
Takmir Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran saat mengikuti Kelas Media Kemasjidan secara online oleh Masjid Raya Al-Falah Sragen. (Bayu Firdaus/PWMU.CO).
PWMU.CO – Takmir Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran mengikuti Kelas Media Kemasjidan secara online oleh Masjid Raya Al-Falah Sragen selama tiga hari, Selasa-Kamis (13-15/05/2025).
Ketua Takmir Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran Ridwan Manan SPd MPd mengatakan agenda kelas media ini terhadiri langsung oleh pengurus takmir. Mereka adalah Gurit Rahmadhani, Hilmi Hidayatulloh P.A dan Bayu Firdaus secara online.
Ketiga pengurus takmir tersebut merupakan penggagas dan pelaku dunia konten dan ide kreatif untuk masjid ar-Royyan.
“Dalam menyongsong era digital, masjid harus siap dan melek terhadap perkembangan yang ada, salah satunya menggunakan media sosial dalam syiar program kemasjidan. Banyak sekali manfaat yang akan didaptkan jika semua masjid mengikuti perkembangan dunia teknologi” ujar Ridwan.
Berbagi Problem Kemasjidan
Dalam kelas tersebut, turut hadir Prof Kusnadi Ihwani selaku ketua takmir masjid Raya Al-Falah Sragen. Tidak sendirian, ia hadir beserta tim media Masjid raya Al-Falah, di antaranya Dio, Agung, Rijal, serta Romadhon.
Kegiatan yang teramaikan oleh ratusan peserta dari seluruh penjuru Indonesia ini menjadi langkah awal pegiat media sosial kemasjidan untuk dapat berjumpa dan bertukar pikiran perihal problem yang terjadi di lapangan.
Ada yang bercerita tentang pengurus Takmirnya Kolot dan gaptek sehingga tidak mau akan adanya sosial media untuk masjid. Ada pula yang merasa sangat sulit mencari anak muda untuk peduli terhadap masjid, serta kendala lain yang berbeda beda.
Beberapa materi fundamental kemasjidan terbahas dalam kelas online tersebut. Materi dasar dijabarkan dalam pembagian tipe dan jenis masjid yang harus dipahami untuk menentukan pola jamaah serta model kegiatan yang cocok.
Beberapa jenis masjid juga dibedakan, antara lain Masjid Perumahan, Masjid Kampus atau Sekolah, Masjid Kampung, Masjid Transit, Masjid Wisata dan lain lain.
Selanjutnya, pembahasan berlanjut pada keadaan Masjid Darurat Anak Muda dan Masjid Darurat Media.
Nyatanya, beberapa Masjid di Indonesia ternyata masih beranggapan bahwa media sosial tidak memiliki peran dalam perkembangan masjid. Baik dari segi penambahan jamaah ataupun dari segi finansial, padahal Masjid tanpa media akan menjadi masjid yang tertinggal.
Kategorisasi Anak Muda dan Masjid
Kemudian pada hari ketiga, berlangsung pembahasan mengenai Masjid Darurat Anak Muda. Anak muda saat ini terbagi dalam ring atau kluster yang berbeda-beda.
Misalnya pada ring 1, yang persentasenya kurang dari 1 persen terisi oleh anak-anak muda yang telah siap mengabdikan dirinya kepada masjid secara personal.
Selanjutnya Ring 2 yaitu anak muda Penikmat Dakwah, yang selalu menghadiri kajian kajian islam di beberapa tempat, namun belum mau untuk mengurus masjid.
Adapun Ring 3 yaitu anak anak muda yang sedang hijrah, namun masih melakukan perbuatan maksiat. Sedangkan ring 4 adalah anak muda yang masih membenci dan memushi dakwah.
Dalam ke empat ring tersebut, harus sanggup dipetakan untuk kemudian dapat dirumuskan persoalan dan penyelesaian sesuai kebutuhan pada tiap masjid.
Di akhir sesi, Agung selaku salah satu pemateri menyampaikan bahwa Takmir Masjid yang berani mengunci Pintu Masjid itu Maqom nya luar biasa. Karena ia berani mengunci Allah di dalam rumah-Nya.
Lantas bagaimana nanti jika ada hambanya yang datang dan hendak bertemu dengan Allah dirumah-Nya. Karena bagaimanapun, kita sebagai umat islam harus percaya bahwa apapun masalahnya, masjid adalah solusi.
Masjid bukan hanya tempat yang suci dan untuk orang suci. Namun, masjid juga memiliki peran sebagai tempat menyucikan diri bagi siapapun itu.
Penulis Bayu Firdaus, Editor Danar Trivasya Fikri





0 Tanggapan
Empty Comments