Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., mengajak orang tua, guru, dan seluruh elemen masyarakat untuk lebih memperhatikan tumbuh kembang anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Ajakan tersebut disampaikan saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional bertema “Anak Indonesia Bahagia, Indonesia Kuat” di Auditorium Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Sabtu (25/7/2026).
Seminar yang mengusung tagline “Stop Kekerasan terhadap Anak! Dengarkan Suara Anak, Wujudkan Generasi Berkemajuan” itu menjadi bagian dari rangkaian Puncak Peringatan Hari Anak Nasional 2026.
Kegiatan dihadiri ribuan peserta dari berbagai daerah, mulai dari guru, siswa, organisasi otonom Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Jawa Timur, Ikatan Guru Bustanul Athfal (IGABA), LAZISMU, hingga sejumlah tamu undangan.
Turut hadir pula Wakil Gubernur Jawa Timur, Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), serta berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan dan perlindungan anak.
Dalam paparannya, Abdul Mu’ti menyoroti perubahan pola kehidupan anak pada era digital.
Menurutnya, kemudahan teknologi membuat banyak anak menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar gawai dibandingkan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar.
Ia mengingatkan bahwa penggunaan gawai secara berlebihan dapat memengaruhi proses tumbuh kembang anak apabila tidak diimbangi dengan aktivitas fisik, sosial, dan pengalaman belajar secara langsung.
“Anak – anak perlu memperoleh stimulasi motorik dan sensorik melalui berbagai aktivitas sosial dan permainan edukatif. Pengalaman langsung tersebut akan membantu mereka berkembang secara optimal sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan mencari solusi ketika menghadapi berbagai persoalan”, ujarnya.
Karena itu, Abdul Mu’ti mengajak orang tua dan guru membatasi penggunaan gawai secara bijaksana sekaligus memberikan lebih banyak kesempatan kepada anak untuk bermain, bergerak, dan belajar di luar ruangan.
Selain membahas tantangan era digital, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya membangun komunikasi yang hangat antara orang tua, guru, dan anak.
Ia menilai pendidikan tidak hanya berisi nasihat dan arahan, tetapi juga membutuhkan ruang bagi anak untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan harapannya.
Menurutnya, orang dewasa harus memiliki kesediaan untuk benar-benar mendengarkan suara anak agar tercipta hubungan emosional yang sehat.
“Oleh karena itu, jadilah orang tua yang bijaksana dan guru yang dicintai murid – muridnya, yaitu mereka yang bersedia mendengar isi hati anak, memahami kebutuhannya, kemudian membimbingnya dengan kasih saying”, pesannya.
Seminar nasional tersebut menjadi momentum memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak.
Melalui kolaborasi keluarga, sekolah, organisasi masyarakat, dan pemerintah, diharapkan terbentuk ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan generasi Indonesia yang sehat, bahagia, berkarakter, serta siap menghadapi tantangan masa depan.
Tema “Anak Indonesia Bahagia, Indonesia Kuat” juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan bangsa tidak hanya diukur dari kemajuan teknologi, tetapi juga dari kemampuan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga, melindungi, mendengar, dan mendampingi setiap anak Indonesia menuju generasi yang berkemajuan.





0 Tanggapan
Empty Comments