Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari “Kebesaran” Tokoh hingga Periksa AI, Bedah Sejarah Tersembunyi Muhammadiyah Bersama Cak Kholid

Iklan Landscape Smamda
Dari “Kebesaran” Tokoh hingga Periksa AI, Bedah Sejarah Tersembunyi Muhammadiyah Bersama Cak Kholid
Muh Kholid Asyadulloh dalam Akademi Sejarah Muhammadiyah 2026 Batch 2 di Hotel DAFAM Pacific Caesar Surabaya (Foto: Yusdwiya/PWMU.CO)
pwmu.co -

Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar diskusi sejarah dalam rangkaian Akademi Sejarah Muhammadiyah 2026 Batch 2 di Hotel DAFAM Pacific Caesar Surabaya. Salah satu sesinya menghadirkan Redaktur PWMU.CO, Muh Kholid Asyadulloh, Ahad (9/8/2026). Dalam paparannya, dia membedah sejumlah kekeliruan narasi sejarah yang terlanjur diyakini benar oleh publik.

“Selama ini ada narasi yang terlanjur diyakini publik bahwa KH Mas Mansur adalah Ketua Muhammadiyah Cabang Surabaya sejak berdiri 1921 hingga beliau terpilih sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah pada 1938,” begitu salah satu penyataan Muh Kholid Asyadulloh.

Begitu besarnya ketokohan KH Mas Mansur, tambah Kholid, seakan “menenggelamkan” tokoh lainnya. “Padahal kalau kita telusuri arsipnya secara teliti, ternyata catatan dokumen memunculkan temuan unik. Ternyata ada nama Wondowidjojo yang menjadi Ketua Muhammadiyah Surabaya pada 1925-1926, serta KH Abdulhadi saat Mas Mansur terpilih sebagai Ketua Umum PP.”

Dalam pemaparannya, Kholid meluruskan silsilah kepemimpinan Muhammadiyah Surabaya yang kerap keliru dicatat. Ia menegaskan bahwa ketua Muhammadiyah Surabaya pasca-KH Mas Mansur bukan KH Faqih Usman. KH Faqih Usman adalah pengganti Mas Mansur di Konsul Muhammadiyah Surabaya yang membawahi cabang dan ranting di Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang.  Sementara untuk Cabang Surabaya sendiri, ketuanya adalah KH Abdulhadi.

“Penelusuran arsip juga membuktikan bahwa jauh sebelum menjabat Ketua Umum PP Muhammadiyah, KH Mas Mansur ternyata juga sudah diangkat sebagai penasihat organisasi pusat tersebut. Tepatnya pada tahun 1927,” tambah Kholid.

“Banyak data sejarah yang beredar di masyarakat tidak sesuai dengan catatan dokumen lama. Tugas kita adalah meluruskan rekam jejak organisasi ini berdasarkan arsip otentik,” tutur penikmat sejarah yang akrab disapa Cak Kholid itu.

Kholid membeberkan dinamika historis awal abad ke-20 melalui dokumen otentik. KH Ahmad Dahlan tercatat sudah menjadi penasihat Sarekat Islam (SI) pimpinan HOS Cokroaminoto sejak 1914, bahkan memimpin tabligh akbar di depan rumah Cokroaminoto pada 1916. Hubungan erat ini terus berjalan hingga Muhammadiyah dan SI resmi berpisah pada Muktamar SI di Pekalongan, Januari 1927.

SMPM 5 Pucang SBY

“Banyak rekam jejak organisasi yang bergeser hanya karena kita lalai merujuk pada sumber primernya. Tugas utama kita di era sekarang bukan sekadar bercerita, tapi meluruskan sejarah berdasarkan bukti-bukti otentik yang dapat dipertanggungjawabkan,” tuturnya.

Kholid menyinggung maraknya narasi ahistoris yang dihasilkan generator kecerdasan buatan akibat tiadanya triangulasi data. Platform AI sering menyebut KH Ahmad Dahlan pergi ke Mekkah pada usia 15 tahun. Padahal buku-buku terbitan para tokoh senior Muhammadiyah mencatat keberangkatan tersebut terjadi setelah beliau menikah dengan Siti Walidah.

Guna memisahkan fakta dari interpretasi, Kholid meminta para peneliti membandingkan dokumen internal organisasi dengan surat kabar yang terbit pada zaman itu. “Pengujian silang dari berbagai sumber arsip wajib dilakukan agar narasi sejarah tidak bergeser menjadi sekadar cerita legenda,” tegasnya.

Apalagi, tambah Kholid, berbagai sumber rujukan pada zaman awal Muhammadiyah itu sudah terbuka lebar. Bisa diakses secara daring. Sebagaimana perpustakaan nasional Belanda Delpher atau perpustakaan nasional Indonesia sendiri. Meski, tentu saja butuh “perjuangan” tersendiri untuk menemukannya.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 11/08/2026 22:16
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu