Kegiatan Kajian Al-Qur’an Maghrib Isya (Kamisya) yang digelar oleh Bagian Pendidikan dan Pengajaran Mata Kuliah Wajib dalam Kurikulum (BPP-MKWK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pekan ini mengusung tema “Stay Close with Qur’an”.
Kajian ini menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDA) Kota Malang, Lailatul Fithriyah Azzakiyyah, M.Pd.I. sebagai narasumber pada Kamis (23/10/2025).
Lailatul membuka kajian ini dengan sebuah pertanyaan reflektif kepada para mahasiswa.
“Bagaimana interaksi kita dengan Al-Qur’an? Coba kita perhatikan gambar-gambar ini,” ujarnya sambil menunjuk materi di layar.
Penggagas metode Tahfiz Qur’an Tematik (TQT) tersebut menyampaikan pertanyaan reflektif apakah umat sudah dekat dengan Al-Qur’an atau justru lebih akrab dengan HP.
“Apakah kita sudah dekat dengan Al-Qur’an atau justru lebih akrab dengan HP? Saat ini, waktu kita lebih banyak tersita oleh HP daripada bersama Al-Qur’an,” tuturnya.
Lebih lanjut, pengasuh Kajian Keislaman Muslimah Indonesia Diaspora itu menjelaskan hakikat Al-Qur’an sebagai mukjizat agung.
“Di antara mukjizat agung Al-Qur’an dari aspek ilmiah terdapat pada ayat, ‘Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan’ (Q.S. an-Naml: 88),” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pentingnya penelitian terletak pada bagaimana cara umat memaknai ayat tersebut.
“Bagaimana kita memaknai ayat ini? Di sinilah letak pentingnya penelitian dilakukan,” tambahnya.
Mengutip penjelasan Prof. Quraish Shihab dalam buku Mukjizat Al-Qur’an, Laila menyampaikan bahwa setelah turunnya ayat tersebut, para ilmuwan geologi melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa gunung-gunung memang mengalami pergeseran.
“Penelitian di wilayah Irak dan Suriah menemukan bahwa gunung di Irak perlahan bergerak mendekati gunung di Suriah. Hal ini membenarkan isyarat ilmiah Al-Qur’an tentang gerak bumi dan pegunungan,” tegasnya.
Mukjizat ilmiah lainnya, lanjutnya, terdapat dalam Q.S. al-Qamar ayat 13: “Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.”
Menurut Laila, penyebutan papan dan paku bukanlah tanpa makna.
“Bahan baku kapal Nabi Nuh adalah papan dan paku. Pemilihan dua kata ini dalam Al-Qur’an tentu mengandung rahasia ilmiah,” ucapnya.
Ia menambahkan, beberapa penelitian arkeologis modern juga menyinggung keberadaan kapal Nabi Nuh yang diyakini berada di sekitar Gunung Ararat, Turki.
“Temuan-temuan tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara teks Al-Qur’an dan bukti arkeologis berupa sisa-sisa struktur kayu atau papan dan pasak (paku) yang hingga kini masih terus diteliti oleh para ahli,” sambungnya.
Magnet Keberkahan Al-Qur’an
Lebih lanjut ia menegaskan bahwa ketika membaca dan mendengarkan Al-Qur’an, kita akan mendapatkan keberkahan dari-Nya. Mendengarkan saja sudah berpahala, apalagi jika kita memahami, mentadabburi, dan mengamalkan nilai-nilainya.
Menurutnya, di antara magnet keberkahan yang diperoleh dari interaksi dengan Al-Qur’an antara lain: memperoleh rahmat ketika mendengarkannya (Q.S. al-A‘raf: 204), mendapatkan pahala berlipat saat membacanya (Q.S. Fathir: 29-30), meraih hikmah dan ketenangan ketika mentadabburinya (Q.S. Shad: 29), memperoleh petunjuk hidup ketika mengamalkan kandungannya, serta mendapatkan syafaat di hari kiamat bagi para pembacanya.
Tujuh Langkah Mempelajari Al-Qur’an
Ustazah Laila juga memaparkan tujuh tahapan dalam mempelajari Al-Qur’an secara komprehensif.
1. Tartil
Membaca Al-Qur’an dengan benar, perlahan, serta memperhatikan kaidah tajwid.
2. Tarjamah
Memahami makna lafaz-lafaz Al-Qur’an secara bahasa.
3. Tafsir
Menafsirkan kandungan ayat secara lebih mendalam dengan memperhatikan konteks sejarah dan ilmu penunjang.
4. Ta‘lim
Mempelajari Al-Qur’an dari sisi ilmiah dan rasional untuk memperluas pemahaman.
5. Tadabbur
Merenungi pesan dan hikmah yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
6. Tadarus
Membaca, mempelajari, dan mengulang-ulang bacaan serta kandungannya agar maknanya semakin tertanam.
7. Tabligh
Menyampaikan dan mengajarkan isi Al-Qur’an kepada orang lain sebagai bentuk dakwah.
Ia menutup kajian dengan mengutip pernyataan dari seorang tokoh pemikiran Al-Qur’an, Abdullah Darraz.
“Ayat-ayat Al-Qur’an itu bagaikan intan, setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dari sudut lainnya. Tidak mustahil, jika kita mempersilakan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak daripada apa yang kita lihat,” paparnya.
Ungkapan tersebut, menurut Laila, menggambarkan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber inspirasi yang tak pernah habis bagi siapa pun yang ingin mempelajari dan memahaminya secara mendalam. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments