Di tengah gempuran era digital yang rentan diwarnai hoaks dan penipuan siber, ada solusinya. Yaitu kepemimpinan profetik yang berbasis tiga pilar: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Gagasan ini mampu mengantarkan siswi SMA Muhammadiyah 10 Surabaya (SMAMX), Amirah Dzakiyah Anwar merajai panggung di Muhammadiyah Education Award 2026.
Amirah Dzakiyah sukses menyabet Gold Medal (Medali Emas) dalam cabang lomba Essay in English. Perhelatan akbar tingkat SMA se-Jawa yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PNF Jawa Timur yang digelar di Universitas Muhammadiyah Malang pada Sabtu (08/08/2026).
Dalam esainya yang berjudul “Prophetic Leadership in Digital Era: Gen Z as the Bridge for Muhammadiyah’s Organizational Modernization”, Amirah mengupas secara tajam kondisi kekinian. Bagaimana masyarakat pedesaan dan akar rumput saat ini tengah menghadapi ancaman nyata di ruang digital, mulai dari berita bohong, penipuan daring (scam), hingga fenomena catfishing akibat minimnya literasi media.
“Argumen moral semata tidak lagi cukup untuk menghadapi kejahatan siber yang kian kompleks. Namun penguasaan teknologi tanpa fondasi spiritual dan etika juga sangat berbahaya,” jelas Amirah.
Melalui esainya, Amirah menawarkan konsep kepemimpinan profetik (prophetic leadership) sebagai kompas moral yang didukung oleh tiga pilar utama.
“Pilar pertama adalah humanisasi (amar ma’ruf) untuk memanusiakan manusia dan menciptakan ruang digital yang inklusif serta penuh empati. Pilar kedua adalah liberasi (nahi munkar) untuk mengadvokasi serta membebaskan masyarakat dari jeratan kejahatan siber.” Kata Amira dalam penjelasannya.
Dan yang terakhir, lanjut Amira, adalah transendensi sebagai landasan spiritual yang memastikan setiap aktivitas digital bernilai ibadah dan memiliki tanggung jawab moral di hadapan Allah SWT.
Tidak berhenti pada tataran perlindungan masyarakat, esai itu juga menempatkan Generasi Z sebagai aktor kunci atau jembatan strategis untuk mempercepat modernisasi organisasi Muhammadiyah.
“Gen Z itu punya aktor penting di esai saya karena mereka itu punya keluwesan alami dalam mengarahkan budaya daring. Sehingga mampu menerjemahkan nilai-nilai profetik ke dalam bentuk dakwah digital yang kreatif, berbasis data, efisien, dan mampu menjangkau hingga ke pelosok daerah,” terang Amira.
Kepala SMA Muhammadiyah 10 Surabaya, Salim Bahrisy, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi mendalam atas prestasi gemilang yang ditorehkan oleh anak didiknya. Menurutnya, gagasan mendalam yang diusung Amirah membuktikan bahwa pelajar Muhammadiyah memiliki kepekaan intelektual yang tinggi terhadap masa depan umat dan organisasi di era modern.
“Kami sangat bersyukur dan mengapresiasi prestasi luar biasa ini. Melalui esai tentang kepemimpinan profetik dan peran Gen Z di era digital, Amirah telah membuktikan kapasitas berpikir kritisnya dan mempersembahkan hasil yang membanggakan bagi sekolah,” ujar Salim Bahrisy saat dimintai keterangan.





0 Tanggapan
Empty Comments