Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kamar Bung Karno Menjadi Ruang Kelas, Dua Kali Dirikan Sekolah Tertua

Iklan Landscape Smamda
Kamar Bung Karno Menjadi Ruang Kelas, Dua Kali Dirikan Sekolah Tertua
Murid HIS Muhammadiyah Peneleh Surabaya pada 1923 sebelum pindah ke Pandean setahun berikutnya (Foto: sejarahmu.umy.ac.id)

Kawasan Peneleh di Kecamatan Genteng, Surabaya, menyimpan jejak penting dalam sejarah Muhammadiyah. Di lingkungan yang dikenal sebagai tempat tinggal tokoh pergerakan nasional Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto ini, lahir dua sekolah Muhammadiyah tertua di Kota Pahlawan. Bahkan, kamar kost Bung Karno di Surabaya menjadi satu ruang kelas sekolah.

Jejak pendidikan Muhammadiyah di Surabaya bermula tidak lama setelah organisasi tersebut resmi berdiri sebagai cabang pada 1921. Setahun kemudian, mendirikan Hollandsch Inlandsche School (HIS) Muhammadiyah. Sebuah sekolah yang menjadi tonggak awal pembaruan pendidikan Islam modern di Surabaya.

Pegiat Sejarah Surabaya, Kuncarsono Prasetyo, menjelaskan bahwa HIS Muhammadiyah pertama kali berdiri di kawasan Peneleh. Lokasinya berada di Jalan Peneleh VII. Tepat di depan rumah HOS Tjokroaminoto yang saat itu menjadi pusat aktivitas pergerakan Muhammadiyah sejak 1916-an.

“Di kawasan inilah kali pertama sekolah Muhammadiyah didirikan. Sekolah tersebut dahulu berada di Jalan Peneleh VII, tepat di depan rumah HOS Tjokroaminoto,” ujar Kuncarsono kepada PWMU.CO, Sabtu (13/06/2026).

Dalam perjalanan berikutnya, ternyata minat masyarakat pribumi untuk bersekolah sangat tinggi. Mereka ramai-rama mendaftar di HIS Muhammadiyah, sehingga sekolah itu makin berkembang. Kondisi itu membuat lokasi awal tidak lagi mampu menampung jumlah siswa yang terus bertambah.

Pada 1924, HIS Muhammadiyah kemudian dipindahkan ke kawasan Pandean Gang I. Kawasan yang berada tidak jauh dari lokasi semula. Perpindahan itu dilakukan untuk menyediakan ruang belajar yang lebih memadai bagi para siswa.

“Tempat sebelumnya sudah tidak cukup menampung antusiasme masyarakat pribumi yang ingin bersekolah di sana,” kata Kuncar tentang alasan pemindahan itu. Tentang pemindahan sekolah ini, sebagian atau seluruh muridnya, memang ada dua pendapat. Ada yang mengatakan semua dipindah, tapi ada yang mengatakan hanya sebagian sebagaimana dalam laporan Jejak Perintis di Pandean, Menelusuri Akar Sekolah Pertama Muhammadiyah Surabaya.

Namun, intinya, perjalanan sekolah yang berpindah di Pandean Gang I ini belum berhenti. Empat tahun kemudian, kurang lebih tahun 1928, HIS Muhammadiyah kembali berpindah lokasi. Kali ini ke Jalan Genteng Scout, yang kemudian hari berubah nama jadi jalan Genteng Muhammadiyah. Di lokasi inilah sekolah tersebut berkembang dan kelak dikenal sebagai SD Muhammadiyah 1 Surabaya.

Perpindahan HIS ke Genteng tenyata tidak membuat minat masyarakat Peneleh untuk bersekolah, surut. Tepat pada tahun 1930, di Peneleh kembali didirikan HIS Muhammadiyah. Jika HIS 1922 bertempat di depan rumah Tjokroaminoto, HIS 1930 ini menempati bagian belakang rumah Tjokroaminoto. Cikal bakal inilah yang kemudian berkembang menjadi SD Muhammadiyah 2 Surabaya.

SMPM 5 Pucang SBY

Seiring berjalannya waktu, dua sekolah yang sama-sama berakar dari kawasan Peneleh itu menempuh perjalanan berbeda. SD Muhammadiyah 2 Surabaya terus bertahan dan berkembang di lokasi bersejarahnya. Sementara itu, SD Muhammadiyah 1 Surabaya menghadapi tantangan baru pada awal 2000-an.

Piagam pendirian SD Muhammadiyah 2 Peneleh yang berdiri ada 1930 (Foto: Abdul Kholiq/PWMU.CO)
Piagam pendirian SD Muhammadiyah 2 Peneleh yang berdiri ada 1930 (Foto: Abdul Kholiq/PWMU.CO)

Ketika pemerintah menerapkan kebijakan mengenai batas minimal jumlah murid baru, SD Muhammadiyah 1 tidak mampu memenuhinya. Kondisi itu membuat sekolah harus mengambil langkah yang tidak mudah. Para murid harus digabungkan dengan sekolah lain.

Secara geografis, SD Muhammadiyah 2 Surabaya menjadi pilihan yang paling rasional. Maka SD Muhammadiyah merger ke SD Muhammadiyah 2. “Pada tahun 2006, para murid SD Muhammadiyah 1 dimerger dengan SD Muhammadiyah 2,” jelas Kepala SD Muhammadiyah 2 Surabaya 2005–2008, Andi Hariyadi, M.Pd.I, Sabtu (13/06/2026)

Penggabungan itu seakan mempertemukan kembali dua sekolah yang lahir dari rahim sejarah yang sama. Setelah hampir seabad berjalan dengan jalannya masing-masing, keduanya kembali bersatu di kawasan Peneleh.

Menariknya, kompleks SD Muhammadiyah 2 berada di bagian belakang rumah HOS Tjokroaminoto yang kini dikenal sebagai salah satu situs penting sejarah pergerakan nasional. Dalam autobiografinya yang ditulis bersama Cindy Adams, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Soekarno pernah menggambarkan kamar kostnya di rumah Tjokroaminoto sebagai ruangan sederhana, gelap, dan berada di bagian belakang rumah.

“Keterangan tersebut memperkuat dugaan bahwa salah satu ruang yang kini menjadi bagian dari lingkungan sekolah pernah menjadi tempat tinggal sang Proklamator pada masa mudanya,” jelas Kuncar yang selama ini rutin mengkaji kesejarahan wilayah Peneleh dan sekitarnya.

Kini, penggabungan kedua sekolah tersebut bukan sekadar solusi administratif atas dinamika pendidikan. Tapi simpul sejarah yang kembali terikat erat di tanah kelahirannya. Peneleh tetap tegak berdiri sebagai monumen hidup.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 13/06/2026 20:36
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu