Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Para Pendekar, Secangkir Kopi, dan Masa Depan Tapak Suci

Iklan Landscape Smamda
Para Pendekar, Secangkir Kopi, dan Masa Depan Tapak Suci
Penulis di loksi pelaksanaan Muktamar XVI Tapak Suci di Unimus. Foto: Dok/Pri

Semarang belum sepenuhnya tidur ketika saya tiba di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Kamis malam (6/8/2026).

Di tengah keremangan malam, panggung besar berdiri di jantung kota. Lampu-lampu mulai diuji. Kabel menjulur di sejumlah sudut. Sound system disiapkan.

Tenda-tenda pendukung berdiri. Para pekerja dan panitia masih bergerak, memastikan satu demi satu kebutuhan upacara pembukaan Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah siap digunakan.

Belum ada ribuan pendekar. Belum ada derap langkah para peserta. Belum ada pekik kebesaran Tapak Suci.

Tetapi malam itu, saya seperti bisa merasakan sesuatu yang sedang tumbuh.

Sabtu (8/8/2026), Lapangan Pancasila akan berubah menjadi ruang perjumpaan ribuan pendekar dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari sejumlah negara. Kota Semarang akan menjadi panggung pembukaan sebuah perhelatan besar yang bukan sekadar agenda organisasi lima tahunan.

Ada sejarah yang hendak dirawat. Ada persaudaraan yang hendak dipertemukan. Dan ada masa depan yang sedang dijemput.

Saya datang ke Semarang sejak Rabu, sehari sebelum Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah berlangsung pada 6–9 Agustus 2026 di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus). Selain menjalankan tugas, saya sengaja menyisihkan waktu untuk mengikuti dari dekat denyut kehidupan Muktamar.

Saya ingin melihat Muktamar bukan hanya dari daftar agenda dan hasil persidangan. Saya ingin melihat wajah manusianya.

Sebab organisasi pada akhirnya bukan hanya tentang keputusan yang tertulis dalam berita acara. Organisasi adalah tentang orang-orang yang datang, bertemu, berbincang, berbeda pandangan, lalu pulang dengan membawa harapan yang sama.

Muktamar yang Hidup di Lorong-Lorong

Memasuki kawasan Unimus, suasana Muktamar terasa semakin nyata. Stan-stan bazar berjejer di arena kampus. Kaus, jaket, pin, topi, atribut organisasi, hingga berbagai cendera mata Tapak Suci ditawarkan kepada peserta dan pengunjung.

Di antara keramaian itu, aroma makanan dan minuman dari pelaku UMKM ikut mengisi udara.

Muktamar ternyata tidak hanya hidup di ruang persidangan. Ia hidup di lorong-lorong kampus.

Hidup dalam percakapan dua orang yang baru saja berkenalan. Dalam pelukan sahabat lama yang bertahun-tahun tak berjumpa.

Dalam obrolan pendek tentang perkembangan Tapak Suci di sebuah kabupaten. Dalam tawar-menawar sebuah kaus. Dalam secangkir kopi yang diminum sambil menunggu sidang berikutnya.

Ribuan peserta yang datang juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Pedagang mendapatkan pembeli. Pelaku UMKM memperoleh ruang promosi. Penginapan, transportasi, kuliner, hingga berbagai usaha pendukung ikut bergerak.

Tetapi yang lebih menarik bagi saya adalah bagaimana Muktamar mempertemukan kembali orang-orang yang selama ini hanya berkomunikasi melalui telepon dan pesan singkat.

Di sini mereka bertemu dalam bentuk manusia yang utuh. Bersalaman. Berpelukan. Tertawa. Bercerita. Dan mengenang masa lalu.

Sebagai bagian dari keluarga besar Tapak Suci dengan status Pendekar Muda, saya hadir bukan sebagai peserta resmi Muktamar. Saya tidak berada di dalam ruang persidangan. Karena itu, saya melihat dinamika Muktamar dari luar.

Awalnya saya mengira posisi tersebut akan membuat saya kehilangan banyak hal. Ternyata tidak Justru dari luar ruang sidang, saya bisa menyaksikan sisi lain Muktamar yang sering luput dari catatan resmi.

Sidang Pleno I dimulai dengan agenda-agenda yang secara sepintas terlihat administratif: pengesahan kuorum, jadwal Muktamar, tata tertib persidangan, hingga pemilihan dan penetapan pimpinan sidang tetap.

Namun di balik agenda yang tampak formal itu terdapat sesuatu yang jauh lebih penting: tradisi musyawarah.

Sebuah organisasi tidak dibangun hanya oleh semangat. Ia membutuhkan aturan yang disepakati, mekanisme yang dihormati, serta kesediaan setiap orang untuk menerima keputusan bersama. Dari situlah demokrasi organisasi bekerja.

Setelah agenda awal, persidangan berlanjut pada penyampaian Laporan Pertanggungjawaban Pimpinan Pusat Tapak Suci. Dilanjutkan dengan pandangan umum peserta Muktamar, penyerahan laporan tertulis dari Pimpinan Wilayah dan Perwakilan Wilayah, serta jawaban Pimpinan Pusat atas berbagai pandangan yang berkembang.

Di atas kertas, semua itu adalah agenda persidangan. Tetapi di baliknya terdapat pertanyaan yang lebih besar: Ke mana Tapak Suci hendak dibawa?

Bagaimana organisasi ini menjaga jati dirinya ketika zaman berubah begitu cepat?

Dan bagaimana tradisi kependekaran tetap hidup ketika dunia semakin digital, terbuka, dan kompetitif?

Di sela persidangan, saya memilih menikmati secangkir kopi. Saya berbincang santai dengan Drs. Mahfud, M.H., P. Ua., Ketua Pimda 06 Surabaya; Mayor Kris Sutikno Hadi, S.T., P.Ma.; dan Mayor Cba. Achmad Hadi Iswanto, P.Ma.

Obrolan kami tidak seperti rapat. Tidak ada meja panjang. Tidak ada palu sidang. Tidak ada agenda yang harus diselesaikan.

Kami berbicara tentang perjalanan Tapak Suci. Tentang pembinaan. Tentang organisasi. Tentang masa lalu. Dan tentu saja tentang masa depan.

Sesekali pandangan kami tertuju ke arah pintu ruang sidang. Peserta keluar-masuk. Sebagian berdiskusi serius. Sebagian lain terlihat santai menyapa kawan lama.

Di situlah saya kembali menemukan makna Muktamar. Barangkali keputusan penting memang lahir di ruang sidang.

Tetapi persaudaraan sering kali justru tumbuh di luar ruang sidang. Ia tumbuh di lorong. Di kantin.

Di halaman kampus. Di warung kopi. Bahkan dalam pertemuan singkat dua orang yang sebelumnya tidak saling mengenal.

Dari informasi yang saya peroleh, dinamika persidangan berlangsung gayeng, tertib, dan dalam suasana kekeluargaan.

SMPM 5 Pucang SBY

Pandangan umum dari berbagai wilayah memang menyampaikan kritik dan masukan. Tetapi kritik tidak diarahkan untuk menjatuhkan.

Ia ditempatkan sebagai bentuk kecintaan terhadap organisasi. Usulan tidak diposisikan sebagai kepentingan kelompok semata. Ia diarahkan untuk mencari jalan agar Tapak Suci semakin kuat.

Saya kira ini penting. Sebab organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak memiliki perbedaan.

Organisasi yang sehat justru adalah organisasi yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan.

Di tengah zaman ketika perbedaan sering kali dengan mudah berubah menjadi pertentangan, Muktamar Tapak Suci memberikan gambaran lain: bahwa perbedaan pandangan bisa tetap berada dalam satu rumah besar. Rumah itu bernama persaudaraan.

Menjelang penghujung hari, pembicaraan tentang sembilan formatur mulai terdengar di berbagai sudut arena Muktamar.

Nama-nama dari sejumlah wilayah mulai disebut. Dari Jawa Timur, beberapa nama ikut menjadi perbincangan, di antaranya Prof. Sasmito, P. Br. Jati, Ketua Pimwil Tapak Suci Jawa Timur; Drs. Mahfud, M.H., P. Ua., Ketua Pimda 06 Surabaya; Fanan Hasanudin, P.Br.; serta Chairul Muriman, P. Ua.

Namun yang menarik bukan sekadar siapa yang disebut. Yang menarik adalah bagaimana nama-nama itu dibicarakan. Tidak terdengar sebagai perebutan kekuasaan. Tidak pula terasa seperti pertarungan politik praktis.

Semua mengalir sebagai bagian dari ikhtiar menemukan orang yang dinilai mampu memikul amanah.

Di sinilah saya melihat perbedaan penting antara kontestasi politik dan musyawarah dalam tradisi Persyarikatan. Jabatan bukan tujuan. Jabatan adalah amanah.

Karena itu, siapa pun yang nantinya dipercaya bukan sedang memenangkan pertarungan. Ia sedang menerima beban tanggung jawab.

Dan amanah selalu membawa konsekuensi. Semakin tinggi posisi, semakin besar tanggung jawab yang harus dipikul.

Berakar Tradisi, Menjemput Masa Depan

Tema Muktamar XVI Tapak Suci, “Berakar Tradisi Menuju Tapak Suci Modern, Mandiri, dan Mendunia”, terasa semakin menemukan maknanya setelah melihat Muktamar dari dekat.

Tradisi adalah akar. Tanpa akar, pohon mudah tumbang.

Tapak Suci tumbuh dari tradisi Muhammadiyah, dari nilai-nilai Islam, dari semangat kependekaran, kedisiplinan, dan pengabdian. Semua itu bukan sesuatu yang boleh ditinggalkan hanya karena zaman berubah.

Tetapi akar saja tidak cukup. Pohon harus tumbuh. Cabang harus menjulang. Daun harus terus membuka diri terhadap cahaya. Begitu pula Tapak Suci.

Modern berarti berani memperbaiki tata kelola, memanfaatkan teknologi, membangun sistem pembinaan yang lebih profesional, dan membaca perubahan zaman.

Mandiri berarti tidak terus-menerus bergantung. Organisasi harus memiliki sumber daya, kader, sistem pembinaan, serta kekuatan ekonomi yang memungkinkan gerak organisasi berlangsung berkelanjutan.

Sedangkan mendunia berarti membawa Tapak Suci keluar dari batas geografis Indonesia tanpa kehilangan identitasnya.

Bukan sekadar menjadi perguruan pencak silat yang dikenal di berbagai negara.

Lebih dari itu, membawa nilai-nilai akhlak, persaudaraan, sportivitas, dan kemanusiaan ke panggung dunia.

Itulah tantangan sesungguhnya. Bagaimana menjadi modern tanpa tercerabut dari akar. Bagaimana menjadi mendunia tanpa kehilangan jati diri. Bagaimana berkembang tanpa meninggalkan tradisi.

Hari mulai beranjak malam ketika saya meninggalkan arena Muktamar. Lampu-lampu kampus masih menyala. Beberapa peserta masih berbincang. Sebagian lainnya bergegas menuju tempat istirahat.

Saya berjalan keluar dengan pikiran yang justru semakin penuh. Muktamar yang saya saksikan hari itu membuat saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: kekuatan Tapak Suci tidak semata-mata terletak pada jumlah anggotanya.

Bukan pula hanya pada banyaknya cabang atau luasnya jaringan. Kekuatan terbesar itu mungkin justru berada pada modal sosial yang tidak mudah dihitung. Persaudaraan. Tradisi musyawarah. Kedewasaan berdialog. Dan kemampuan mempertemukan generasi yang berbeda dalam satu tujuan.

Semarang hari itu bukan sekadar tuan rumah Muktamar. Kota ini menjadi saksi bagaimana ribuan pendekar datang membawa cerita dari daerah masing-masing, lalu duduk dalam satu rumah besar untuk membicarakan masa depan organisasi.

Mereka datang dengan pengalaman. Mereka datang dengan gagasan. Mereka datang dengan perbedaan. Tetapi mereka pulang dengan satu ikatan yang sama. Persaudaraan.

Saya meninggalkan arena Muktamar bukan hanya dengan catatan tentang jalannya persidangan. Saya membawa sesuatu yang lebih sulit ditulis dalam berita: keyakinan bahwa organisasi akan tetap kuat selama manusia-manusia di dalamnya masih mau saling menghormati.

Sebab tradisi tanpa persaudaraan akan menjadi kering. Modernitas tanpa akar akan mudah kehilangan arah. Dan organisasi tanpa amanah akan kehilangan makna.

Tapak Suci kini berdiri di persimpangan penting. Satu kaki berpijak pada tradisi. Satu kaki melangkah menuju masa depan. Di antara keduanya ada satu jembatan yang harus terus dijaga: persaudaraan.

Barangkali itulah pelajaran paling dalam dari Muktamar XVI. Bahwa menjadi besar bukan hanya tentang seberapa jauh organisasi mampu melangkah.

Tetapi juga tentang seberapa kuat ia menjaga akar, merawat orang-orang di dalamnya, dan memastikan bahwa setiap langkah menuju masa depan tetap membawa nilai yang diwariskan para pendahulu.

Semarang malam itu menyisakan satu keyakinan: Tapak Suci boleh berubah, berkembang, bahkan mendunia. Tetapi selama akar tradisi tetap hidup dan persaudaraan terus dirawat, ia tidak akan kehilangan jalan pulang. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 08/08/2026 05:45
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu