Belakangan ini, Muhammadiyah seolah sedang berada dalam sorotan. Media sosial dipenuhi berbagai konten tentang sekolah-sekolah unggulan, rumah sakit modern, perguruan tinggi berprestasi, gerakan filantropi yang masif, hingga kader-kader muda yang tampil cerdas dan percaya diri di ruang publik.
Fenomena tersebut tentu patut disyukuri. Semakin banyak masyarakat yang mengenal Muhammadiyah, semakin luas pula peluang dakwah dan kontribusi yang dapat dilakukan untuk umat dan bangsa.
Namun di balik apresiasi dan kekaguman itu, ada satu pertanyaan penting yang perlu direnungkan bersama:
Apakah kita sedang melahirkan kader, atau hanya mengumpulkan penggemar?
Kekaguman memang dapat menjadi pintu masuk yang baik. Akan tetapi, kekaguman saja tidak cukup untuk menjaga keberlangsungan sebuah gerakan besar. Organisasi tidak dibangun oleh mereka yang hanya pandai mengagumi dari kejauhan. Ia tumbuh dan bertahan karena ada orang-orang yang tetap bekerja ketika sorotan telah padam dan tepuk tangan telah berhenti.
Muhammadiyah yang tampak besar hari ini tidak lahir secara instan. Ia berdiri di atas kerja sunyi ribuan kader yang mungkin tidak pernah dikenal publik.
Ada guru yang tetap mengajar dengan penuh dedikasi meski kesejahteraannya terbatas. Ada pengurus ranting yang setia menghidupkan pengajian meski jamaah tidak selalu ramai. Ada relawan yang berangkat ke daerah bencana tanpa berharap pujian maupun penghargaan.
Mereka tidak sibuk membangun citra.
Mereka sibuk membangun amal.
Karena itu, jangan bergabung dengan Muhammadiyah hanya karena organisasi ini sedang populer.
Jangan pula datang karena merasa telah menemukan kelompok yang paling benar. Apalagi menjadikan Muhammadiyah sebagai alat untuk merendahkan organisasi Islam lainnya.
Muhammadiyah bukan panggung untuk menunjukkan superioritas.
Muhammadiyah adalah ladang amal yang menguji ketulusan.
Di dalam gerakan ini, ukuran seseorang bukan seberapa lantang ia berbicara tentang Muhammadiyah, melainkan seberapa besar kontribusi yang mampu ia berikan untuk kemajuan umat.
Perlu disadari bahwa Muhammadiyah bukanlah organisasi yang steril dari persoalan.
Sebagaimana organisasi besar lainnya, Muhammadiyah juga menghadapi berbagai tantangan. Ada perbedaan pandangan yang harus dikelola dengan bijak. Ada kelelahan kader yang membutuhkan perhatian. Ada ketimpangan perkembangan antarwilayah. Ada proses kaderisasi yang belum berjalan optimal di beberapa tempat. Bahkan ada amal usaha yang terus berjuang agar tetap hidup dan berkembang.
Karena itu, menjadi bagian dari Muhammadiyah berarti siap menghadapi realitas, bukan sekadar menikmati romantisme sejarah.
Mencintai Muhammadiyah bukan hanya menikmati cerita tentang masa lalu yang gemilang, tetapi juga ikut memikul tanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi hari ini.
Di sisi lain, kader-kader senior juga perlu melakukan refleksi.
Jangan sampai Muhammadiyah berubah menjadi rumah tua yang pintunya sulit dibuka bagi generasi baru.
Jangan terlalu mudah mencurigai mereka yang baru datang. Jangan merasa paling berhak hanya karena lebih dahulu berada dalam gerakan.
Tugas generasi terdahulu bukan menjaga pagar setinggi mungkin.
Tugas mereka adalah memastikan api perjuangan tetap menyala dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Muhammadiyah akan kehilangan masa depannya jika kader mudanya hanya menjadi penggemar.
Namun Muhammadiyah juga akan kehilangan masa depannya jika kader lamanya sibuk menjadi penjaga gerbang.
Keduanya sama-sama berbahaya bagi keberlanjutan gerakan.
Pada akhirnya, Muhammadiyah tidak membutuhkan orang yang sekadar bangga mengenakan identitasnya.
Muhammadiyah membutuhkan orang-orang yang bersedia memikul bebannya.
Sebab sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang hanya bertepuk tangan dari kejauhan.
Sejarah ditulis oleh mereka yang memilih turun tangan.
Maka jika ingin menjadi bagian dari Muhammadiyah, jangan terlebih dahulu bertanya apa yang bisa didapatkan dari Muhammadiyah.
Tanyakanlah:
Amal apa yang bisa dihidupkan melalui Muhammadiyah?
Pertanyaan itulah yang akan membedakan antara seorang penggemar dan seorang kader.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung pihak atau pribadi tertentu. Tulisan ini merupakan refleksi bersama, sekaligus pengingat bagi penulis sendiri bahwa Muhammadiyah bukan sekadar identitas yang dibanggakan, melainkan amanah yang harus diperjuangkan dengan ketulusan, pengorbanan, dan kerja nyata.





0 Tanggapan
Empty Comments