Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kritik Bodoh dan Tolol pada Orang: Cerminan Diri Sendiri

Iklan Landscape Smamda
Kritik Bodoh dan Tolol pada Orang: Cerminan Diri Sendiri
Dalam logika akal saja, kata bodoh dan tolol yang ditujukan kepada orang lain juga menunjukkan kebodohan dan ketololan diri pengkritiknya. (Muhsin MK/PWMU.CO).

Oleh: Muhsin MK

Seorang guru di sekolah pendidikan guru tahun 1970-an yang biasa mengajar ilmu pasti kerap memberikan tugas pada muridnya di papan tulis soal ilmu hitung-hitungan.

Murid yang bisa menjawab di pujinya. Tapi bagi yang tidak bisa menjawabnya dia tulis di papan tulis “TOLOL”.

Si guru menyatakan muridnya tolol. Timbul pertanyaan, yang tolol siapa? Murid atau gurunya. Orang bisa berbeda persepsi.

Bisa saja itu memang muridnya yang tolol. Tapi kalau muridnya tolol tidak bisa jawab soal yang diberikan si guru, bisa juga sebaliknya. Guru yang tolol. Karena dia tidak bisa mengajar muridnya hingga jadi tolol.

Ternyata kata tolol dewasa ini yang ditujukan pada orang lain oleh seseorang individu masih tetap populer.

Ucapan yang dilontarkan oleh seorang mahasiswa kepada pemimpinnya atau kritiknya pada presiden pun keluar kata “bodoh dan tolol” dalam sebuah meme yang dipublish.

Polemik yang Terjadi

Terjadi polemik soal kata-kata bodoh dan tolol itu. Apalagi itu ditujukan kepada nama seorang presiden. Sebagian mengatakan kritik seperti itu tidak baik. Apalagi gunakan kata-kata kasar, kotor dan buruk.

Tapi ada pula yang membela ucapan mahasiswa itu. Dipandangnya wajar mahasiswa itu mengatakannya. Sebab kalau tidak seperti itu ya tidak akan diperhatikan.

Tentu apapun pandangan dan kritik yang perlu dilakukan tidak masalah. Karena kritik itu bagian dari alam demokrasi. Namun dalam konteks kritik pada pribadi karena menyebut nama ini, itulah yang menimbulkan persoalan lain.

Karena tidak mustahil mahasiswa yang telah menyampaikan kritik itu dalam kondisi tidak stabil emosinya. Apalagi karena dia mendapatkan tekanan dan buli verbal dan fisik sebelumnya.

Kondisi ini semakin membuatnya cenderung menjadi radikal dalam menyampaikan kritik.

Meskipun demikian sebagai bangsa Indonesia yang dikenal ramah tamah dan sopan santun, siapa pun perlu mengurangi kata-kata yang tidak baik dan tidak sepatutnya dilakukan.

SMPM 5 Pucang SBY

Dalam logika akal saja, kata bodoh dan tolol yang ditujukan kepada orang lain juga menunjukkan kebodohan dan ketololan diri pengkritiknya.

Seperti guru yang mengkritik muridnya tolol itu, karena tidak bisa menjawab soal yang diberikan nya. Itu juga berarti ketololan dirinya yang tidak mampu membuat muridnya faham dan mampu menjawab soal yang diberikannya dengan benar.

Apalagi seorang yang mengkritik presidennya bodoh dan tolol. Apakah juga berarti rakyat yang memilihnya bodoh dan tolol, termasuk diri pribadinya?

Kritik Zaman Kolonial

Dalam sejarah kemanusiaan dan kebangsaan di Indonesia, belum pernah terjadi seorang anak rakyat yang menyampaikan kritik dengan kata- kata bodoh dan tolol kepada presidennya. Baru di era reformasi ini.

Pada zaman kolonial para tokoh bangsa yang masih muda belia dan di antaranya masih kuliah dan jadi mahasiswa tidak pernah tercatat ada kritik mereka pada penguasa kolonial Belanda dengan mengeluarkan kata-kata bodoh dan tolol.

Justru orang-orang Belanda yang biasa lakukan dan mengucapkan sumpah serapahnya dengan “godverdomme” yang artinya “sialan dan keparat”.

Mungkin karena lamanya kolonialisme bertahta di Indonesia sehingga mendidik orang-orang Hindia Belanda dengan kata-kata kasar itu tertanam kuat sehingga membekas hingga zaman merdeka dan reformasi saat ini.

Kritik dengan ucapan kasar, kotor dan cap negatif bodoh dan tolol mungkin trauma mendalam yang telah tertanam dari zaman kolonialisme hingga saat ini, hingga masih kerap muncul.

Namun bagi seorang muslim apapun status dan kedudukan nya tetap diajarkan adab, bagi seorang anak pada orang tuanya dan demikian pula adab seorang rakyat pada pemimpinnya.

Islam mengajarkan dengan tegas tentang perlunya adab mengucapkan kata-kata yang baik. Pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 22/06/2026 17:35
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu