Kisah menarik dakwah KH Ahmad Dahlan yang bertaruh nyawa disampaikan pada Akademi Sejarah Muhammadiyah 2026 Batch 2.
Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Dafam Pacific Caesar Surabaya pada Jumat-Selasa (7-11/8/2026).
Sekretaris MPID PDM Surabaya, M Miftahul Muslim SHum menjadi pengisi dalam materi “Sejarah Lisan dalam Penelitian Sejarah Lokal”, Sabtu (8/8/2026). Tidak sendirian, ia turut didampingi Anggota MPID PWM Jawa Timur, Teguh Imami MSosio.
Membuka materinya, Miftah menyampaikan salah satu kisah menarik KH Ahmad Dahlan di Banyuwangi. Cerita tersebut berasal dari sejarah Lisan yang telah dibukukan pada “Sejarah Muhammadiyah: Dari Banyuwangi untuk Negeri 1919-2000″.
“Jadi dalam sejarah lisan yang kami temui terkait dengan kedatangan Kyai Dahlan di Banyuwangi, Kyai Dahlan itu sempat diancam untuk dibunuh” terang Miftah.
Menurut Miftah, Kiai Dahlan pernah dua kali berkunjung ke Banyuwangi yang pertama ketika Kiai Dahlan. Pada kunjungan pertama, ada salah satu tokoh yang kurang bisa menerima gaya dakwah dan apa yang disampaikan Kiai Dahlan.
“Dia kemudian mengancam Kiai Dahlan dengan surat yang secara singkat menyampaikan bahwa kalau nanti kamu datang lagi ke Banyuwangi, ya taruhannya nyawamu” kisah Miftah.
Mendengar ancaman seperti itu, Kiai Dahlan tak gentar, dan bahkan datang untuk yang kedua kalinya.
“Kiai Dahlan dengan strateginya datang ke satu tujuan, menemui kepala polisi. Nah silaturahmi ini kemudian yang membuat kepala polisi itu juga simpatik dan kemudian memberikan perlindungan” ujar Miftah.
“Kemudian orang atau tokoh yang mengancam tadi malah masuk Muhammadiyah dan menjadi salah satu tokoh besar di Banyuwangi” tambahnya.
Lebih lanjut, Teguh Imami menyampaikan bahwa secara umum, ada 2 alasan warga Muhammadiyah khususnya di Jawa Timur merasa enggan untuk kisahnya dituliskan.
Pertama, menurutnya orang Muhammadiyah itu sangat tawadhu atau rendah sehingga tidak mau ceritanya diketahui orang banyak.
“Yang kedua mereka itu tidak pernah menulis, menyimpan barang seperti pedang, baju karena takut syirik” ujarnya.
Padahal, lanjut pria asal Lamongan itu, sejarah lisan menyimpan banyak potensi sejarah yang belum terkuak. “Karena banyak hikmah mutiara yang belum dituliskan dari sejarah lisan” pungkasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments