Kehidupan dunia sering kali melalaikan kita dari tujuan utama, yakni menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya menuju kehidupan akhirat. Tanpa disadari, hal-hal yang melalaikan itu justru mudah kita lakukan. Salah satunya adalah maksiat yang secara fitrah sesuai dengan kecenderungan nafsu manusia. Manusia memang tidak pernah luput dari dosa dan kesalahan. Allah adalah Rabb Yang Maha Mengampuni, tetapi ampunan-Nya tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk terus mengulangi dosa.
Karena itu, kita perlu menghindari berbagai hal yang dapat melalaikan tugas dan kewajiban. Allah telah memberikan pesan melalui firman-Nya dalam Surah Al-Furqan ayat 63:
“Wa ‘ibaadurrahmaanilladziina yamsyuuna ‘alal-ardhi haunan wa idzaa khaathabahumul-jaahiluuna qaaluu salaamaa.”
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63).
Makna Rahman dan Rahim
Kata “Rahman” dalam Al-Qur’an sering disandingkan dengan “Rahim”, seperti dalam lafaz bismillahirrahmaanirrahiim. Dalam bahasa Arab, kedua kata tersebut berasal dari akar kata yang sama, yaitu rahmah, yang berarti rahmat atau kasih sayang. Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan bahwa secara umum “Rahman” menunjukkan sifat Allah, sedangkan “Rahim” menunjukkan perbuatan Allah.
Jika keduanya berada dalam lafaz yang berbeda, maknanya dapat memiliki pengertian yang sama. Namun, ketika keduanya berada dalam satu lafaz, keduanya memiliki makna yang berbeda. “Rahman” berarti sifat Allah sebagai Sang Maha Pemberi yang mencurahkan segala kebutuhan kepada seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali. Sementara itu, “Rahim” menunjukkan kasih sayang dan rahmat Allah kepada hamba-Nya yang diridai.
Pada awal ayat Al-Furqan ayat 63, Allah menyebut hamba-Nya dengan istilah Ibaadurrahman. Penyebutan ini berbeda dari ayat-ayat lain ketika Allah menyeru orang-orang beriman dengan sebutan yaa ayyuhalladziina aamanuu dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa ayat tersebut tidak hanya berbicara tentang siapa yang paling beriman dan bertakwa, tetapi juga tentang siapa yang berharap memperoleh kasih sayang Allah Ta’ala.
Jika merujuk pada kata “Rahman” sebagai sifat kasih sayang Allah, perbuatan yang disebutkan dalam ayat tersebut menjadi bentuk implementasi sifat itu dalam kehidupan manusia. Siapa pun yang melakukannya dengan ikhlas dan mengharap rida Allah, maka sifat “Rahman” tersebut akan beralih menjadi “Rahim”. Artinya, orang yang mengamalkannya akan memperoleh rahmat dan rida dari Allah Ta’ala.
Dua Implementasi Kasih Sayang Allah
Ada dua perbuatan yang disebutkan dalam ayat tersebut sebagai bentuk implementasi kasih sayang Allah. Pertama, berjalan di atas bumi dengan rendah hati. Kerendahan hati merupakan sifat kasih sayang yang terbentuk secara alami. Secara umum, manusia menerima sifat tersebut sebagai bentuk kebaikan yang bersifat manusiawi, tanpa memandang agama dan keyakinannya.
Orang yang selalu mengutamakan kerendahan hati dalam setiap interaksi sosial telah mengimplementasikan sifat Allah dalam kehidupannya. Ketika ia mendasarkan sikap tersebut pada iman dan ketakwaan, perbuatannya akan menjadi amal yang mendapat rahmat Allah. Allah pun akan meninggikan derajatnya di tengah manusia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Wa maa tawadha’a ahadun lillaahi illaa zaadahullaahu ‘izZaa.”
“Dan tidaklah seseorang bersikap rendah hati karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya (menambah kemuliaannya).” (HR. Muslim).
Kedua, mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan. Konteks ayat ini berbicara tentang etika ketika menghadapi hinaan dari orang-orang yang buruk akhlaknya. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ketika orang-orang bodoh menilai mereka sebagai orang bodoh dan melontarkan perkataan buruk, mereka tidak membalas dengan perkataan serupa. Mereka memilih memaafkan dan hanya mengucapkan perkataan yang baik.
Cacian, hinaan, dan makian dari orang lain terkadang memicu amarah sehingga kita kehilangan kendali atas ucapan. Dalam kondisi seperti itu, Allah memerintahkan kita menahan lisan dari perkataan yang dapat menjerumuskan. Kita harus membiasakan diri mengucapkan kata-kata yang bernilai “salam”. Imam As-Sa’di menjelaskan bahwa “salam” berarti sapaan yang selamat dari dosa di dalamnya.
Menjaga Lisan, Menjaga Diri
Manusia sangat mudah mengatakan sesuatu tentang berbagai hal. Namun, tidak semua orang menyadari bahwa perkataan tertentu dapat menjerumuskannya ke dalam api neraka. Suatu ketika, seorang sahabat bernama Muadz bertanya kepada Nabi:
“Yaa nabiyyallaahi wa innaa lamu-aakhadzuuna bimaa natakallamu bihi?”
“Wahai Nabi Allah, apakah kita kelak akan dihisab atas apa yang kita katakan?”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
“Wa hal yakubbun-naasu fin-naari ‘alaa wujuuhihim au ‘alaa manaakhirihim illaa hashaa-idu alsinatihim?”
“Bukankah tidak ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya?”
Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa dosa terbesar terkadang berasal dari anggota tubuh yang paling lunak, yaitu lisan. Kita dapat menggerakkan lisan dengan mudah, tetapi setiap kata yang keluar membawa konsekuensi. Karena itu, menjaga ucapan bukan sekadar persoalan etika, melainkan bagian penting dari upaya menjaga keselamatan diri.
Kaki dan Lisan sebagai Penjaga Amal
Dari Surah Al-Furqan ayat 63, kita mengetahui bahwa perbuatan yang mengantarkan kita kepada kasih sayang Allah bersumber pada dua hal, yaitu kaki dan lisan. Tafsir Li Yudabbiru Ayatih menyebutkan bahwa kedua anggota tubuh tersebut juga banyak menggelincirkan manusia ke dalam dosa besar.
Karena itu, Allah memerintahkan manusia untuk memperhatikan langkah kaki dan perbuatannya. Kita harus memastikan setiap langkah membawa kebaikan dan setiap tindakan menghasilkan manfaat. Kita perlu terus menebarkan perdamaian dan kasih sayang di antara manusia serta meninggalkan permusuhan dan kebencian.
Demikian pula dengan lisan. Sekecil apa pun perkataan yang menyakitkan dapat menumbuhkan kebencian. Sekecil apa pun kebencian yang muncul dapat berkembang menjadi kerusakan yang lebih besar. Karena itu, menjaga langkah dan ucapan menjadi bagian penting dalam meraih kasih sayang Allah.
Pada akhirnya, kasih sayang Allah dapat kita raih melalui sikap yang sederhana tetapi memiliki dampak besar: berjalan dengan rendah hati dan berbicara dengan perkataan yang baik. Keduanya menuntut kesadaran untuk mengendalikan diri dalam setiap keadaan. Ketika kita mampu menjaga langkah dan lisan, kita tidak hanya menjaga hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga berusaha mendekat kepada rahmat dan rida Allah Ta’ala.***





0 Tanggapan
Empty Comments