Banyak orang pada zaman sekarang langsung menyerah ketika memasuki usia kepala empat. Muncul sebuah mental block atau anggapan keliru bahwa usia menjadi penghalang untuk berkembang.
“Sudah tua, otak sudah tidak mampu lagi berpikir keras, susah menghafal, dan terlambat untuk belajar hal baru.”
Faktor usia kerap dijadikan kambing hitam atas rasa malas dan ketidakmauan untuk berubah. Padahal, sejarah Islam mencatat sosok besar yang mampu mematahkan mitos tersebut, yakni Imam Al-Kisa’i.
Sebelum dikenal sebagai ulama besar, Imam Al-Kisa’i hanyalah seorang penggembala kambing sederhana hingga usia 40 tahun. Kehidupannya jauh dari dunia kitab, pena, dan majelis ilmu. Namun, sebuah kalimat yang terdengar sederhana justru mengubah jalan hidupnya untuk selamanya.
Suatu hari, Imam Al-Kisa’i mendengar seorang ibu membujuk anaknya agar mau pergi mengaji. Karena sang anak terus mengeluh dan enggan belajar, ibunya menunjuk ke arah Al-Kisa’i seraya berkata:
“Wahai anakku, pergilah belajar! Supaya nanti ketika dewasa kamu tidak menjadi orang yang bodoh seperti penggembala ini.”
Kalimat tersebut terasa seperti petir di siang bolong. Hatinya terguncang dan batinnya terusik. Dalam hati beliau bergumam:
“Apakah diriku ini sudah menjadi simbol universal dari sebuah kebodohan?”
Ucapan itu tidak membuatnya tenggelam dalam kemarahan ataupun keputusasaan. Sebaliknya, penghinaan tersebut justru menjadi titik balik yang melahirkan perubahan besar dalam hidupnya.
Di era sekarang, tidak sedikit orang yang ketika dihina justru meluapkan emosi di media sosial atau larut dalam keterpurukan. Namun Imam Al-Kisa’i memilih jalan berbeda. Ia mengubah rasa sakit hati menjadi energi untuk bangkit.
Beliau menjual seluruh kambing gembalaannya untuk dijadikan modal belajar. Keputusan itu menunjukkan keseriusan dan totalitas dalam mengejar ilmu.
Pada usia ketika banyak orang mulai berpikir tentang kenyamanan hidup, Imam Al-Kisa’i justru memulai perjalanan intelektualnya. Ia melakukan rihlah ilmiah ke Basrah dan Kufah untuk belajar kepada para ulama besar.
Beliau mendalami ilmu tata bahasa Arab (Nahwu) dan Al-Qur’an dengan himmah atau tekad yang luar biasa tinggi.
Hasilnya sangat menakjubkan. Imam Al-Kisa’i tidak sekadar menjadi orang yang mampu membaca dan menulis, tetapi tumbuh menjadi salah satu dari tujuh Imam Qira’at Utama (Qira’at Sab’ah) serta Imam Besar Mazhab Nahwu Kufah.
Keilmuannya diakui luas dalam dunia Islam. Bahkan, beliau dipercaya menjadi guru bagi putra-putra Khalifah Harun Al-Rasyid.
Melawan Mitos “Otak Tua”
Kisah Imam Al-Kisa’i menjadi tamparan keras sekaligus motivasi besar bagi masyarakat modern yang sering menjadikan usia sebagai alasan berhenti belajar.
Sains modern melalui konsep Neuroplasticity membuktikan bahwa otak manusia mampu membentuk koneksi baru sepanjang hayat.
Artinya, kesulitan menghafal Al-Qur’an, belajar bahasa, atau menguasai teknologi di usia dewasa bukan semata-mata karena faktor usia. Persoalan utamanya sering kali terletak pada kemauan, fokus, dan konsistensi.
Imam Al-Kisa’i memberikan pelajaran penting tentang bagaimana merespons hinaan secara elegan. Ucapan merendahkan tidak dijadikan racun yang melemahkan diri, tetapi diubah menjadi bahan bakar perubahan.
Keputusan beliau menjual seluruh kambingnya menunjukkan bahwa perubahan nasib membutuhkan keberanian meninggalkan rutinitas lama yang tidak produktif.
Perjalanan hidup Imam Al-Kisa’i menjadi bukti nyata firman Allah dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11 bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu.
Dari seorang penggembala yang dianggap simbol kebodohan, beliau diangkat menjadi rujukan ulama lintas generasi.
Jika Imam Al-Kisa’i yang hidup pada abad ke-2 Hijriah tanpa fasilitas modern mampu mematangkan hafalan dan ilmunya di usia lebih dari 40 tahun, maka sesungguhnya alasan untuk berhenti belajar semakin sulit dibenarkan.
Hari ini kita hidup dengan kemudahan akses ilmu melalui kitab digital, video pembelajaran, rekaman murattal, hingga teknologi kecerdasan buatan.
Lalu, alasan apa lagi yang tersisa untuk mengatakan:
“Saya sudah terlalu tua untuk belajar?”
Kisah inspiratif tentang semangat belajar Imam Al-Kisa’i diabadikan dalam kitab klasik Tabaqat an-Nahwiyin Wa-Lughowiyin karya Abu Bakar az-Zubaidi.
Kisah tersebut menjadi bukti autentik bahwa tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu selama semangat dan tekad masih menyala.





0 Tanggapan
Empty Comments