Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

IHSG Turun Lebih dari 20 Persen, Dosen UMM Minta Masyarakat Tidak Terjebak Kepanikan

Iklan Landscape Smamda
IHSG Turun Lebih dari 20 Persen, Dosen UMM Minta Masyarakat Tidak Terjebak Kepanikan
IHSG Turun Lebih dari 20 Persen, Dosen UMM Sebut Pasar Saham Tertekan Akibat Kepanikan Investor
pwmu.co -

Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah mencapai lebih dari 20 persen sejak awal 2026 memunculkan kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap potensi krisis ekonomi. Namun, pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menilai kondisi tersebut lebih dipengaruhi faktor psikologis pasar daripada lemahnya fundamental ekonomi nasional.

Dosen Manajemen UMM, Novi Puji Lestari, S.E., M.M., menjelaskan bahwa pelemahan yang terjadi di pasar saham belakangan ini tidak mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Menurutnya, tekanan yang terjadi lebih banyak disebabkan aksi jual yang dipicu kepanikan investor.

“IHSG turun 2026 yang terjadi saat ini pada dasarnya dipengaruhi oleh panic selling dari investor yang bereaksi secara berlebihan terhadap berbagai sentimen yang berkembang. Pasar biasanya bergerak lebih cepat merespons ketakutan dibandingkan perubahan kondisi ekonomi riil,” ujarnya.

Novi menjelaskan, salah satu faktor yang memicu kekhawatiran investor adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat sebagian investor asing menilai aset di Indonesia memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi.

Selain faktor kurs, muncul pula kekhawatiran terkait stabilitas fiskal yang berdampak pada menurunnya kepercayaan investor terhadap pasar domestik.

“Investor asing itu tidak hanya melihat angka di atas kertas, mereka sangat sensitif terhadap isu stabilitas fiskal. Ketika rupiah terus melemah, kepanikan mereka memuncak karena merasa aset mereka di Indonesia semakin berisiko tinggi. Inilah yang memicu penarikan dana dan krisis kepercayaan secara besar-besaran dari bursa kita,” tegasnya.

Menurut Novi, kondisi tersebut kemudian mendorong aksi jual yang semakin memperdalam tekanan terhadap pasar saham.

Selain faktor domestik, Novi menilai ketidakpastian ekonomi global juga ikut memberikan dampak terhadap pergerakan pasar modal Indonesia.

Berdasarkan hasil penelitiannya mengenai ekonomi global, ia menjelaskan bahwa arus globalisasi membuat keterkaitan ekonomi antarnegara semakin kuat. Akibatnya, berbagai gejolak internasional dapat dengan cepat memengaruhi sentimen investor di Indonesia.

SMPM 5 Pucang SBY

“Faktor globalisasi ini membuat sekat antarnegara menjadi sangat tipis. Konflik di Timur Tengah maupun tensi dagang AS-China sekecil apa pun dampaknya, pasti akan langsung merembet dan menciptakan sentimen negatif yang menghantam psikologis pasar domestik kita,” tambahnya.

Memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China serta konflik yang terjadi di Timur Tengah disebut menjadi beberapa faktor yang terus memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan global.

Meski pasar saham tengah berada dalam tekanan, Novi mengingatkan bahwa fundamental makroekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif kuat.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat, terutama investor pemula, agar tidak mengambil keputusan investasi secara tergesa-gesa hanya karena mengikuti kepanikan pasar.

Menurutnya, fluktuasi yang terjadi saat ini seharusnya menjadi momentum bagi investor untuk lebih rasional dalam menyusun strategi investasi dan menghindari keputusan yang didasarkan pada ketakutan semata.

Dengan tetap berpegang pada analisis yang matang, investor diharapkan dapat menghadapi dinamika pasar dengan lebih tenang tanpa terjebak aksi jual rugi yang justru berpotensi menimbulkan kerugian lebih besar.

Revisi Oleh:
  • Satria - 10/06/2026 18:08
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu