Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jangan Pernah Lelah Berjalan Menuju Allah, Kunci Istikamah dalam Hijrah

Iklan Landscape Smamda
Jangan Pernah Lelah Berjalan Menuju Allah, Kunci Istikamah dalam Hijrah
Foto: Kompas.com
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Dalam perjalanan hidup, ada saat ketika hati tersentuh oleh hidayah. Salat yang dulu terasa berat mulai menjadi kebutuhan. Al-Qur’an yang jarang dibaca mulai dirindukan.

Dosa-dosa yang dahulu dianggap biasa mulai disesali. Pada titik itulah seseorang mulai merasakan manisnya iman dan nikmatnya berada di jalan Allah.

Ketika hidayah itu datang, jangan pernah sia-siakan. Teruslah mendekat kepada Allah dan berusaha menjaga istiqamah. Sebab, Allah mencintai hamba yang terus-menerus bertobat, kembali kepada-Nya setiap kali terjatuh, dan berusaha meninggalkan segala hal yang dibenci-Nya.

Jalan hijrah sejatinya adalah jalan menuju surga Allah. Namun, jalan itu bukan jalan yang mudah. Di sepanjang perjalanan akan ada ujian, godaan, dan rintangan yang menguji keteguhan hati.

Ada kalanya semangat ibadah menurun, lingkungan tidak mendukung, bahkan ada yang mencemooh perubahan yang sedang kita lakukan.

Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)

Ayat ini mengajarkan bahwa ujian adalah bagian dari perjalanan keimanan. Seseorang yang berusaha menjadi lebih baik pasti akan diuji.

Bukan karena Allah tidak menyayanginya, tetapi karena Allah ingin menguatkan imannya dan meninggikan derajatnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat ilustrasi sederhana tentang perjuangan ini. Seorang yang baru belajar salat tepat waktu mungkin harus melawan rasa malas setiap kali azan berkumandang.

Seorang yang berusaha meninggalkan kebiasaan buruk harus berjuang menghadapi ajakan teman-teman lamanya.

Ada pula yang mulai rajin mengaji, tetapi justru mendapat sindiran karena dianggap berubah terlalu drastis.

Perjuangan itu mirip seperti seseorang yang mendaki gunung. Saat melihat puncaknya dari bawah, semangatnya begitu besar.

Namun ketika perjalanan mulai menanjak, napas terasa berat, kaki mulai lelah, dan jalan semakin terjal.

Pada saat itulah banyak orang memilih berhenti atau bahkan turun kembali. Padahal, mereka yang terus melangkah sedikit demi sedikit akan semakin dekat dengan puncak tujuan.

SMPM 5 Pucang SBY

Begitu pula dalam hijrah. Banyak orang yang semangat di awal, tetapi berhenti di tengah jalan. Ada yang hijrahnya hanya sebatas penampilan luar, sementara hatinya belum benar-benar berubah.

Ada pula yang sudah melangkah jauh, namun akhirnya kembali kepada kehidupan lamanya karena tidak mampu menjaga hati dan keistiqamahan.

Padahal, yang terpenting dalam perjalanan menuju Allah bukanlah seberapa cepat kita melangkah, melainkan apakah kita terus bergerak ke arah yang benar.

Hati yang terus dijaga, meskipun sering jatuh bangun, akan lebih dekat kepada keberhasilan daripada semangat yang menyala sesaat lalu padam.

Nasihat indah dari Imam Syafi’i layak menjadi pegangan bagi setiap muslim: “Jika kamu ada di jalan yang benar menuju Allah, berlarilah. Jika itu berat bagimu, berlari-lari kecil lah. Jika kamu lelah, berjalanlah. Dan jika kamu tidak bisa, merangkaklah. Tetapi jangan pernah berhenti atau berbalik arah.”

Pesan ini mengajarkan bahwa Allah tidak menuntut kita menjadi sempurna dalam sekejap. Yang Allah kehendaki adalah kesungguhan untuk terus berusaha.

Ketika kuat, perbanyak amal saleh. Ketika lemah, tetaplah beribadah sesuai kemampuan. Ketika jatuh dalam kesalahan, segera bangkit dan bertobat.

Jangan membandingkan perjalanan iman kita dengan orang lain. Setiap orang memiliki ujian dan proses yang berbeda.

Ada yang berlari cepat, ada yang berjalan perlahan, dan ada yang harus merangkak melewati beratnya cobaan. Namun selama arahnya tetap menuju Allah, ia berada di jalan yang benar.

Karena itu, jangan pernah lelah berjalan menuju Allah. Jika hari ini terasa berat, tetaplah melangkah.

Jika langkah terasa lambat, jangan berkecil hati. Yang paling berbahaya bukanlah berjalan lambat, melainkan berhenti atau berbalik arah.

Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita, menguatkan langkah kita dalam hijrah, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang istiqamah hingga akhir hayat. Amin. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 07/06/2026 23:06
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu