun, jika kita merujuk pada Surah Ar-Rahman ayat 2, Allah menegaskan diri-Nya sebagai ‘Allamal Qur’an—Dia yang mengajarkan Al-Qur’an.
Mengajar bukan sekadar pemindahan bunyi atau ejaan, melainkan pemindahan pemahaman dan hidayah ke dalam sanubari.
Memasuki usia lanjut dan baru mulai mendalami isi Al-Qur’an sering kali dianggap aneh oleh lingkungan sekitar yang terlalu terobsesi pada standar sukses materialistik.
Padahal, usia senja adalah masa emas (golden age) untuk melakukan tadabbur—perenungan mendalam atas hakikat hidup.
Pengalaman hidup yang kaya selama puluhan tahun menjadi laboratorium nyata untuk membuktikan kebenaran ayat-ayat Allah tentang esensi kesabaran, kedalaman syukur, dan kefanaan dunia yang sementara ini.
Menepis Tipu Daya “Ibadah Formal”
Dalam perjalanan menuntut ilmu di masa tua, sering kali muncul bisikan halus yang destruktif: “Cukuplah mengaji sekadarnya, yang penting ibadah formal seperti shalat tetap dijalankan.“
Ini adalah tipu daya yang memisahkan antara amal dan ilmu.
Ibadah yang dilakukan tanpa dasar pemahaman berisiko menjadi gerakan mekanis yang hampa dan kering.
Ilmu adalah prasyarat utama agar amal memiliki bobot dan ruh.
Menyelami kedalaman makna satu ayat Al-Qur’an selama satu jam sering kali memiliki nilai lebih berharga di sisi Allah.
Aktivitas tersebut mengalahkan bobot ibadah panjang dari seseorang dalam kondisi tidak tahu atau tanpa ilmu.
Ilmu membuat setiap sujud kita terasa lebih dalam, dan setiap butir doa yang terucap menjadi lebih berjiwa karena kita mengerti kepada Siapa kita berbicara.
Strategi Menghidupkan Budaya Belajar Lansia
Untuk menghapus stigma “aneh” dan menumbuhkan semangat belajar pada lansia, perlu ada pendekatan komunitas yang hangat dan inklusif.
Strateginya bukan lagi pada kuantitas hafalan, melainkan pada Kedalaman Makna.
Fokus pengajaran harus mengarah pada relevansi ayat dengan sisa usia dan ketenangan batin.
Selain itu, perlunya “Ruang Dialog” yang memungkinkan para lansia berbagi pengalaman hidup yang berkaitan dengan pesan-pesan langit.
Suasana majelis ilmu harus berubah dari formalitas ruang kelas menjadi suasana kekeluargaan yang saling menguatkan.
Di sini, pengajar bukan hanya berperan sebagai pemberi materi, melainkan sebagai kawan perjalanan dalam menjemput hidayah.
Menjadi Murid Kehidupan
Mencari ilmu hingga liang lahat adalah persiapan untuk sebuah pertemuan agung.
Jika di fase awal kehidupan (al-mahdi) kita belajar mengenal dunia untuk bertahan hidup secara fisik, maka menjelang liang lahat (al-lahdi) kita belajar memahami firman Allah agar mampu berkomunikasi dengan Sang Khalik dengan bahasa hati yang bersih.
Menjadi pembelajar Al-Qur’an di usia senja adalah bukti nyata bahwa meski raga kian melemah, cahaya di dalam diri tetap menyala terang benderang.
Kita tidak pernah berhenti menjadi “murid” kehidupan sampai maut datang menjemput.
Sebab, ilmu adalah satu-satunya bekal yang tidak akan ditinggalkan di liang lahat, melainkan akan menemani kita menyeberangi gerbang keabadian menuju rida-Nya.***





0 Tanggapan
Empty Comments