Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wiyung Kota Surabaya kembali menggelar Kajian Ahad Pagi di Masjid At-Taqwa Perguruan Muhammadiyah Wiyung, Ahad (2/8/2026). Mengangkat tema Safar Tanpa Baper: Menghadapi Takdir dengan Ridha dan Tawakal, kegiatan ini menghadirkan Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, Imam Sapari, S.H.I., M.Pd.I., sebagai narasumber.
Kajian diikuti jajaran PCM Wiyung, Pimpinan Cabang Aisyiyah Wiyung, organisasi otonom Muhammadiyah, pimpinan amal usaha Muhammadiyah, kepala sekolah, guru, pengelola lembaga sosial, takmir masjid, serta warga Muhammadiyah di wilayah Wiyung. Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda rutin bulanan Majelis Tabligh PCM Wiyung untuk memperkuat pemahaman keislaman sekaligus mempererat silaturahmi antarkader Persyarikatan.
Sekretaris PCM Wiyung, Ferry Yudi Antonis Saputro, M.Pd.I., dalam sambutannya mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk terus menghidupkan budaya menghadiri kajian rutin sebagai sarana memperdalam ilmu agama sekaligus memperkuat gerakan dakwah Persyarikatan.
“Mari kita terus menghidupkan Kajian Ahad Pagi sebagai ruang belajar bersama sekaligus mendukung berbagai program PCM Wiyung agar dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Dalam kajiannya, Imam Sapari menjelaskan bahwa kehidupan hakikatnya merupakan perjalanan panjang menuju akhirat. Karena itu, setiap muslim perlu memandang dunia sebagai tempat singgah, bukan tujuan akhir kehidupan.
Ia mengingatkan bahwa manusia sering kali terlalu larut dalam perasaan ketika menghadapi kehilangan, kegagalan, maupun ketidakpastian hidup. Padahal, sikap terbaik dalam menghadapi setiap ketentuan Allah Swt adalah ridha, sabar, dan bertawakal.
Mengutip hadis Rasulullah Saw, Imam Sapari mengajak jamaah menjalani kehidupan layaknya seorang musafir yang tidak berlebihan mencintai dunia karena seluruh perjalanan hidup pada akhirnya akan bermuara kepada Allah Swt.
Selain itu, ia mengutip QS At-Thalaq ayat 2–3 tentang jaminan pertolongan Allah bagi orang-orang yang bertakwa, serta QS Al-Baqarah ayat 197 yang menegaskan bahwa sebaik-baik bekal kehidupan adalah ketakwaan.
Menurutnya, ketakwaan menjadi bekal utama dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Dengan bekal tersebut, seseorang akan lebih mudah menerima takdir Allah sekaligus tetap berusaha secara maksimal tanpa kehilangan harapan.
Imam Sapari juga mengajak jamaah membangun kebiasaan melakukan muhasabah, memilih lingkungan pergaulan yang baik, mengurangi distraksi digital, memperkuat pola pikir positif, serta membangun keluarga yang berorientasi pada nilai-nilai keislaman.
“Kehidupan ini adalah safar yang singkat namun sangat menentukan. Jangan habiskan energi untuk terlalu larut pada hal-hal duniawi. Jadilah musafir yang tangguh, tetap bertawakal, dan mempersiapkan bekal terbaik menuju akhirat,” pesannya.
Kajian berlangsung interaktif dengan sesi dialog antara narasumber dan peserta. Sejumlah jamaah turut menyampaikan pertanyaan serta berbagi pengalaman mengenai upaya menjaga ketenangan hati dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Melalui Kajian Ahad Pagi ini, PCM Wiyung berharap warga Muhammadiyah semakin memahami pentingnya ridha, tawakal, dan ketakwaan sebagai fondasi dalam menjalani kehidupan. Kajian rutin tersebut juga diharapkan terus menjadi media penguatan ukhuwah, pembinaan keislaman, serta penggerak dakwah Muhammadiyah di wilayah Wiyung. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments