Ustadz Kusnadi Ikhwani, M.M.M., anggota LPCRPM PP Muhammadiyah, menyampaikan materi bertajuk Revolusi Takmir Masjid dalam kegiatan Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (AM3) Batch 3 yang digelar di Masjid Asy-Syifa RS Muhammadiyah Lamongan (RSML), Jumat (19/6/2026) sore.
Di hadapan peserta dari berbagai masjid Muhammadiyah di Jawa Timur, Kusnadi menegaskan bahwa langkah awal memakmurkan masjid adalah mengubah pola pikir atau mindset para pengelolanya.
“Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah ini hadir untuk membuka mindset agar kita berani berubah. Masjid tidak boleh hanya berjalan apa adanya, tetapi harus terus berinovasi sesuai kebutuhan umat,” ujarnya.
Ketua Takmir Masjid Raya Al-Falah Sragen itu menjelaskan bahwa memakmurkan masjid bukan sekadar mengelola bangunan atau menyelenggarakan kegiatan rutin, tetapi bagaimana menghadirkan masjid sebagai pusat pembinaan umat yang hidup dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam QS At-Taubah ayat 18:
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Menurut Kusnadi, ayat tersebut merupakan “surat keputusan” langsung dari Allah SWT tentang siapa yang berhak menjadi pemakmur masjid. Karena itu, pengurus masjid harus memiliki visi besar dalam membangun jamaah yang beriman, berilmu, dan aktif dalam kegiatan keislaman.
Dalam pemaparannya, ia juga mengangkat QS Ibrahim ayat 37 yang menunjukkan pentingnya membangun keterikatan hati manusia dengan rumah-rumah Allah.
Merangkul Anak Muda Melalui Keterlibatan
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi masjid saat ini, kata Kusnadi, adalah bagaimana menghadirkan generasi muda agar merasa dekat dan memiliki masjid.
Ia berbagi pengalaman saat mengelola Masjid Raya Al-Falah. Menjelang Ramadan, pihaknya membuka rekrutmen relawan masjid yang melibatkan para pelajar dan mahasiswa.
“Sebulan sebelum Ramadan kami membuka relawan masjid. Yang mendaftar bisa mencapai 150 orang. Mereka membantu berbagai layanan jamaah, mulai menyiapkan buka puasa, membantu kebersihan, hingga melayani kebutuhan jamaah selama Ramadan,” ungkapnya.
Melalui proses pembinaan tersebut, para relawan tidak hanya dilibatkan dalam pekerjaan teknis, tetapi juga mendapatkan pembinaan keislaman dan kepemimpinan. Dari ratusan relawan yang bergabung, sebagian kemudian tumbuh menjadi kader-kader masjid yang aktif berdakwah dan mengabdi di tengah masyarakat.
Menurutnya, generasi muda perlu diberikan ruang untuk berkontribusi. Ketika mereka merasa dihargai dan dilibatkan, masjid akan menjadi tempat yang dicintai, bukan sekadar tempat singgah untuk beribadah.
“Jangan hanya menyuruh anak muda datang ke masjid. Libatkan mereka, beri peran, beri kepercayaan, dan dampingi mereka. Dari situ akan lahir kader-kader terbaik umat,” jelasnya.
Niat Baik dan Tawakal
Pada akhir materinya, Kusnadi mengingatkan bahwa keberhasilan memakmurkan masjid tidak hanya bergantung pada kemampuan manajerial, tetapi juga pada ketulusan niat dan ketawakalan kepada Allah SWT.
Ia menegaskan bahwa berbagai program besar yang dijalankan masjid akan menemukan jalannya apabila diniatkan untuk kepentingan dakwah dan kemaslahatan umat.
“Kalau niatnya baik untuk agama Allah, pasti ada jalan. Allah akan mencukupkan rezeki orang yang bertawakal kepada-Nya dan memberikan pertolongan dari arah yang tidak disangka-sangka,” tuturnya.
Melalui materi Revolusi Takmir Masjid tersebut, Kusnadi mengajak para peserta AM3 Batch 3 untuk menjadi agen perubahan di masjid masing-masing, menghadirkan pengelolaan yang kreatif, inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan umat, khususnya generasi muda. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments