Fenomena ini menjadi potret kehidupan masyarakat modern. Banyak orang merasa panik ketika ponselnya hilang, tetapi tidak merasakan kegelisahan yang sama ketika imannya mulai memudar.
Coba renungkan sejenak. Jika ponselmu hilang hari ini, apa yang akan kamu lakukan?
Hampir bisa dipastikan kamu akan segera mencarinya ke mana-mana. Menghubungi teman, melacak lokasinya, mendatangi tempat terakhir yang dikunjungi, bahkan rela mengeluarkan banyak waktu dan uang demi mendapatkannya kembali.
Sebab, di dalam ponsel tersimpan kontak, foto, pekerjaan, rekening, hingga berbagai kenangan yang dianggap berharga.
Namun, bagaimana jika yang perlahan hilang adalah iman?
Apakah kita akan merasa sepanik itu?
Ataukah justru kita tidak menyadari bahwa iman sedang memudar sedikit demi sedikit? Bukan hilang dalam semalam, melainkan terkikis oleh kebiasaan yang terus diulang setiap hari.
Iman memudar ketika azan berkumandang, tetapi notifikasi ponsel lebih cepat mendapat perhatian.
Iman memudar ketika jari-jari lebih rajin menggulir layar daripada membuka mushaf Al-Qur’an.
Iman memudar ketika waktu berjam-jam dihabiskan untuk media sosial, tetapi beberapa menit untuk berzikir terasa begitu berat.
Iman memudar ketika baterai ponsel hampir habis kita segera mencari pengisi daya, tetapi hati yang kosong dari mengingat Allah dibiarkan begitu saja.
Bahkan, tidak sedikit orang yang merasa cemas saat kehilangan sinyal internet, sementara sudah berhari-hari meninggalkan salat berjemaah tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)
Pada masa kini, yang paling sering melalaikan manusia mungkin bukan hanya harta atau anak. Bisa jadi, benda kecil yang hampir tidak pernah lepas dari genggaman itulah yang menjadi penyebabnya: ponsel.
Sesungguhnya ponsel bukanlah musuh. Teknologi juga bukan sesuatu yang harus dimusuhi. Ponsel dapat menjadi sarana mencari ilmu, berdakwah, bekerja, dan mempererat silaturahmi.
Namun, ketika penggunaannya tidak lagi dikendalikan oleh hati yang bertakwa, ia dapat berubah menjadi pintu kelalaian yang menjauhkan seseorang dari Allah.
Karena itu, persoalannya bukan terletak pada ponselnya, melainkan pada siapa yang mengendalikan siapa. Apakah kita yang menguasai ponsel, atau justru ponsel yang menguasai hidup kita?
Rasulullah saw. bersabda: “Bersegeralah beramal sebelum datang berbagai fitnah seperti potongan malam yang gelap. Seseorang pada pagi hari masih beriman, lalu pada sore hari menjadi kafir. Atau pada sore hari masih beriman, lalu pada pagi hari menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi sedikit keuntungan dunia.” (HR. Muslim)
Mungkin kita tidak pernah berniat menjual agama. Namun, setiap kali urusan dunia selalu didahulukan, sedangkan perintah Allah terus ditunda, bukankah itu pertanda bahwa arah hati mulai bergeser?
Jika hari ini layar ponselmu retak, kamu pasti ingin segera memperbaikinya. Jika baterainya melemah, kamu segera mengisi dayanya. Jika sistemnya bermasalah, kamu rela membawanya ke tempat servis.
Lalu, bagaimana jika yang retak adalah iman? Bagaimana jika hati mulai mengeras, salat semakin jarang, Al-Qur’an semakin asing, dan doa hanya terucap ketika sedang kesulitan?
Jangan menunggu sampai iman benar-benar hilang. Segeralah kembali kepada Allah dengan bertobat, memperbaiki salat, memperbanyak membaca Al-Qur’an, berzikir, dan menghadiri majelis ilmu.
Sebab ponsel yang hilang masih bisa diganti dengan yang baru. Namun, jika iman benar-benar hilang dari hati, tidak ada yang mampu mengembalikannya selain Allah Swt.
Maka, jangan hanya takut kehilangan benda yang ada di genggaman. Takutlah kehilangan cahaya yang ada di dalam hati. Karena ponsel hanya menemani kehidupan dunia, sedangkan iman akan menentukan keselamatan kita di dunia, di alam kubur, hingga kehidupan akhirat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments