Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketua PWM Jatim Beberkan Tujuh Rahasia Muhammadiyah Bertahan Seabad

Iklan Landscape Smamda
Ketua PWM Jatim Beberkan Tujuh Rahasia Muhammadiyah Bertahan Seabad
Prof. Dr. Sukadiono, M.M bersama Jajaran PDM Sidoarjo dan jamaah. Foto: Sumardani/PWMU.CO
pwmu.co -

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M., mengungkap tujuh karakter utama yang menjadi kunci Muhammadiyah mampu bertahan, berkembang, dan terus memberi manfaat bagi umat selama lebih dari satu abad.

Hal tersebut disampaikan Sukadiono saat menjadi pemateri Pengajian Ahad Pagi yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo di Masjid An-Nur Kompleks Perguruan Muhammadiyah Sidoarjo, Ahad (19/7/2026). Selain menjabat Ketua PWM Jawa Timur, ia juga merupakan Deputi Bidang Peningkatan Kualitas Kesehatan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).

Pengajian tersebut dihadiri jajaran PDM Sidoarjo, Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Sidoarjo, pimpinan cabang dan ranting Muhammadiyah, organisasi otonom (Ortom), serta warga Persyarikatan se-Kabupaten Sidoarjo.

Dalam pengantarnya, Sukadiono menegaskan bahwa setiap organisasi pasti menghadapi dinamika dan tantangan zaman. Namun, menurutnya, Muhammadiyah memiliki karakter yang membuatnya tetap eksis sejak berdiri pada 1912.

“Muhammadiyah lahir pada masa penjajahan Belanda, melewati era Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, hingga berbagai pergantian presiden. Kini usianya telah memasuki 114 Hijriah. Ini menunjukkan daya tahan organisasi yang luar biasa,” ujarnya.

Ia menambahkan, banyak organisasi yang lahir pada periode yang hampir bersamaan, seperti Budi Utomo dan Syarikat Islam, yang kini tidak lagi berkembang sebagaimana Muhammadiyah.

“Ada organisasi yang berhenti di tengah jalan, bahkan tinggal nama. Muhammadiyah justru terus tumbuh dan berkembang,” katanya.

Tujuh Karakter Muhammadiyah

Dalam kesempatan tersebut, Sukadiono memaparkan tujuh karakter utama yang menjadi fondasi kokohnya Muhammadiyah.

Pertama, kepemimpinan yang kredibel. Menurutnya, seorang pemimpin harus memiliki kapasitas keilmuan, integritas, serta mampu mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi.

Kedua, kepemimpinan yang ikhlas. Ia menilai keikhlasan merupakan energi yang menjaga keberlangsungan Muhammadiyah hingga saat ini.

“Keikhlasan adalah energi organisasi. Muhammadiyah tetap eksis karena banyak dipimpin oleh orang-orang yang ikhlas,” tegasnya.

Sukadiono menjelaskan, dalam ber-Muhammadiyah terdapat tiga tipe orang, yakni mereka yang menjadikan Muhammadiyah sebagai tempat bekerja, sebagai batu loncatan kepentingan pribadi, dan mereka yang mengabdi dengan tulus. Menurutnya, kelompok terakhir menjadi kekuatan utama Persyarikatan.

SMPM 5 Pucang SBY

Ketiga, budaya dermawan. Ia menekankan bahwa keberkahan organisasi dipengaruhi oleh budaya memberi yang dimiliki para anggotanya.

Mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Lail ayat 5–7, ia menjelaskan bahwa Allah akan memudahkan urusan orang-orang yang gemar berinfak, bertakwa, dan membenarkan pahala terbaik.

“Semakin banyak orang yang gemar memberi, semakin besar pula keberkahan yang Allah limpahkan kepada organisasi,” tuturnya.

Keempat, etos kerja yang tinggi. Menurutnya, semangat bekerja keras menjadi salah satu kekuatan Muhammadiyah dalam menghadirkan solusi bagi masyarakat.

“Etos kerja inilah yang membuat Muhammadiyah mampu bertahan lebih dari satu abad dan terus dipercaya masyarakat,” katanya.

Kelima, mandiri. Sukadiono menegaskan bahwa Muhammadiyah harus terus memperkuat kemandirian, baik dalam aspek ekonomi, kelembagaan, maupun pemikiran agar tetap istiqamah dalam menjalankan dakwah.

Keenam, adaptif. Ia mengingatkan bahwa Muhammadiyah harus mampu mengikuti perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan transformasi digital tanpa kehilangan jati diri sebagai gerakan Islam.

Ketujuh, kolaboratif. Menurutnya, kemajuan Muhammadiyah juga ditentukan oleh kemampuannya membangun sinergi dengan berbagai pihak.

“Untuk menjaga eksistensi, Muhammadiyah harus fleksibel dan tidak kaku. Kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi kunci agar dakwah dan Amal Usaha Muhammadiyah terus berkembang serta memberi manfaat bagi umat,” tegasnya.

Melalui pengajian tersebut, PDM Sidoarjo berharap seluruh kader Muhammadiyah semakin memahami karakter dasar yang diwariskan para pendiri Persyarikatan. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal dalam menghadapi tantangan zaman dengan tetap berpegang pada prinsip Islam Berkemajuan serta terus menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan bangsa. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 19/07/2026 20:13
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu